Hari ini,
tepat empat puluh hari kepergianmu.
Hari minggu pagi, tepatnya jam 09.00, aku mendapat kabar tentang kepergianmu.
Saat itu, aku sama sekali tidak memercayai kabar bodoh itu, karena kupikir itu
hanya sebuah guyonan tolol yang sama sekali tidak membuatku tertawa. Segera
kubuka BBM dan mengetik pesan untukmu dengan penuh keyakinan bahwa kamu akan
membalas pesanku kurang dari satu menit, seperti biasanya. Namun, ternyata
salah, setelah begitu banyak teks dan pesan suara yang kukirim untukmu, tak ada
satupun yang kaubaca. Aku mulai gelisah, kekhawatiranku telah melewati batas
normal. Tanpa berpikir panjang aku langsung bergegas menuju rumah orang tuamu,
dan kostmu. Tapi, usahaku tak membuahkan hasil. Sampai akhirnya, seseorang
mengirimkan foto-foto prosesi pemakamanmu, saat melihatnya, seketika tubuhku
lemas, hati ini seperti tersambar petir, seperti ada sesuatu yang memenuhi
rongga pernafasanku.
Entah sudah
berapa banyak air mata yang terjatuh, separuh karena aku belum bisa
mengikhlaskan kepergianmun dan separuh lagi karena penyesalan. Iya, penyesalan
karena aku belum sempat membahagiakanmu.
Sejak hari
itu, aku datangi lagi tempat-tempat dulu yang pernah ada ukiran-ukuran kenangan
manis antara kita. Patung Kartini di Monas, Pantai Marunda, Food court Mall
Artha Gading, Kost Ibu Tanti di Plumpang, PT. Dong Kwang KBN, perahu penyebrangan
(getek) di kali daerah Plumpang, danau sunter, dan dock 88 Mall La Piazza. Di
setiap tempat itu, pernah ada tawamu, tawaku, tawa kita.
Sahabatku
yang egois, masih ingatkah waktu dulu, saat kita sama-sama bekerja di pabrik
baju yang mempekerjakan kita seperti budak. Dimana kita harus berdiri selama 12
jam menahan kantuk di hadapan mesin printing yang panas? Masih ingat permen
rujak yang selalu kita bawa ke tempat kerja untuk menghilangkan rasa kantuk?
Masih ingat warung nasi di depan pabrik? Dulu kita sering makan disini, segelas
cappucino dan sepiring nasi dengan bihun selalu menjadi menu makan kita. Disini
jari kelingking kita pernah saling mengikat dan mengunci satu sama lain sambil mengucap
janji bahwa kita akan selalu bersama, kita akan berjuang sama-sama hingga
mencapai kesuksesan. Bagiku, janji yang kita ucapkan saat itu seperti mantra
yang bahkan sampai saat ini masih menjadi motivasiku untuk terus maju, bergerak
mengejar mimpiku.
Tapi,
ternyata Tuhan tidak mengizinkan kamu untuk memenuhi janji itu, Dia sudah
memiliki rencana yang lebih indah dari pada rencana yang telah kita ucapkan dan
Dia lebih menyayangimu dari pada aku atau siapapun di dunia ini. Tuhan tidak
ingin lagi melihatmu merasakan sakit, Dia tak ingin lagi melihatmu meminum
begitu banyak butir obat setiap hari. Kini, tidak ada lagi yang bisa kulakukan
selain menangis, belajar mengikhlaskan dan selalu mendoakanmu. Meski aku tau
dan yakin jika kamu juga pasti tau bahwa bukan begini caranya untuk pergi.
Terimakasih
Rahmat Yadi bin Sanagi, karena sudah menjadi bagian dalam bait-bait
kehidupanku, banyak pelajaran yang kauberikan untukku melalui air mata dan
canda tawa kita selama 6 tahun terakhir kehidupanmu. Dan, Tuhan, kau telah
merenggut dia dari hidupku dan membawanya kedalam pelukanmu. Maka, kumohon
berikanlah dia kehidupan yang baik disana, tempatkanlah dia di tempat yang
indah disana, dan sampaikan pesanku untuknya; jangan pernah lupakan semua
kenangan diantara kita, sampai nanti ketika takdir mengizinkanku bertemu lagi
dengan dia, di sana, dalam pelukanmu.
Selamat
jalan sahabatku, namamu akan selalu ada dalam setiap rapalan doaku.
Berbahagialah disana.
1 comment:
Mamat :'(
kangen kamu :'(
Post a Comment