Malam ini aku terjaga, entah mengapa rasa kantuk enggan menghampiri
diriku. Berkali-kali ku mengganti posisi tidurku, mencari posisi yang nyaman
agar dapat tertidur. Namun, sama sekali tak membuahkan hasil. Aku terduduk,
pandanganku mengarah ke jarum jam yang menunjukan pukul 4.00 pagi.
Aku menghela nafas. Dan, beranjak dari tempat tidurku menuju ke lemari pendingin untuk mengambil secangkir air. Ya, mungkin dengan minum aku bisa segera mengantuk. Sambil menggenggam cangkir, ku ambil ponsel dan headset. Ibu jariku mulai memilah lagu, dan memutarnya.
05.00 pagi. Jemariku menuntun untuk membuka folder foto yang
selama ini bahkan tak ku sadari ada di ponselku, “Kawah Putih, Bandung”. Tanpa menunggu
aku segera membukanya, aku tahu dan masih sangat ingat momen ini. Tempat ini
adalah saksi air mata yang berhasil ku sembunyikan dengan rapih di hadapanmu. Tempat
ini adalah saksi saat terakhir kali kita bertemu.
Sungguh, rasanya seperti ada yang menggumpal di rongga
pernafasanku. Sesuatu yang membuat bulir air mataku menetes. Ku gulirkan satu
persatu foto-foto kita, di temani dengan air mata yang sudah hampir setahun
belakangan ini tak pernah menyembul dari kelopak mataku. Kamu, memang selalu
kamu yang menjadi penyebab air mata ini terjatuh.
Saat itu, kamu berlagak seakan semuanya baik-baik saja. Tanpa
mau tahu perasaanku, kamu bilang bahwa kamu telah memiliki kekasih. Tanpa memerdulikan
diriku, kamu menceritakan kisah cintamu dengannya di hadapanku. Patuha Resort,
di kolam renang air hangat yang persis menghadap ke arah kawah, kamu meminta
waktuku, kamu merangkulku, melontarkan guyonan semalaman penuh. Hingga,
akhirnya bibir tipismu memaksaku untuk mendengar ayat yang mematikan
perasaanku. Bodohnya aku yang sempat mengira bahwa malam itu akan menjadi
sangat indah. Kamu bercerita tentang kisah indah kalian, tanpa mau memerdulikan
rasa sakit yang menusuk disetiap kata-kata yang kau ucapkan. Aku seakan
terjebak dalam perangkapku sendiri.
Ku longgarkan rangkulan tanganmu, untuk menggeser posisi
dudukku agar berhadapan denganmu. Menatap dalam-dalam wajahmu, mencoba
menemukan celah yang mungkin untuk diriku. Berlagak seakan aku sungguh-sungguh
mendengarkan ceritamu.
Hatiku terus berperang dengan kenyataan, hingga tak ku
sadari air mata telah menari di kedua pipiku. Bodoh! Kamu adalah manusia
terbodoh karena memercayai bahwa air mataku saat itu adalah air mata haruku
karena mendengarkan kisah indah kalian.
Ini bukan salahmu, ini salahku yang terlalu mudah menganggap
pelukan, ciuman dan perhatianmu adalah bentuk lain dari cinta. Itu adalah saat
indah yang menyakitkan untukku. Sejak saat itu, aku menyerah, aku berhenti. Itu
adalah detik terakhirku menantimu. Aku pergi, ini bukan kisahku. Disini, aku
hanyalah seorang figuran bodoh yang larut dalam kisah yang salah.
Ku usap air mataku. Cahaya mentari pagi sudah menyapa lembut
dari balik jendela. Biarlah aku merasakan akibat kebodohanku, bersama rasa
sakit dan rindu ini.
No comments:
Post a Comment