CHOOSE YOUR LANGUAGE

Sunday, 1 November 2015

Rahmad Yadi


Hari ini, tepat empat puluh hari kepergianmu. Hari minggu pagi, tepatnya jam 09.00, aku mendapat kabar tentang kepergianmu. Saat itu, aku sama sekali tidak memercayai kabar bodoh itu, karena kupikir itu hanya sebuah guyonan tolol yang sama sekali tidak membuatku tertawa. Segera kubuka BBM dan mengetik pesan untukmu dengan penuh keyakinan bahwa kamu akan membalas pesanku kurang dari satu menit, seperti biasanya. Namun, ternyata salah, setelah begitu banyak teks dan pesan suara yang kukirim untukmu, tak ada satupun yang kaubaca. Aku mulai gelisah, kekhawatiranku telah melewati batas normal. Tanpa berpikir panjang aku langsung bergegas menuju rumah orang tuamu, dan kostmu. Tapi, usahaku tak membuahkan hasil. Sampai akhirnya, seseorang mengirimkan foto-foto prosesi pemakamanmu, saat melihatnya, seketika tubuhku lemas, hati ini seperti tersambar petir, seperti ada sesuatu yang memenuhi rongga pernafasanku.

Entah sudah berapa banyak air mata yang terjatuh, separuh karena aku belum bisa mengikhlaskan kepergianmun dan separuh lagi karena penyesalan. Iya, penyesalan karena aku belum sempat membahagiakanmu.
Sejak hari itu, aku datangi lagi tempat-tempat dulu yang pernah ada ukiran-ukuran kenangan manis antara kita. Patung Kartini di Monas, Pantai Marunda, Food court Mall Artha Gading, Kost Ibu Tanti di Plumpang, PT. Dong Kwang KBN, perahu penyebrangan (getek) di kali daerah Plumpang, danau sunter, dan dock 88 Mall La Piazza. Di setiap tempat itu, pernah ada tawamu, tawaku, tawa kita.

Sahabatku yang egois, masih ingatkah waktu dulu, saat kita sama-sama bekerja di pabrik baju yang mempekerjakan kita seperti budak. Dimana kita harus berdiri selama 12 jam menahan kantuk di hadapan mesin printing yang panas? Masih ingat permen rujak yang selalu kita bawa ke tempat kerja untuk menghilangkan rasa kantuk? Masih ingat warung nasi di depan pabrik? Dulu kita sering makan disini, segelas cappucino dan sepiring nasi dengan bihun selalu menjadi menu makan kita. Disini jari kelingking kita pernah saling mengikat dan mengunci satu sama lain sambil mengucap janji bahwa kita akan selalu bersama, kita akan berjuang sama-sama hingga mencapai kesuksesan. Bagiku, janji yang kita ucapkan saat itu seperti mantra yang bahkan sampai saat ini masih menjadi motivasiku untuk terus maju, bergerak mengejar mimpiku.

Tapi, ternyata Tuhan tidak mengizinkan kamu untuk memenuhi janji itu, Dia sudah memiliki rencana yang lebih indah dari pada rencana yang telah kita ucapkan dan Dia lebih menyayangimu dari pada aku atau siapapun di dunia ini. Tuhan tidak ingin lagi melihatmu merasakan sakit, Dia tak ingin lagi melihatmu meminum begitu banyak butir obat setiap hari. Kini, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menangis, belajar mengikhlaskan dan selalu mendoakanmu. Meski aku tau dan yakin jika kamu juga pasti tau bahwa bukan begini caranya untuk pergi.

Terimakasih Rahmat Yadi bin Sanagi, karena sudah menjadi bagian dalam bait-bait kehidupanku, banyak pelajaran yang kauberikan untukku melalui air mata dan canda tawa kita selama 6 tahun terakhir kehidupanmu. Dan, Tuhan, kau telah merenggut dia dari hidupku dan membawanya kedalam pelukanmu. Maka, kumohon berikanlah dia kehidupan yang baik disana, tempatkanlah dia di tempat yang indah disana, dan sampaikan pesanku untuknya; jangan pernah lupakan semua kenangan diantara kita, sampai nanti ketika takdir mengizinkanku bertemu lagi dengan dia, di sana, dalam pelukanmu.

Selamat jalan sahabatku, namamu akan selalu ada dalam setiap rapalan doaku. Berbahagialah disana. 

1 comment:

Unknown said...

Mamat :'(
kangen kamu :'(