Sasya merapikan jilbabnya. Hari itu matahari bersinar ganas
di atas kepala warga Jakarta. Sudah hampir dua jam dia duduk di cafe dalam
Stasiun Manggarai menunggu Panji, wajah cantik yang tak tergores make-up
sedikitpun itu memang selalu teduh untuk dipandangi. Sesekali dia arahkan
pandangannya ke luar jendela, menyelidik dan mencari Panji pada setiap orang
yang sibuk berlalu-lalang di Stasiun yang cukup nyaman ini.
Dia mulai gelisah. Tangannya mulai sibuk mengetik pesan
singkat untuk Panji, sebelumnya dia sudah menghubungi nomor ponsel Panji. Namun,
tidak ada jawaban.
“Hai. Maaf, ya. Tadi di jalan macet banget. Akhirnya aku
lari kesini.” ucap lelaki berbibir tipis itu. Peluh di keningnya memang tak
menandakan bahwa perkataannya itu bohong.
Sasya tak menjawab sepatah kata pun. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan
meninggalkan Panji.
“Sya, tunggu dulu, dong. Jangan marah gini,” Panji mengejar
Sasya dan menjajarkan posisi berjalan mereka.
Sasya menghentikan langkah kakinya dan menghadap Panji, “Sejak
kapan aku bisa marah sama kamu?” Ujarnya sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju salah satu mall
di bilangan jakarta Pusat. Seperti biasa, mereka memang selalu menghabiskan
waktu bersama, bagi mereka itu adalah kebahagiaan lain. Kebahagiaan yang tak
bisa dibeli dengan mata uang manapun.
Begitulah mereka—Sasya dan Panji—saling mencintai, namun tak
saling menyatakan. Sebelumnya mereka tak saling mengenal, entah bagaimana
caranya, keakraban terjadi begitu singkat. Mereka berkenalan lewat Dunia Maya,
saling bertukar perhatian melalui pesan singkat, dan membangun perasaan
berdasarkan suara di ujung sambungan telephone. Saat ini, genap enam tahun
mereka saling menutupi cinta dengan status persahabatan.
Sasya gadis muslimah yang tutur bahasa dan prilakunya
sungguh dapat membuat siapapun jatuh cinta. Baginya, Dzikir adalah nafas. Dan,
ia percaya bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH dan Muhammad S.A.W adalah utusan
ALLAH yang esa. Wajahnya yang teduh selalu tampak lebih indah dengan sisipan
senyum yang tenang. Bagi Panji, Sasya adalah malaikat yang di dorong tuhan
untuk hidup dalam dunia manusia.
Panji pria berbadan tegap, bibir tipis, dan wajah agak
oriental ini memiliki prilaku yang sopan dan dewasa. Gadis manapun, pasti akan
mudah mencintai sosoknya. Baginya, Jesus adalah juru selamat yang kelak akan
menebus dosa-dosanya di akhir zaman. Ia percaya bahwa ALLAH adalah tuhan yang
maha satu, dan Jesus adalah putra tunggal Tuhan. Bagi Sasya, Panji adalah
segalanya. Meskipun ia tahu bahwa Panji—lelaki yang dia cintai tidak akan
pernah bisa menjadi imamnya dalam sholat.
Mereka berbeda, namun tetap saling mencintai. Begitulah mereka.
Cinta mereka satu, namun perbedaan keyakinan membuat cinta yang seharusnya
sederhana menjadi sangat rumit. Telah banyak
hari mereka lalui dan semua selalu sama. Perbedaan ini selalu menjadi topik
yang selalu mereka hindari dalam perbincangan. Ini adalah keadaan yang
menyakitkan, namun indah yang mereka rasakan. Panji dan Sasya saling menemukan
kebahagiaan dalam diri mereka masing-masing, meski sejauh ini cinta mereka tak
beranjak kearah manapun.
Mereka selalu bahagia ketika bersama, sampai akhirnya takdir
memainkan peran antagonisnya dalam kisah mereka.
“Mau kamu bawa kemana hubungan kalian? Kalian berharap dapat
bersatu dalam perbedaan? Nihil!”
“Papah enggak ngerti apa-apa tentang Sasya. Dan, papah enggak
berhak ngelarang Panji untuk bahagia.” Bentak panji.
“Papah enggak pernah ngelarang kamu bahagia, Ji. Cinta memang
penuh pengorbanan, tapi bukan berarti harus mengorbankan keyakinanmu!” Bentak
Papah panji dengan nada tinggi.
Suasana rumah memanas.
“Cinta memang penuh
pengorbanan, tapi bukan berarti harus mengorbankan keyakinanmu.”
Ucapan sang Papah berkali-kali terngiang dalam benak Panji,
dia tahu betul bahwa apa yang diucapkan Papahnya adalah benar. Cinta kepada
keyakinan adalah cinta terhadap Tuhan. Dan, tak ada yang boleh menduakan bentuk
cinta itu.
Di satu sisi, dia sangat mencintai Sasya. Di sisi lain,
mereka tak dapat bersatu dalam perbedaan ini. Dan, kemungkinan terbesar mereka
bersatu adalah dengan cara salah satu dari mereka harus mengorbankan keyakinan
yang selama ini selalu menjadi fondasi dalam hidup mereka. Jelas mereka tidak akan pernah melakukan hal
itu. Keyakinan adalah hal utama yang perlu dipertahankan dan dijaga. Mungkin ini
adalah ujian dari Tuhan untuk melihat kesungguhan Panji dan Sasya dalam menjaga
iman terhadap Agamanya masing-masing kepada ALLAH (Tuhan yang maha satu).
Sasya tahu semua yang ada di dalam benak Panji. Sejak lama,
ini adalah hal yang paling ia takutkan. Takdir menempatkan mereka diantara dua
pilihan, Cinta atau Agama. Mereka jelas memilih berpisah dan saling melupakan
demi Agama, demi Tuhan mereka yang satu.
Orang tua panji sudah setuju untuk menjodohkan Panji dengan
Angel (Jemaat Gereja yang sama dengan keluarga Panji). Mereka tak ingin ada hal
yang terjadi di luar keinginan mereka. Agama adalah hal utama yang harus dijaga
sebaik mungkin. Siapapun juga begitu. Dan,
Panji juga menerima perjodohan itu karena Tuhan. Untuk menjaga imannya kepada
Tuhan yang maha esa.
Mereka—Sasya dan Panji—terluka. Setelah jutaan detik mereka
lalui bersama, ini adalah titik dimana mereka benar-benar disadarkan oleh
perbedaan yang selama ini selalu mereka hindari, bahkan dalam perbincangan. Mereka
selalu tahu dan yakin bahwa Tuhan itu satu, namun perbedaan dalam hal keyakinan
bukanlah hal tabu yang patut dihindari.
Hari itu, Sasya membasahi tubuhnya dengan air wudhu, dia mensucikan
diri untuk menghadap sang Khalik dalam Sholat. Dia bentangkan sajadah ke arah
Ka’Bah. Dia balut tubuhnya dengan mukena berwarna putih sebagai lambang
kesucian. Bibirnya mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan fasih dan lirih.
Di tempat yang berbeda, Panji telah duduk diantara para
jemaat di Gereja tempat biasa dia dan keluarga menjalankan ibadah. Bibirnya mulai
melantunkan Pengakuan Iman Rasuli bersamaan dengan para jemaat lain. Matanya terpejam,
pikirannya hanya tertuju pada Tuhan, sosok segalanya dalam hidup siapapun.
Sasya telah selesai menunaikan Sholatnya. Ia meraih tasbih
yang terletak di ujung sajadahnya, bibirnya mulai melantunkan nafas,
melantunkan Asma-ul Husna. Segala pujian bagi ALLAH. Ya, segala pujian memang
hanya untuk ALLAH (Tuhan yang maha esa). Air matanya mengalir, merayap lembut
menjajaki bekas air wudhu yang telah menyerap di wajah teduh Sasya. Dalam Sholatnya,
Sasya menangisi kisah cintanya. Dalam sujudnya dia meminta kekuatan kepada
ALLAH yang maha besar agar dapat menerima kenyataan pahit ini dengan lapang
dada dan rasa sabar. Dalam rapalan kalimat sakral yang disebut doa, tersisip
nama Panji. Ia memohon agar kelak lelaki yang pernah mengisi hidupnya itu
bahagia setelah menikah dengan jodohnya—Angel—kekasih seagamanya. Begitupun Panji, seusai beribadah. Dia merunduk tenang, dia
menggenggam Rosarionya begitu erat, ada banyak harapan di dalamnya. Dia memohon
kepada Jesus, juru selamatnya, agar sosok tercintanya—Sasya—dapat berbahagia,
meski tanpa dirinya. Ia memohon agar ALLAH mereka yang satu juga menjaga
kebahagiaan Sasya. Ini memang sudah harus terjadi, perbedaan bukanlah hal
sederhana yang dapat ditaklukan. Perbedaan bisa menjadi sumber air mata.
Lakum dinukum waliyadin.
Agamamu, Agamamu. Agamaku, Agamaku. :')
No comments:
Post a Comment