Sasya menyesup teh hangat. Pandangannya kosong menatap
peralatan makan yang tertata rapih di meja makannya. Ia mengingat kejadian
kemarin pagi di kampusnya, saat ia tanpa sengaja menubruk seorang lelaki di
depan fakultas Ilmu Teknologi hingga buku-buku dalam pelukannya
terjatuh—berserakan di lantai. Ia dan lelaki itu sempat terjebak dalam tatapan.
Kemudian lelaki berbadan tegap itu meminta maaf, lalu memunguti buku-buku Sasya
yang berserakan di lantai dan memberikannya ke Sasya.
Ah, kejadian kemarin pagi memang sulit dilupakan. Apalagi
senyum manis lelaki itu. Kumis tipis di atas bibir merahnya memperindah
senyuman lelaki itu, lelaki yang bahkan belum ia tahu siapa namanya. Sasya
menggigit bibirnya dan berharap semoga hari ini ia dapat bertemu dengan lelaki
itu lagi.
Jam delapan? Ya ampun! Lamunannya pecah, ia segera
menyiapkan buku pelajarannya dan bergegas menuju kampus.
Dalam kelas, Sasya membolak-balik lembar demi lembar novel
kesayangannya. Buku ini memang sudah ratusan kali ia baca, namun entah mengapa
masih selalu menarik dan menyentuh.
Maybe im should face
the true.
I need you to be what
I know you can be.
Dont give up on us,
don give up on love.
Dentingan piano dan suara Agnes Monica yang merayap lembut
di indra pendengaran Sasya, membuatnya semakin larut dalam kisah yang ia baca.
Ipod dan novel memang selalu menjadi teman setianya, setiap saat.
Jam kampusnya telah selesai. Ia bergegas menuju tempat
parkir. Ketika sampai ia melihat aksi pencurian, mobil sedan hitam yang
terparkir rapih hendak dicuri oleh seseorang, asing, yang tak Sasya kenal.
Ia segera mengambil sikap. Bermaksud ingin menjadi pahlawan,
super hero atau semacamnya. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari sesuatu
yang bisa ia jadikan senjata untuk melumpuhkan dan menggagalkan aksi pencurian
itu.
Pandangannya terhenti pada sebuah balok kayu di bawah pohon
yang lumayan besar. Ia meraihnya, dan menghampiri si pelaku. Bermaksud ingin
menghantamnya. Namun, sial ternyata si pelaku menyadari aksi Sasya, Ia mengambil
sebilah pisau yang sudah disiapkan dalam saku jaketnya dan menikamnya ke tubuh
mungil Sasya.
Menyadari tindakannya sudah di luar batas, si pelaku kabur.
Sasya terkejut, melihat darah yang mengalir dari balik
bajunya, samasekali tak ia bayangkan bahwa akan terjadi seperti ini. Perlahan ia
merasa lemas, pandangannya mulai gelap. Balok kayu yang sedari tadi ada dalam
genggamannya, terlepas. Seketika tubuhnya telah terkapar di lahan parkir
kampusnya.
Artono berjalan santai. Headset yang cukup besar, bermotif
Mickey Mouse, kartun yang sangat populer dalam Disney menempel pekat, menutupi
seluruh bagian telinganya. Hentakan bass dari lagu Whip Last milik Metalica,
memenuhi indra pendengarannya. Ia begitu menyukai lagu-lagu keras seperti ini,
tangannya menghentak-hentak di udara mengikuti hentakan bunyi drum dari lagu
yang sedang ia dengarkan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat ada seseorang yang
sedang tergeletak lemah di sebelah mobilnya. Ia memicingkan mata sipitnya. Tanpa
pikir panjang Artono segera memopong tubuh gadis itu ke dalam mobilnya, dan
membawanya ke rumah sakit.
Sasya tersadar. Ia bingung, tangannya sudah di penuhi jarum
infus. Ia sulit mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ia melihat ada luka
tusuk di bagian perut sebelah kirinya. Ia meringis. Sasya sungguh benci dengan
suasana rumah sakit, bau obat-obatan perlahan merayap dan tercium olehnya.
Darah. Perban. Semua hal itu membuat pikirannya kacau, ia memang memiliki
trauma dengan rumah sakit. Dulu, ketika masih kecil. Ia pernah di rawat karena
penyakit demam berdarah, hal itu membuatnya kapok dan tak ingin lagi berada di
rumah sakit. Ia beranjak, perlahan berusaha bangkit dari tempat tidur yang di
selimuti sprei berwarna hijau, khas rumah sakit.
Sasya meremas perutnya, terasa sangat sakit. Ia terjatuh di
lantai. Tiba-tiba datang seorang lelaki merangkul tubuhnya dan menuntun Sasya
kembali ke atas tempat tidur. Lelaki ini, lelaki yang sedang menuntun Sasya
kembali ke tempat tidur adalah lelaki yang tadi pagi ada dalam lamunannya.
“Kamu jangan kemana-mana dulu, karena kata dokter luka kamu
masih belum sembuh,” Ucap lelaki bermata sipit dan berkulit putih di
hadapannya, sambil menyelimuti tubuh Sasya dengan selimut rumah sakit.
Sasya tak menjawab perkataan lelaki itu. Ia masih sibuk
memandangi wajah lelaki itu—ia melamun.
“Yaudah, kamu istirahat dulu. kalo perlu apapun, panggil aku
aja. Aku ada di depan,” Ucapnya, memecah
lamunan Sasya.
“Oh, iya, OK. Terimakasih, ya. Bytheway, kamu siapa? Dan,
kok aku bisa ada disini, ya?”
“iya, namaku Artono. Aku nemuin kamu dalam keadaan pingsan
di samping mobilku. Aku takut kamu kenapa-kenapa, makanya aku bawa kamu ke
rumah sakit,”
Mobilnya? Berarti kemarin itu mobil miliknya, yang hampir di
curi, “Oh, berarti mobil itu punya lo, ya, yang hampir di curi.”
Artono mengangkat alisnya, “Hampir dicuri, maksudnya?”
Sasya menjelaskan semua kronologinya secara jelas.
Mendengarnya, Artono merasa sangat bersalah dan sangat berterimakasih dengan
Sasya, karena niat baik ingin menyelamatkan mobil miliknya Sasya jadi harus
menjadi pasien rumah sakit.
Melihat rasa terimakasih dan tanggung jawab dari artono yang
sangat besar. Sasya merasa senang, meskipun terlihat seperti pahlawan
kesiangan, setidaknya ia berhasil menggagalkan upaya pencurian mobil Artono.
Sudah hampir tiga hari Sasya dirawat, kini dia sudah cukup
tahu bahwa lelaki misterius yang selalu ingin ia ketahui—Artono, adalah lelaki
yang baik dan cukup menarik. Setiap malam, Artono selalu berada di sisi tempat
tidur Sasya, rela menahan kantuk untuk menjaga Sasya sepanjang malam. Setiap
jam makan tiba, Artono selalu sedia menyuapi Sasya dan mengajaknya berbincang
dengan perbincangan yang cukup menarik khas Artono. Ah, mungkinkah cinta tumbuh
secepat ini? Tapi, entahlah, kini yang Sasya tahu adalah ia jatuh cinta kepada
sosok misterius yang kini telah ia ketahui segalanya—Artono.
Lo enggak boleh jatuh
cinta secepat ini, sya! Lo belum tahu, kan, dia siapa?
Enggak, Sya. Enggak
apa-apa, kok. Ini mungkin cara Tuhan mempertemukan kalian, lagipula apakah
sifat over perhatiannya Artono kepadamu tiga hari belakangan ini belum cukup
untuk membuktikan bahwa dia juga punya, setidaknya sedikit bibit cinta untukmu?
Cinta gak secepat dan
seburu-buru ini, Sya. Lo pernah jatuh sebelumnya, karena terlalu cepat
mendefinisikan kebaikan seseorang sebagai cinta. Dan, akhirnya? You fall in
down!
Dua sisi dalam diri Sasya saling beradu argumen di pikiran
Sasya. Seperti biasanya.
Hari ini, dokter sudah mengizinkan Sasya untuk pulang karena keadaannya sudah 100% membaik. Artono menggenggam tangan
Sasya erat, seakan tak ingin Sasya yang baru pulih itu terjatuh. Ia menuntun
Sasya kedalam mobil dan mengantarnya pulang.
Sejak hari itu, mereka, Sasya dan Artono, semakin dekat.
Kedekatan mereka bukan sekedar pertemanan, tapi lebih dari itu. Setidaknya
dalam pikiran Sasya seperti itu. Ah, sudahlah, masalah dia akan menjadi milikku
atau tidak, biarkan Tuhan yang menjawabnya, seiring berjalannya waktu.
Lima tahun kemudian, semua masih sama, semua masih indah.
Artono dan Sasya masih dekat, mengikat dalam hubungan yang mereka sebut
persahabatan. Bedanya, kini Artono telah memiliki seorang kekasih, kekasih
terbaik untuk dirinya, namanya Tasya. Mereka telah menjalin hubungan selama
tiga tahun. Selama itulah Sasya selalu menjadi pahlawan yang akan datang tepat
waktu untuk memeluk dan menyeka air mata Artono saat ada masalah dengan
kekasihnya, Tasya. Mencari celah yang tepat untuk membuat makna dirinya di hati
Artono yang sudah terisi penuh dengan sosok Tasya.
Seiring berjalannya waktu, cinta yang mulanya hanya berupa
benih, kini mulai menyatakan bentuknya dalam hati Sasya. Namun, Sasya hanyalah
gadis kampungan yang belum paham betul apa itu cinta? Jika di banding dengan
Tasya, Sasya hanyalah bilangan nol besar—tidak ada apa-apanya. Sasya menyadari
hal itu.
Tidak ada yang bisa Sasya lakukan, selain memendam, dan
menyeka air matanya sendirian ketika melihat Artono bahagia dengan kekasihnya
selama tiga tahun terakhir persahabatan mereka.
Sasya berdiri di lorong tempat biasa ia bertemu dan menghabiskan
banyak waktu dengan Artono, sahabat baiknya yang ia cintai. Sudah lebih 10
menit, namun Artono belum juga datang. Padahal kemarin mereka sudah sepakat
bertemu disini jam sepuluh. Sasya terus membathin.
“Hey, sya. Sorry aku telat, hehe,” Ujar Artono ringan,
dengan senyum khasnya.
“Iya, enggak apa-apa, kok,” Ketus Sasya jutek, lalu
memalingkan wajahnya, “Oh, ya. Tasya mana? Tumben gak ikut, biasanya ngintilin
kamu terus?”
Artono sangat paham sifat sahabatnya itu, ia hanya
tersenyum, “Yuk, ikut aku sebentar,” Ujarnya sambil menarik tangan Sasya penuh
antusias menuju tempat yang masih ia rahasiakan.
“Gimana, sya? Romantis, enggak?” Artono melontarkan
pertanyaan sambil menyisipkan senyum yang penuh arti untuk Sasya.
Sasya bingung, entah apa artinya senyuman itu? Dan untuk apa
Artono membawanya ke cafe yang sungguh romantis ini tanpa Tasya? Detak
jantung Sasya mulai melenceng dari ketukan normal, “iya, romantis banget.”
Artono membawa Sasya ke sebuah cafe di daerah Ancol, cafe
ini memang menyuguhkan pemandangan yang sangat romantis. Karena berada di ruang
terbuka dan menghadap langsung ke laut ancol yang luas, maka dari cafe ini
mereka bisa menyaksikan indahnya pemandangan matahari yang meredup—Sunset.
“Syukur deh, aku
seneng dengernya.”
“Memang kenapa, kok ngajak aku ke tempat ini, Ton?”
“Untuk melihat senja, romantis, kan?”
“Iya, romantis.”
“Terimakasih, ya, Sya,” ujar Artono sambil memalingkan wajah
hangatnya ke arah matahari yang sudah hampir menghilang.
“Terimakasih, untuk apa?”
“Aku mau melamar Tasya disini. Aku mau menikah dengan dia,
Sya.”
Sasya terdiam. Ia terperosok ke dalam jebakan yang dibuatnya
sendiri. Jebakan yang mirip lumpur isap yang siap menelannya dan tentu saja membuatnya sesak.
“Terimakasih, ya. Aku tahu banget kalo kamu itu penyuka
senja. Dan aku ngajak kamu kesini buat mastiin aja, senjanya indah atau enggak.
Aku mau semuanya sempurna besok.” Sambung Artono.
Dalam senyum, mata Sasya mulai berkaca. Ia memang pandai
dalam hal menyembunyikan air mata, namun kali ini berbeda, rasanya begitu pilu.
Hatinya seperti tersambar petir, rasanya berakhirlah sudah semua pengorbanannya
selama lima tahun memendam rasa untuk sahabatnya.
Sasya tersenyum, “Syukur deh, gue seneng dengernya. Selamat
ya,” ia menatap mata sahabatnya dalam-dalam, seakan mencari arti dirinya dalam
kedua bola mata sahabatnya, Artono.
Dapat Sasya rasakan, kali ini Artono sangat
bersungguh-sungguh untuk melamar dan menikah dengan Tasya, kekasihnya. Tanpa
sadar, air mata telah merayap fasih, menari, menghiasi wajahnya yang telah ia
make-up sesempurna mungkin. Perkataan Artono sungguh telak menghantam perasaan
Sasya, menghancurkan rasa yang telah Sasya bangun sendirian, dalam diam.
Aku hentikan niatku,
Aku relakan hatimu,
Karena kamu
menggantung cintaku,
Maafkan aku,
keputusanku tak lagi menunggu dirimu.
Lagu Hentikan Niatku dari
Terry seakan menyayat hatinya. Merobek
dan menusuk jantungnya. Dadanya sesak, mengingat perkataan Artono saat itu. Sasya
memutuskan untuk tidak menemui Artono. Bahkan ia tak menghadiri acara
pernikahan Artono dan Tasya. Ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari
kehidupan Artono, bersama luka yang mungkin butuh waktu lama untuk
menyembuhkannya.
Perlahan, ia mulai membuka hatinya untuk lelaki lain.
Mencari sosok yang bisa menggantikan sosok Artono di hatinya. Cukup lama ia
menunggu, hingga akhirnya mucullah sosok Zura. Sosok yang mau mati-matian
memperjuangkan hati Sasya. Sosok yang jauh lebih peka dan mengerti Sasya
ketimbang Artono. Zura datang disaat yang tepat, ia datang dan menyembuhkan
luka Sasya. Menemani dan rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan Sasya.
Awalnya sulit untuk Sasya dapat memberikan tempat dihatinya
untuk Zura, namun setelah ia mendengar kabar bahwa Artono kini telah memiliki
seorang anak dari Tasya. Ia berusaha bangkit, ia tidak ingin terus bersedih dan
menunggu sosok Artono yang bahkan tak memerdulikannya.
Sasya mulai mencintai Zura dan berusaha menerima segala
kekurangannya. Setelah dua tahun, akhirnya Sasya berani menerima ajakan Zura untuk
menikah bulan ini. Sebenarnya, bayangan Artono masih sangat pekat dalam
hatinya, lukanya masih belum sembuh. Namun, ia melihat kebahagiaannya dalam diri Zura, kebahagiaan yang harus ia pertahankan. Ia harus berani melangkah
meninggalkan masalalu. Ada semangat baru dalam dirinya.
Tiba-tiba Artono mengirim pesan, ia mengajak Sasya bertemu
dan memberi tahu bahwa dirinya dan Tasya telah bercerai enam bulan lalu. Entah,
Sasya harus senang atau sedih mendengarnya? Ia menyetujui ajakan Artono untuk
bertemu.
Sasya terdiam selama perjalanan. ia tak mau membuka obrolan,
begitupun Artono. Mereka hanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Sebenarnya
rasa rindu sudah sangat menggunung di hati sasya, namun ia harus mengingat bahwa
kini dirinya telah dimiliki oleh Zura. Sasya terus bergulat dengan dirinya
untuk menahan dan menyembunyikan perasaan rindu itu di hadapan Artono.
Artono mengajak Sasya ke tempat yang sudah tidak asing
untuknya, galeri kecil terbuka tanpa atap, di belakang rumahnya. Ada sepasang
kursi rotan dan meja rotan disana. Biasa digunakan Artono untuk meletakkan teko
kopi yang selalu ia tandaskan isinya ketika sedang melukis. Tempat ini memiliki
arti tersendiri untuk mereka, dulu, saat kuliah Artono sering sekali mengajak
Sasya untuk datang kesini.
“Suka kopi, kan?” Artono menyodorkan cangkir berisi kopi
yang baru saja dibawanya dan dengan segera Sasya menyesap isinya.
“Semoga tidak terlalu pahit atau manis.”
“Enak, kok,” kata Sasya.
Wajah Artono bersemu merah.
“Boleh enggak aku ngelukis kamu, Sya?”
Sasya hanya mengangguk, kemudian mengikuti semua instruksi.
Artono beranjak dari kursinya menuju ke kanvas yang sudah terpasang pada
steger, dengan palet di tangan kirinya yang sudah diberikan cat. Artono mulai
menggoreskan catnya. Mereka terdiam beberapa saat.
Sungguh, perasaan Sasya sangat berbunga saat itu, bahagia
lagi melihatnya—Artono.
Setelah selesai dengan lukisannya, Artono memperlihatkannya
kepada Sasya.
Ketika melihat lukisannya, Sasya terdiam seperti tidak
percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Sungguh? Sasya bertanya dalam hati,
berusaha meyakinkan dirinya. Ia masih terdiam dan tak bergerak sedikitpun. Artono berdiri di sampingnya dengan senyum yang terus mengembang. Maksud
senyuman itu tentu sangat spesial. Senyuman yang tulus.
Sasya menatap lagi lukisan karya Artono, ia tak menemukan
gambar wajahnya. Di kanvas itu hanya ada warna dasar merah jambu, coretan tak
teratur, serta sebuah kalimat. Dan kalimat itulah yang membuat Sasya mematung.
Aku mencintaimu, sahabatku,
Dan jika kamu
mencintai aku,
Maka, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, selamanya.
Tulisan satu kalimat yang disusun menjadi empat baris di
dalam kanvas Artono. Sasya masih belum bisa menjawab apa-apa. Dulu, ia memang
sangat sangat sangat mencintai Artono, namun kini ia telah bersama lelaki lain,
dan mencintainya—Zura.
“Sya, aku serius. Setelah kepergian Tasya, aku baru sadar
kalo selama ini kamu yang aku butukan, Sya.” Kata Artono.
Artono meraih tangan Sasya dan menatapnya dalam-dalam. Sasya
hanya terdiam. Sesekali memerhatikan
lagi tulisan yang ada di dalam kanvas. Sejujurnya, ini adalah momen yang selama
ini ia mimpikan. Namun, semuanya telat, terlambat. Kini Sasya telah menjadi
milik Zura. Sasya melepaskan jemari tangannya dan Artono yang sedari tadi
saling bertautan. Ia menarik napas panjang; berusaha mengendalikan keadaan.
“Ton, ini semua terlambat. Sekarang aku udah milik orang
lain, bukan kamu. Dan, aku udah mengubur dalam-dalam perasaan aku dulu, buat
kamu. Selama lima tahun aku pendam semua perasaan aku untuk orang seperti kamu
yang bahkan enggak pernah peduli sama keadaan aku,” tanpa sadar, air mata Sasya
sudah mengalir deras. Nafasnya tersengal.
“Enggak ada kata terlambat untuk cinta, Sya. Cinta selalu
datang tepat waktu.” Artono menegaskan.
“Tapi, Ton.” Ada yang mengganjal di hati Sasya. Ia tak mampu
mengatakan hal ini, baginya semua ini sudah sangat terlambat.
“Sya?” Tatapan Artono mulai lembut. Dia menatap Sasya, namun
Sasya berusaha mengalihkan pandangannya.
“Maaf, Ton.” Sasya memegang wajah Artono, sahabat yang
sedari dulu ia cintai, sumber air matanya sebelum hadirnya sosok Zura, “Enggak
bisa, Ton. Aku minta maaf, kamu sudah sangat terlambat.” Air matanya belum
surut.
“kenapa, Sya?”
Sasya hanya menggeleng, dia meninggalkan Tono dengan
perasaan bersalah. Berkali-kali ia menyeka air matanya, ketika membalikkan
badan dan meninggalkan Artono. Ia berharap keputusan yang ia ambil ini bukanlah
keputusan yang salah. Ia tak ingin menyakiti hati Zura yang sungguh-sungguh
telah mencintainya, menjadi pengobat luka Sasya karena Artono. Walau di dalam
hatinya, ia masih mencintai Artono. Namun, ia yakin. Bahwa yang
sebenar-benarnya Tuhan ciptakan untuk menemaninya adalah Zura. Bukan Artono.
Artono tahu ini kesalahannya dan mungkin akan sulit untuknya
melupakan hal ini. Namun, bagaimanapun juga
ia harus menerima keputusan Sasya. Ia mengerti rasa sakit yang kini ia
rasakan, tidak sesakit perasaan Sasya yang selama lima tahun dengan sabar
mencintai dirinya dalam diam. Ia harus menjalaninya.
Mencintai, jauh lebih
sulit daripada dicintai.
Setidaknya itulah yang dirasakan Sasya.
Sebelumnya, Sasya telah menjadikan Artono sebagai pemeran
utama dalam hatinya. Namun, Artono menyia-nyiakan dan mengeraskan hatinya untuk
Sasya. Dan kini semua berbalik, Tuhan mengizinkan Artono juga merasakan luka yang dulu ia torehkan pada hati Sasya.