CHOOSE YOUR LANGUAGE

Sunday, 1 November 2015

Rahmad Yadi


Hari ini, tepat empat puluh hari kepergianmu. Hari minggu pagi, tepatnya jam 09.00, aku mendapat kabar tentang kepergianmu. Saat itu, aku sama sekali tidak memercayai kabar bodoh itu, karena kupikir itu hanya sebuah guyonan tolol yang sama sekali tidak membuatku tertawa. Segera kubuka BBM dan mengetik pesan untukmu dengan penuh keyakinan bahwa kamu akan membalas pesanku kurang dari satu menit, seperti biasanya. Namun, ternyata salah, setelah begitu banyak teks dan pesan suara yang kukirim untukmu, tak ada satupun yang kaubaca. Aku mulai gelisah, kekhawatiranku telah melewati batas normal. Tanpa berpikir panjang aku langsung bergegas menuju rumah orang tuamu, dan kostmu. Tapi, usahaku tak membuahkan hasil. Sampai akhirnya, seseorang mengirimkan foto-foto prosesi pemakamanmu, saat melihatnya, seketika tubuhku lemas, hati ini seperti tersambar petir, seperti ada sesuatu yang memenuhi rongga pernafasanku.

Entah sudah berapa banyak air mata yang terjatuh, separuh karena aku belum bisa mengikhlaskan kepergianmun dan separuh lagi karena penyesalan. Iya, penyesalan karena aku belum sempat membahagiakanmu.
Sejak hari itu, aku datangi lagi tempat-tempat dulu yang pernah ada ukiran-ukuran kenangan manis antara kita. Patung Kartini di Monas, Pantai Marunda, Food court Mall Artha Gading, Kost Ibu Tanti di Plumpang, PT. Dong Kwang KBN, perahu penyebrangan (getek) di kali daerah Plumpang, danau sunter, dan dock 88 Mall La Piazza. Di setiap tempat itu, pernah ada tawamu, tawaku, tawa kita.

Sahabatku yang egois, masih ingatkah waktu dulu, saat kita sama-sama bekerja di pabrik baju yang mempekerjakan kita seperti budak. Dimana kita harus berdiri selama 12 jam menahan kantuk di hadapan mesin printing yang panas? Masih ingat permen rujak yang selalu kita bawa ke tempat kerja untuk menghilangkan rasa kantuk? Masih ingat warung nasi di depan pabrik? Dulu kita sering makan disini, segelas cappucino dan sepiring nasi dengan bihun selalu menjadi menu makan kita. Disini jari kelingking kita pernah saling mengikat dan mengunci satu sama lain sambil mengucap janji bahwa kita akan selalu bersama, kita akan berjuang sama-sama hingga mencapai kesuksesan. Bagiku, janji yang kita ucapkan saat itu seperti mantra yang bahkan sampai saat ini masih menjadi motivasiku untuk terus maju, bergerak mengejar mimpiku.

Tapi, ternyata Tuhan tidak mengizinkan kamu untuk memenuhi janji itu, Dia sudah memiliki rencana yang lebih indah dari pada rencana yang telah kita ucapkan dan Dia lebih menyayangimu dari pada aku atau siapapun di dunia ini. Tuhan tidak ingin lagi melihatmu merasakan sakit, Dia tak ingin lagi melihatmu meminum begitu banyak butir obat setiap hari. Kini, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menangis, belajar mengikhlaskan dan selalu mendoakanmu. Meski aku tau dan yakin jika kamu juga pasti tau bahwa bukan begini caranya untuk pergi.

Terimakasih Rahmat Yadi bin Sanagi, karena sudah menjadi bagian dalam bait-bait kehidupanku, banyak pelajaran yang kauberikan untukku melalui air mata dan canda tawa kita selama 6 tahun terakhir kehidupanmu. Dan, Tuhan, kau telah merenggut dia dari hidupku dan membawanya kedalam pelukanmu. Maka, kumohon berikanlah dia kehidupan yang baik disana, tempatkanlah dia di tempat yang indah disana, dan sampaikan pesanku untuknya; jangan pernah lupakan semua kenangan diantara kita, sampai nanti ketika takdir mengizinkanku bertemu lagi dengan dia, di sana, dalam pelukanmu.

Selamat jalan sahabatku, namamu akan selalu ada dalam setiap rapalan doaku. Berbahagialah disana. 

Thursday, 4 June 2015

Figuran Bodoh Dalam Kisah Yang Salah


Malam ini aku terjaga, entah mengapa rasa kantuk enggan menghampiri diriku. Berkali-kali ku mengganti posisi tidurku, mencari posisi yang nyaman agar dapat tertidur. Namun, sama sekali tak membuahkan hasil. Aku terduduk, pandanganku mengarah ke jarum jam yang menunjukan pukul 4.00 pagi.

Aku menghela nafas. Dan, beranjak dari tempat tidurku menuju ke lemari pendingin untuk mengambil secangkir air. Ya, mungkin dengan minum aku bisa segera mengantuk. Sambil menggenggam cangkir, ku ambil ponsel dan headset. Ibu jariku mulai memilah lagu, dan memutarnya.

05.00 pagi. Jemariku menuntun untuk membuka folder foto yang selama ini bahkan tak ku sadari ada di ponselku, “Kawah Putih, Bandung”. Tanpa menunggu aku segera membukanya, aku tahu dan masih sangat ingat momen ini. Tempat ini adalah saksi air mata yang berhasil ku sembunyikan dengan rapih di hadapanmu. Tempat ini adalah saksi saat terakhir kali kita bertemu.

Sungguh, rasanya seperti ada yang menggumpal di rongga pernafasanku. Sesuatu yang membuat bulir air mataku menetes. Ku gulirkan satu persatu foto-foto kita, di temani dengan air mata yang sudah hampir setahun belakangan ini tak pernah menyembul dari kelopak mataku. Kamu, memang selalu kamu yang menjadi penyebab air mata ini terjatuh.

Saat itu, kamu berlagak seakan semuanya baik-baik saja. Tanpa mau tahu perasaanku, kamu bilang bahwa kamu telah memiliki kekasih. Tanpa memerdulikan diriku, kamu menceritakan kisah cintamu dengannya di hadapanku. Patuha Resort, di kolam renang air hangat yang persis menghadap ke arah kawah, kamu meminta waktuku, kamu merangkulku, melontarkan guyonan semalaman penuh. Hingga, akhirnya bibir tipismu memaksaku untuk mendengar ayat yang mematikan perasaanku. Bodohnya aku yang sempat mengira bahwa malam itu akan menjadi sangat indah. Kamu bercerita tentang kisah indah kalian, tanpa mau memerdulikan rasa sakit yang menusuk disetiap kata-kata yang kau ucapkan. Aku seakan terjebak dalam perangkapku sendiri.

Ku longgarkan rangkulan tanganmu, untuk menggeser posisi dudukku agar berhadapan denganmu. Menatap dalam-dalam wajahmu, mencoba menemukan celah yang mungkin untuk diriku. Berlagak seakan aku sungguh-sungguh mendengarkan ceritamu.
Hatiku terus berperang dengan kenyataan, hingga tak ku sadari air mata telah menari di kedua pipiku. Bodoh! Kamu adalah manusia terbodoh karena memercayai bahwa air mataku saat itu adalah air mata haruku karena mendengarkan kisah indah kalian.

Ini bukan salahmu, ini salahku yang terlalu mudah menganggap pelukan, ciuman dan perhatianmu adalah bentuk lain dari cinta. Itu adalah saat indah yang menyakitkan untukku. Sejak saat itu, aku menyerah, aku berhenti. Itu adalah detik terakhirku menantimu. Aku pergi, ini bukan kisahku. Disini, aku hanyalah seorang figuran bodoh yang larut dalam kisah yang salah.

Ku usap air mataku. Cahaya mentari pagi sudah menyapa lembut dari balik jendela. Biarlah aku merasakan akibat kebodohanku, bersama rasa sakit dan rindu ini.

Wednesday, 11 February 2015

Faith (Cinta Beda Agama)



Sasya merapikan jilbabnya. Hari itu matahari bersinar ganas di atas kepala warga Jakarta. Sudah hampir dua jam dia duduk di cafe dalam Stasiun Manggarai menunggu Panji, wajah cantik yang tak tergores make-up sedikitpun itu memang selalu teduh untuk dipandangi. Sesekali dia arahkan pandangannya ke luar jendela, menyelidik dan mencari Panji pada setiap orang yang sibuk berlalu-lalang di Stasiun yang cukup nyaman ini.
Dia mulai gelisah. Tangannya mulai sibuk mengetik pesan singkat untuk Panji, sebelumnya dia sudah menghubungi nomor ponsel Panji. Namun, tidak ada jawaban.

“Hai. Maaf, ya. Tadi di jalan macet banget. Akhirnya aku lari kesini.” ucap lelaki berbibir tipis itu. Peluh di keningnya memang tak menandakan bahwa perkataannya itu bohong.

Sasya tak menjawab sepatah kata pun.  Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Panji.

“Sya, tunggu dulu, dong. Jangan marah gini,” Panji mengejar Sasya dan menjajarkan posisi berjalan mereka.

Sasya menghentikan langkah kakinya dan menghadap Panji, “Sejak kapan aku bisa marah sama kamu?” Ujarnya sambil tersenyum.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju salah satu mall di bilangan jakarta Pusat. Seperti biasa, mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama, bagi mereka itu adalah kebahagiaan lain. Kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan mata uang manapun.

Begitulah mereka—Sasya dan Panji—saling mencintai, namun tak saling menyatakan. Sebelumnya mereka tak saling mengenal, entah bagaimana caranya, keakraban terjadi begitu singkat. Mereka berkenalan lewat Dunia Maya, saling bertukar perhatian melalui pesan singkat, dan membangun perasaan berdasarkan suara di ujung sambungan telephone. Saat ini, genap enam tahun mereka saling menutupi cinta dengan status persahabatan.

Sasya gadis muslimah yang tutur bahasa dan prilakunya sungguh dapat membuat siapapun jatuh cinta. Baginya, Dzikir adalah nafas. Dan, ia percaya bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH dan Muhammad S.A.W adalah utusan ALLAH yang esa. Wajahnya yang teduh selalu tampak lebih indah dengan sisipan senyum yang tenang. Bagi Panji, Sasya adalah malaikat yang di dorong tuhan untuk hidup dalam dunia manusia.

Panji pria berbadan tegap, bibir tipis, dan wajah agak oriental ini memiliki prilaku yang sopan dan dewasa. Gadis manapun, pasti akan mudah mencintai sosoknya. Baginya, Jesus adalah juru selamat yang kelak akan menebus dosa-dosanya di akhir zaman. Ia percaya bahwa ALLAH adalah tuhan yang maha satu, dan Jesus adalah putra tunggal Tuhan. Bagi Sasya, Panji adalah segalanya. Meskipun ia tahu bahwa Panji—lelaki yang dia cintai tidak akan pernah bisa menjadi imamnya dalam sholat.

Mereka berbeda, namun tetap saling mencintai. Begitulah mereka. Cinta mereka satu, namun perbedaan keyakinan membuat cinta yang seharusnya sederhana menjadi sangat rumit.  Telah banyak hari mereka lalui dan semua selalu sama. Perbedaan ini selalu menjadi topik yang selalu mereka hindari dalam perbincangan. Ini adalah keadaan yang menyakitkan, namun indah yang mereka rasakan. Panji dan Sasya saling menemukan kebahagiaan dalam diri mereka masing-masing, meski sejauh ini cinta mereka tak beranjak kearah manapun.

Mereka selalu bahagia ketika bersama, sampai akhirnya takdir memainkan peran antagonisnya dalam kisah mereka.

“Mau kamu bawa kemana hubungan kalian? Kalian berharap dapat bersatu dalam perbedaan? Nihil!”

“Papah enggak ngerti apa-apa tentang Sasya. Dan, papah enggak berhak ngelarang Panji untuk bahagia.” Bentak panji.

“Papah enggak pernah ngelarang kamu bahagia, Ji. Cinta memang penuh pengorbanan, tapi bukan berarti harus mengorbankan keyakinanmu!” Bentak Papah panji dengan nada tinggi.

Suasana rumah memanas.


“Cinta memang penuh pengorbanan, tapi bukan berarti harus mengorbankan keyakinanmu.”

Ucapan sang Papah berkali-kali terngiang dalam benak Panji, dia tahu betul bahwa apa yang diucapkan Papahnya adalah benar. Cinta kepada keyakinan adalah cinta terhadap Tuhan. Dan, tak ada yang boleh menduakan bentuk cinta itu.

Di satu sisi, dia sangat mencintai Sasya. Di sisi lain, mereka tak dapat bersatu dalam perbedaan ini. Dan, kemungkinan terbesar mereka bersatu adalah dengan cara salah satu dari mereka harus mengorbankan keyakinan yang selama ini selalu menjadi fondasi dalam hidup mereka.  Jelas mereka tidak akan pernah melakukan hal itu. Keyakinan adalah hal utama yang perlu dipertahankan dan dijaga. Mungkin ini adalah ujian dari Tuhan untuk melihat kesungguhan Panji dan Sasya dalam menjaga iman terhadap Agamanya masing-masing kepada ALLAH (Tuhan yang maha satu).

Sasya tahu semua yang ada di dalam benak Panji. Sejak lama, ini adalah hal yang paling ia takutkan. Takdir menempatkan mereka diantara dua pilihan, Cinta atau Agama. Mereka jelas memilih berpisah dan saling melupakan demi Agama, demi Tuhan mereka yang satu.

Orang tua panji sudah setuju untuk menjodohkan Panji dengan Angel (Jemaat Gereja yang sama dengan keluarga Panji). Mereka tak ingin ada hal yang terjadi di luar keinginan mereka. Agama adalah hal utama yang harus dijaga sebaik mungkin.  Siapapun juga begitu. Dan, Panji juga menerima perjodohan itu karena Tuhan. Untuk menjaga imannya kepada Tuhan yang maha esa.

Mereka—Sasya dan Panji—terluka. Setelah jutaan detik mereka lalui bersama, ini adalah titik dimana mereka benar-benar disadarkan oleh perbedaan yang selama ini selalu mereka hindari, bahkan dalam perbincangan. Mereka selalu tahu dan yakin bahwa Tuhan itu satu, namun perbedaan dalam hal keyakinan bukanlah hal tabu yang patut dihindari.

Hari itu, Sasya membasahi tubuhnya dengan air wudhu, dia mensucikan diri untuk menghadap sang Khalik dalam Sholat. Dia bentangkan sajadah ke arah Ka’Bah. Dia balut tubuhnya dengan mukena berwarna putih sebagai lambang kesucian. Bibirnya mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan fasih dan lirih.
Di tempat yang berbeda, Panji telah duduk diantara para jemaat di Gereja tempat biasa dia dan keluarga menjalankan ibadah. Bibirnya mulai melantunkan Pengakuan Iman Rasuli bersamaan dengan para jemaat lain. Matanya terpejam, pikirannya hanya tertuju pada Tuhan, sosok segalanya dalam hidup siapapun.
Sasya telah selesai menunaikan Sholatnya. Ia meraih tasbih yang terletak di ujung sajadahnya, bibirnya mulai melantunkan nafas, melantunkan Asma-ul Husna. Segala pujian bagi ALLAH. Ya, segala pujian memang hanya untuk ALLAH (Tuhan yang maha esa). Air matanya mengalir, merayap lembut menjajaki bekas air wudhu yang telah menyerap di wajah teduh Sasya. Dalam Sholatnya, Sasya menangisi kisah cintanya. Dalam sujudnya dia meminta kekuatan kepada ALLAH yang maha besar agar dapat menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada dan rasa sabar. Dalam rapalan kalimat sakral yang disebut doa, tersisip nama Panji. Ia memohon agar kelak lelaki yang pernah mengisi hidupnya itu bahagia setelah menikah dengan jodohnya—Angel—kekasih seagamanya. Begitupun Panji, seusai beribadah. Dia merunduk tenang, dia menggenggam Rosarionya begitu erat, ada banyak harapan di dalamnya. Dia memohon kepada Jesus, juru selamatnya, agar sosok tercintanya—Sasya—dapat berbahagia, meski tanpa dirinya. Ia memohon agar ALLAH mereka yang satu juga menjaga kebahagiaan Sasya. Ini memang sudah harus terjadi, perbedaan bukanlah hal sederhana yang dapat ditaklukan. Perbedaan bisa menjadi sumber air mata. 

Air mata Sasya terjatuh, membasahi Tasbih yang selalu tesisip Asma ALLAH S.W.T di dalamnya. Dia harus menerima kenyataan yang telah Tuhan atur dalam takdir. Begitu juga Panji, Rosarionya telah basah dengan air mata dalam genggamannya. Di tempat yang berbeda, mereka sama-sama mencintai dan mendoakan. Namun, tak dapat bersatu karena perbedaan keyakinan. Tak ada yang bisa disalahkan dalam kisah mereka, Tuhan selalu benar, dan setiap keyakinan selalu mengajarkan hal-hal baik untuk umatnya. Kisah ini terjadi begitu saja, terlalu cepat, dan menyakitkan. Tuhan selalu punya cara untuk menguji umatnya.

Lakum dinukum waliyadin.
Agamamu, Agamamu. Agamaku, Agamaku. :')






Thursday, 29 January 2015

Hentikan Niatku



Sasya menyesup teh hangat. Pandangannya kosong menatap peralatan makan yang tertata rapih di meja makannya. Ia mengingat kejadian kemarin pagi di kampusnya, saat ia tanpa sengaja menubruk seorang lelaki di depan fakultas Ilmu Teknologi hingga buku-buku dalam pelukannya terjatuh—berserakan di lantai. Ia dan lelaki itu sempat terjebak dalam tatapan. Kemudian lelaki berbadan tegap itu meminta maaf, lalu memunguti buku-buku Sasya yang berserakan di lantai dan memberikannya ke Sasya.

Ah, kejadian kemarin pagi memang sulit dilupakan. Apalagi senyum manis lelaki itu. Kumis tipis di atas bibir merahnya memperindah senyuman lelaki itu, lelaki yang bahkan belum ia tahu siapa namanya. Sasya menggigit bibirnya dan berharap semoga hari ini ia dapat bertemu dengan lelaki itu lagi.

Jam delapan? Ya ampun! Lamunannya pecah, ia segera menyiapkan buku pelajarannya dan bergegas menuju kampus.


Dalam kelas, Sasya membolak-balik lembar demi lembar novel kesayangannya. Buku ini memang sudah ratusan kali ia baca, namun entah mengapa masih selalu menarik dan menyentuh.

Maybe im should face the true.
I need you to be what I know you can be.
Dont give up on us, don give up on love.

Dentingan piano dan suara Agnes Monica yang merayap lembut di indra pendengaran Sasya, membuatnya semakin larut dalam kisah yang ia baca. Ipod dan novel memang selalu menjadi teman setianya, setiap saat.

Jam kampusnya telah selesai. Ia bergegas menuju tempat parkir. Ketika sampai ia melihat aksi pencurian, mobil sedan hitam yang terparkir rapih hendak dicuri oleh seseorang, asing, yang tak Sasya kenal.

Ia segera mengambil sikap. Bermaksud ingin menjadi pahlawan, super hero atau semacamnya. Pandangannya menyapu sekeliling, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata untuk melumpuhkan dan menggagalkan aksi pencurian itu. 

Pandangannya terhenti pada sebuah balok kayu di bawah pohon yang lumayan besar. Ia meraihnya, dan menghampiri si pelaku. Bermaksud ingin menghantamnya. Namun, sial ternyata si pelaku menyadari aksi Sasya, Ia mengambil sebilah pisau yang sudah disiapkan dalam saku jaketnya dan menikamnya ke tubuh mungil Sasya.

Menyadari tindakannya sudah di luar batas, si pelaku kabur.

Sasya terkejut, melihat darah yang mengalir dari balik bajunya, samasekali tak ia bayangkan bahwa akan terjadi seperti ini. Perlahan ia merasa lemas, pandangannya mulai gelap. Balok kayu yang sedari tadi ada dalam genggamannya, terlepas. Seketika tubuhnya telah terkapar di lahan parkir kampusnya.

Artono berjalan santai. Headset yang cukup besar, bermotif Mickey Mouse, kartun yang sangat populer dalam Disney menempel pekat, menutupi seluruh bagian telinganya. Hentakan bass dari lagu Whip Last milik Metalica, memenuhi indra pendengarannya. Ia begitu menyukai lagu-lagu keras seperti ini, tangannya menghentak-hentak di udara mengikuti hentakan bunyi drum dari lagu yang sedang ia dengarkan.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat ada seseorang yang sedang tergeletak lemah di sebelah mobilnya. Ia memicingkan mata sipitnya. Tanpa pikir panjang Artono segera memopong tubuh gadis itu ke dalam mobilnya, dan membawanya ke rumah sakit.


Sasya tersadar. Ia bingung, tangannya sudah di penuhi jarum infus. Ia sulit mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ia melihat ada luka tusuk di bagian perut sebelah kirinya. Ia meringis. Sasya sungguh benci dengan suasana rumah sakit, bau obat-obatan perlahan merayap dan tercium olehnya. Darah. Perban. Semua hal itu membuat pikirannya kacau, ia memang memiliki trauma dengan rumah sakit. Dulu, ketika masih kecil. Ia pernah di rawat karena penyakit demam berdarah, hal itu membuatnya kapok dan tak ingin lagi berada di rumah sakit. Ia beranjak, perlahan berusaha bangkit dari tempat tidur yang di selimuti sprei berwarna hijau, khas rumah sakit.

Sasya meremas perutnya, terasa sangat sakit. Ia terjatuh di lantai. Tiba-tiba datang seorang lelaki merangkul tubuhnya dan menuntun Sasya kembali ke atas tempat tidur. Lelaki ini, lelaki yang sedang menuntun Sasya kembali ke tempat tidur adalah lelaki yang tadi pagi ada dalam lamunannya.

“Kamu jangan kemana-mana dulu, karena kata dokter luka kamu masih belum sembuh,” Ucap lelaki bermata sipit dan berkulit putih di hadapannya, sambil menyelimuti tubuh Sasya dengan selimut rumah sakit.

Sasya tak menjawab perkataan lelaki itu. Ia masih sibuk memandangi wajah lelaki itu—ia melamun.

“Yaudah, kamu istirahat dulu. kalo perlu apapun, panggil aku aja. Aku ada di depan,”  Ucapnya, memecah lamunan Sasya.

“Oh, iya, OK. Terimakasih, ya. Bytheway, kamu siapa? Dan, kok aku bisa ada disini, ya?”

“iya, namaku Artono. Aku nemuin kamu dalam keadaan pingsan di samping mobilku. Aku takut kamu kenapa-kenapa, makanya aku bawa kamu ke rumah sakit,”

Mobilnya? Berarti kemarin itu mobil miliknya, yang hampir di curi, “Oh, berarti mobil itu punya lo, ya, yang hampir di curi.”

Artono mengangkat alisnya, “Hampir dicuri, maksudnya?”

Sasya menjelaskan semua kronologinya secara jelas. Mendengarnya, Artono merasa sangat bersalah dan sangat berterimakasih dengan Sasya, karena niat baik ingin menyelamatkan mobil miliknya Sasya jadi harus menjadi pasien rumah sakit.

Melihat rasa terimakasih dan tanggung jawab dari artono yang sangat besar. Sasya merasa senang, meskipun terlihat seperti pahlawan kesiangan, setidaknya ia berhasil menggagalkan upaya pencurian mobil Artono.


Sudah hampir tiga hari Sasya dirawat, kini dia sudah cukup tahu bahwa lelaki misterius yang selalu ingin ia ketahui—Artono, adalah lelaki yang baik dan cukup menarik. Setiap malam, Artono selalu berada di sisi tempat tidur Sasya, rela menahan kantuk untuk menjaga Sasya sepanjang malam. Setiap jam makan tiba, Artono selalu sedia menyuapi Sasya dan mengajaknya berbincang dengan perbincangan yang cukup menarik khas Artono. Ah, mungkinkah cinta tumbuh secepat ini? Tapi, entahlah, kini yang Sasya tahu adalah ia jatuh cinta kepada sosok misterius yang kini telah ia ketahui segalanya—Artono.

Lo enggak boleh jatuh cinta secepat ini, sya! Lo belum tahu, kan, dia siapa?

Enggak, Sya. Enggak apa-apa, kok. Ini mungkin cara Tuhan mempertemukan kalian, lagipula apakah sifat over perhatiannya Artono kepadamu tiga hari belakangan ini belum cukup untuk membuktikan bahwa dia juga punya, setidaknya sedikit bibit cinta untukmu?

Cinta gak secepat dan seburu-buru ini, Sya. Lo pernah jatuh sebelumnya, karena terlalu cepat mendefinisikan kebaikan seseorang sebagai cinta. Dan, akhirnya? You fall in down!

Dua sisi dalam diri Sasya saling beradu argumen di pikiran Sasya. Seperti biasanya.

Hari ini, dokter sudah mengizinkan Sasya untuk pulang karena keadaannya sudah 100% membaik. Artono menggenggam tangan Sasya erat, seakan tak ingin Sasya yang baru pulih itu terjatuh. Ia menuntun Sasya kedalam mobil dan mengantarnya pulang.


Sejak hari itu, mereka, Sasya dan Artono, semakin dekat. Kedekatan mereka bukan sekedar pertemanan, tapi lebih dari itu. Setidaknya dalam pikiran Sasya seperti itu. Ah, sudahlah, masalah dia akan menjadi milikku atau tidak, biarkan Tuhan yang menjawabnya, seiring berjalannya waktu.


Lima tahun kemudian, semua masih sama, semua masih indah. Artono dan Sasya masih dekat, mengikat dalam hubungan yang mereka sebut persahabatan. Bedanya, kini Artono telah memiliki seorang kekasih, kekasih terbaik untuk dirinya, namanya Tasya. Mereka telah menjalin hubungan selama tiga tahun. Selama itulah Sasya selalu menjadi pahlawan yang akan datang tepat waktu untuk memeluk dan menyeka air mata Artono saat ada masalah dengan kekasihnya, Tasya. Mencari celah yang tepat untuk membuat makna dirinya di hati Artono yang sudah terisi penuh dengan sosok Tasya.

Seiring berjalannya waktu, cinta yang mulanya hanya berupa benih, kini mulai menyatakan bentuknya dalam hati Sasya. Namun, Sasya hanyalah gadis kampungan yang belum paham betul apa itu cinta? Jika di banding dengan Tasya, Sasya hanyalah bilangan nol besar—tidak ada apa-apanya. Sasya menyadari hal itu.
Tidak ada yang bisa Sasya lakukan, selain memendam, dan menyeka air matanya sendirian ketika melihat Artono bahagia dengan kekasihnya selama tiga tahun terakhir persahabatan mereka.


Sasya berdiri di lorong tempat biasa ia bertemu dan menghabiskan banyak waktu dengan Artono, sahabat baiknya yang ia cintai. Sudah lebih 10 menit, namun Artono belum juga datang. Padahal kemarin mereka sudah sepakat bertemu disini jam sepuluh. Sasya terus membathin.

“Hey, sya. Sorry aku telat, hehe,” Ujar Artono ringan, dengan senyum khasnya.

“Iya, enggak apa-apa, kok,” Ketus Sasya jutek, lalu memalingkan wajahnya, “Oh, ya. Tasya mana? Tumben gak ikut, biasanya ngintilin kamu terus?”

Artono sangat paham sifat sahabatnya itu, ia hanya tersenyum, “Yuk, ikut aku sebentar,” Ujarnya sambil menarik tangan Sasya penuh antusias menuju tempat yang masih ia rahasiakan.


“Gimana, sya? Romantis, enggak?” Artono melontarkan pertanyaan sambil menyisipkan senyum yang penuh arti untuk Sasya.

Sasya bingung, entah apa artinya senyuman itu? Dan untuk apa Artono membawanya ke cafe yang sungguh romantis ini tanpa Tasya? Detak jantung Sasya mulai melenceng dari ketukan normal, “iya, romantis banget.”

Artono membawa Sasya ke sebuah cafe di daerah Ancol, cafe ini memang menyuguhkan pemandangan yang sangat romantis. Karena berada di ruang terbuka dan menghadap langsung ke laut ancol yang luas, maka dari cafe ini mereka bisa menyaksikan indahnya pemandangan matahari yang meredup—Sunset.
  
“Syukur deh, aku seneng dengernya.”

“Memang kenapa, kok ngajak aku ke tempat ini, Ton?”

“Untuk melihat senja, romantis, kan?”

“Iya, romantis.”

“Terimakasih, ya, Sya,” ujar Artono sambil memalingkan wajah hangatnya ke arah matahari yang sudah hampir menghilang.

“Terimakasih, untuk apa?”

“Aku mau melamar Tasya disini. Aku mau menikah dengan dia, Sya.”

Sasya terdiam. Ia terperosok ke dalam jebakan yang dibuatnya sendiri. Jebakan yang mirip lumpur isap yang siap menelannya dan tentu saja membuatnya sesak.

“Terimakasih, ya. Aku tahu banget kalo kamu itu penyuka senja. Dan aku ngajak kamu kesini buat mastiin aja, senjanya indah atau enggak. Aku mau semuanya sempurna besok.” Sambung Artono.

Dalam senyum, mata Sasya mulai berkaca. Ia memang pandai dalam hal menyembunyikan air mata, namun kali ini berbeda, rasanya begitu pilu. Hatinya seperti tersambar petir, rasanya berakhirlah sudah semua pengorbanannya selama lima tahun memendam rasa untuk sahabatnya.

Sasya tersenyum, “Syukur deh, gue seneng dengernya. Selamat ya,” ia menatap mata sahabatnya dalam-dalam, seakan mencari arti dirinya dalam kedua bola mata sahabatnya, Artono.

Dapat Sasya rasakan, kali ini Artono sangat bersungguh-sungguh untuk melamar dan menikah dengan Tasya, kekasihnya. Tanpa sadar, air mata telah merayap fasih, menari, menghiasi wajahnya yang telah ia make-up sesempurna mungkin. Perkataan Artono sungguh telak menghantam perasaan Sasya, menghancurkan rasa yang telah Sasya bangun sendirian, dalam diam.


Aku hentikan niatku,
Aku relakan hatimu,
Karena kamu menggantung cintaku,
Maafkan aku, keputusanku tak lagi menunggu dirimu.

Lagu Hentikan Niatku dari Terry seakan menyayat hatinya. Merobek dan menusuk jantungnya. Dadanya sesak, mengingat perkataan Artono saat itu. Sasya memutuskan untuk tidak menemui Artono. Bahkan ia tak menghadiri acara pernikahan Artono dan Tasya. Ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan Artono, bersama luka yang mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.

Perlahan, ia mulai membuka hatinya untuk lelaki lain. Mencari sosok yang bisa menggantikan sosok Artono di hatinya. Cukup lama ia menunggu, hingga akhirnya mucullah sosok Zura. Sosok yang mau mati-matian memperjuangkan hati Sasya. Sosok yang jauh lebih peka dan mengerti Sasya ketimbang Artono. Zura datang disaat yang tepat, ia datang dan menyembuhkan luka Sasya. Menemani dan rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan Sasya.

Awalnya sulit untuk Sasya dapat memberikan tempat dihatinya untuk Zura, namun setelah ia mendengar kabar bahwa Artono kini telah memiliki seorang anak dari Tasya. Ia berusaha bangkit, ia tidak ingin terus bersedih dan menunggu sosok Artono yang bahkan tak memerdulikannya.

Sasya mulai mencintai Zura dan berusaha menerima segala kekurangannya. Setelah dua tahun, akhirnya Sasya berani menerima ajakan Zura untuk menikah bulan ini. Sebenarnya, bayangan Artono masih sangat pekat dalam hatinya, lukanya masih belum sembuh. Namun, ia melihat kebahagiaannya dalam diri Zura, kebahagiaan yang harus ia pertahankan. Ia harus berani melangkah meninggalkan masalalu. Ada semangat baru dalam dirinya.

Tiba-tiba Artono mengirim pesan, ia mengajak Sasya bertemu dan memberi tahu bahwa dirinya dan Tasya telah bercerai enam bulan lalu. Entah, Sasya harus senang atau sedih mendengarnya? Ia menyetujui ajakan Artono untuk bertemu.


Sasya terdiam selama perjalanan. ia tak mau membuka obrolan, begitupun Artono. Mereka hanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Sebenarnya rasa rindu sudah sangat menggunung di hati sasya, namun ia harus mengingat bahwa kini dirinya telah dimiliki oleh Zura. Sasya terus bergulat dengan dirinya untuk menahan dan menyembunyikan perasaan rindu itu di hadapan Artono.

Artono mengajak Sasya ke tempat yang sudah tidak asing untuknya, galeri kecil terbuka tanpa atap, di belakang rumahnya. Ada sepasang kursi rotan dan meja rotan disana. Biasa digunakan Artono untuk meletakkan teko kopi yang selalu ia tandaskan isinya ketika sedang melukis. Tempat ini memiliki arti tersendiri untuk mereka, dulu, saat kuliah Artono sering sekali mengajak Sasya untuk datang kesini.

“Suka kopi, kan?” Artono menyodorkan cangkir berisi kopi yang baru saja dibawanya dan dengan segera Sasya menyesap isinya.

“Semoga tidak terlalu pahit atau manis.”

“Enak, kok,” kata Sasya.

Wajah Artono bersemu merah.

“Boleh enggak aku ngelukis kamu, Sya?”

Sasya hanya mengangguk, kemudian mengikuti semua instruksi. Artono beranjak dari kursinya menuju ke kanvas yang sudah terpasang pada steger, dengan palet di tangan kirinya yang sudah diberikan cat. Artono mulai menggoreskan catnya. Mereka terdiam beberapa saat.

Sungguh, perasaan Sasya sangat berbunga saat itu, bahagia lagi melihatnya—Artono.

Setelah selesai dengan lukisannya, Artono memperlihatkannya kepada Sasya.

Ketika melihat lukisannya, Sasya terdiam seperti tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Sungguh? Sasya bertanya dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya. Ia masih terdiam dan tak bergerak sedikitpun. Artono berdiri di sampingnya dengan senyum yang terus mengembang. Maksud senyuman itu tentu sangat spesial. Senyuman yang tulus.

Sasya menatap lagi lukisan karya Artono, ia tak menemukan gambar wajahnya. Di kanvas itu hanya ada warna dasar merah jambu, coretan tak teratur, serta sebuah kalimat. Dan kalimat itulah yang membuat Sasya mematung.

Aku mencintaimu, sahabatku,
Dan jika kamu mencintai aku,
Maka, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, selamanya.

Tulisan satu kalimat yang disusun menjadi empat baris di dalam kanvas Artono. Sasya masih belum bisa menjawab apa-apa. Dulu, ia memang sangat sangat sangat mencintai Artono, namun kini ia telah bersama lelaki lain, dan mencintainya—Zura.

“Sya, aku serius. Setelah kepergian Tasya, aku baru sadar kalo selama ini kamu yang aku butukan, Sya.” Kata Artono.

Artono meraih tangan Sasya dan menatapnya dalam-dalam. Sasya hanya terdiam. Sesekali  memerhatikan lagi tulisan yang ada di dalam kanvas. Sejujurnya, ini adalah momen yang selama ini ia mimpikan. Namun, semuanya telat, terlambat. Kini Sasya telah menjadi milik Zura. Sasya melepaskan jemari tangannya dan Artono yang sedari tadi saling bertautan. Ia menarik napas panjang; berusaha mengendalikan keadaan.

“Ton, ini semua terlambat. Sekarang aku udah milik orang lain, bukan kamu. Dan, aku udah mengubur dalam-dalam perasaan aku dulu, buat kamu. Selama lima tahun aku pendam semua perasaan aku untuk orang seperti kamu yang bahkan enggak pernah peduli sama keadaan aku,” tanpa sadar, air mata Sasya sudah mengalir deras. Nafasnya tersengal.

“Enggak ada kata terlambat untuk cinta, Sya. Cinta selalu datang tepat waktu.” Artono menegaskan.

“Tapi, Ton.” Ada yang mengganjal di hati Sasya. Ia tak mampu mengatakan hal ini, baginya semua ini sudah sangat terlambat.

“Sya?” Tatapan Artono mulai lembut. Dia menatap Sasya, namun Sasya berusaha mengalihkan pandangannya.

“Maaf, Ton.” Sasya memegang wajah Artono, sahabat yang sedari dulu ia cintai, sumber air matanya sebelum hadirnya sosok Zura, “Enggak bisa, Ton. Aku minta maaf, kamu sudah sangat terlambat.” Air matanya belum surut.

“kenapa, Sya?”

Sasya hanya menggeleng, dia meninggalkan Tono dengan perasaan bersalah. Berkali-kali ia menyeka air matanya, ketika membalikkan badan dan meninggalkan Artono. Ia berharap keputusan yang ia ambil ini bukanlah keputusan yang salah. Ia tak ingin menyakiti hati Zura yang sungguh-sungguh telah mencintainya, menjadi pengobat luka Sasya karena Artono. Walau di dalam hatinya, ia masih mencintai Artono. Namun, ia yakin. Bahwa yang sebenar-benarnya Tuhan ciptakan untuk menemaninya adalah Zura. Bukan Artono.

Artono tahu ini kesalahannya dan mungkin akan sulit untuknya melupakan hal ini. Namun, bagaimanapun juga  ia harus menerima keputusan Sasya. Ia mengerti rasa sakit yang kini ia rasakan, tidak sesakit perasaan Sasya yang selama lima tahun dengan sabar mencintai dirinya dalam diam. Ia harus menjalaninya.

Mencintai, jauh lebih sulit daripada dicintai.
Setidaknya itulah yang dirasakan Sasya.

Sebelumnya, Sasya telah menjadikan Artono sebagai pemeran utama dalam hatinya. Namun, Artono menyia-nyiakan dan mengeraskan hatinya untuk Sasya. Dan kini semua berbalik, Tuhan mengizinkan Artono juga merasakan  luka yang dulu ia torehkan pada hati Sasya.

Monday, 26 January 2015

25 Januari



25 Januari. Aku membuka mataku dan menghela napas. Udara dingin pagi ini, memaksaku agar tak beranjak dari tempat tidur. Namun, rasa malas harus dilawan, masih ada mimpi yang harus kuperjuangkan. Hari ini, aku harus pergi ke tiga lokasi yang berbeda untuk melakukan survey jual beli. Aku segera bersiap. 

Setelah dua jam lamanya, akhirnya aku sampai di tempat tujuan pertamaku. Bukit Pelangi. Air Terjun Bidadari. Jalan yang harus kulalui sangat ekstrim, karena harus melalui jalan pegunungan yang berliku dan dikelilingi jurang. Mobil yang aku dan abangku kendarai terpaksa harus berhenti dan parkir di sebuah mesjid di daerah Bojong Koneng. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Cukup melelahkan! Ini namanya perjuangan, semangat!

Untuk menuju lokasi, kami harus melewati jalan setapak yang di kelilingi pepohonan rimbun. Hanya suara desir air dan kicauan burung yang dapat kudengar. Lumayan, setelah 30 menit berjalan kaki, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan kami. Sang pemilik villa menyambut kami dengan sangat sopan. Villa yang berada di pucuk gunung ini memang memiliki nilai jual yang sangat tinggi.

Aku meraih kamera dari dalam tasku. Kemudian menjelajah ke setiap sudut rumah untuk mengambil gambar yang nantinya akan menjadi databaseku. Langkahku terhenti di balkon belakang rumah, aku terhipnotis dengan pemandangan takjub di hadapanku. Pandanganku menyapu sekeliling, kubiarkan diriku menikmati semesta—karya tangan Tuhan.  Pemandangan oranye atap rumah seakan menjadi pola abstrak diantara hijaunya pepohonan yang luas dan diselimuti kabut putih tebal.

Aku menghela napas. Kubiarkan tubuhku menikmati segarnya udara dingin pegunungan.

Perjalanan menuju tempat indah ini memang cukup ekstrim dan melelahkan. Aku berpikir. Medan terjal, menanjak, berlubang dan berlumpur ini seperti perjalanan hidupku, hidupmu atau hidup siapapun. Sangat sulit, terasa sangat berat untuk dijalani, hingga tak sedikit yang memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Sebenarnya, medan itu adalah media dari Tuhan untuk melihat keikhlasan dan kesabaranku berjuang untuk menghadapinya; dan jika berhasil, maka ketakjuban akan menghantamku dengan keindahan yang sulit untuk kuterjemahkan.

Aku tersenyum kecil. Semangatku membuncah, aku menongak kearah langit seakan melemparkan banyak terimakasih kepada Tuhan. Memang, dalam hidup kita harus menghadapi banyak pilihan. Dan, banyak yang harus kita korbankan untuk mencapai apa yang kita inginkan—kebahagiaan, salah satunya adalah waktu. Akan banyak waktumu yang terbuang untuk mencapai kebahagiaan, kamu harus rela dan memilih salah satunya: kebahagiaan kelak, atau kebahagiaan kini?

Got it?