CHOOSE YOUR LANGUAGE

Wednesday, 11 February 2015

Faith (Cinta Beda Agama)



Sasya merapikan jilbabnya. Hari itu matahari bersinar ganas di atas kepala warga Jakarta. Sudah hampir dua jam dia duduk di cafe dalam Stasiun Manggarai menunggu Panji, wajah cantik yang tak tergores make-up sedikitpun itu memang selalu teduh untuk dipandangi. Sesekali dia arahkan pandangannya ke luar jendela, menyelidik dan mencari Panji pada setiap orang yang sibuk berlalu-lalang di Stasiun yang cukup nyaman ini.
Dia mulai gelisah. Tangannya mulai sibuk mengetik pesan singkat untuk Panji, sebelumnya dia sudah menghubungi nomor ponsel Panji. Namun, tidak ada jawaban.

“Hai. Maaf, ya. Tadi di jalan macet banget. Akhirnya aku lari kesini.” ucap lelaki berbibir tipis itu. Peluh di keningnya memang tak menandakan bahwa perkataannya itu bohong.

Sasya tak menjawab sepatah kata pun.  Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Panji.

“Sya, tunggu dulu, dong. Jangan marah gini,” Panji mengejar Sasya dan menjajarkan posisi berjalan mereka.

Sasya menghentikan langkah kakinya dan menghadap Panji, “Sejak kapan aku bisa marah sama kamu?” Ujarnya sambil tersenyum.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju salah satu mall di bilangan jakarta Pusat. Seperti biasa, mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama, bagi mereka itu adalah kebahagiaan lain. Kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan mata uang manapun.

Begitulah mereka—Sasya dan Panji—saling mencintai, namun tak saling menyatakan. Sebelumnya mereka tak saling mengenal, entah bagaimana caranya, keakraban terjadi begitu singkat. Mereka berkenalan lewat Dunia Maya, saling bertukar perhatian melalui pesan singkat, dan membangun perasaan berdasarkan suara di ujung sambungan telephone. Saat ini, genap enam tahun mereka saling menutupi cinta dengan status persahabatan.

Sasya gadis muslimah yang tutur bahasa dan prilakunya sungguh dapat membuat siapapun jatuh cinta. Baginya, Dzikir adalah nafas. Dan, ia percaya bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH dan Muhammad S.A.W adalah utusan ALLAH yang esa. Wajahnya yang teduh selalu tampak lebih indah dengan sisipan senyum yang tenang. Bagi Panji, Sasya adalah malaikat yang di dorong tuhan untuk hidup dalam dunia manusia.

Panji pria berbadan tegap, bibir tipis, dan wajah agak oriental ini memiliki prilaku yang sopan dan dewasa. Gadis manapun, pasti akan mudah mencintai sosoknya. Baginya, Jesus adalah juru selamat yang kelak akan menebus dosa-dosanya di akhir zaman. Ia percaya bahwa ALLAH adalah tuhan yang maha satu, dan Jesus adalah putra tunggal Tuhan. Bagi Sasya, Panji adalah segalanya. Meskipun ia tahu bahwa Panji—lelaki yang dia cintai tidak akan pernah bisa menjadi imamnya dalam sholat.

Mereka berbeda, namun tetap saling mencintai. Begitulah mereka. Cinta mereka satu, namun perbedaan keyakinan membuat cinta yang seharusnya sederhana menjadi sangat rumit.  Telah banyak hari mereka lalui dan semua selalu sama. Perbedaan ini selalu menjadi topik yang selalu mereka hindari dalam perbincangan. Ini adalah keadaan yang menyakitkan, namun indah yang mereka rasakan. Panji dan Sasya saling menemukan kebahagiaan dalam diri mereka masing-masing, meski sejauh ini cinta mereka tak beranjak kearah manapun.

Mereka selalu bahagia ketika bersama, sampai akhirnya takdir memainkan peran antagonisnya dalam kisah mereka.

“Mau kamu bawa kemana hubungan kalian? Kalian berharap dapat bersatu dalam perbedaan? Nihil!”

“Papah enggak ngerti apa-apa tentang Sasya. Dan, papah enggak berhak ngelarang Panji untuk bahagia.” Bentak panji.

“Papah enggak pernah ngelarang kamu bahagia, Ji. Cinta memang penuh pengorbanan, tapi bukan berarti harus mengorbankan keyakinanmu!” Bentak Papah panji dengan nada tinggi.

Suasana rumah memanas.


“Cinta memang penuh pengorbanan, tapi bukan berarti harus mengorbankan keyakinanmu.”

Ucapan sang Papah berkali-kali terngiang dalam benak Panji, dia tahu betul bahwa apa yang diucapkan Papahnya adalah benar. Cinta kepada keyakinan adalah cinta terhadap Tuhan. Dan, tak ada yang boleh menduakan bentuk cinta itu.

Di satu sisi, dia sangat mencintai Sasya. Di sisi lain, mereka tak dapat bersatu dalam perbedaan ini. Dan, kemungkinan terbesar mereka bersatu adalah dengan cara salah satu dari mereka harus mengorbankan keyakinan yang selama ini selalu menjadi fondasi dalam hidup mereka.  Jelas mereka tidak akan pernah melakukan hal itu. Keyakinan adalah hal utama yang perlu dipertahankan dan dijaga. Mungkin ini adalah ujian dari Tuhan untuk melihat kesungguhan Panji dan Sasya dalam menjaga iman terhadap Agamanya masing-masing kepada ALLAH (Tuhan yang maha satu).

Sasya tahu semua yang ada di dalam benak Panji. Sejak lama, ini adalah hal yang paling ia takutkan. Takdir menempatkan mereka diantara dua pilihan, Cinta atau Agama. Mereka jelas memilih berpisah dan saling melupakan demi Agama, demi Tuhan mereka yang satu.

Orang tua panji sudah setuju untuk menjodohkan Panji dengan Angel (Jemaat Gereja yang sama dengan keluarga Panji). Mereka tak ingin ada hal yang terjadi di luar keinginan mereka. Agama adalah hal utama yang harus dijaga sebaik mungkin.  Siapapun juga begitu. Dan, Panji juga menerima perjodohan itu karena Tuhan. Untuk menjaga imannya kepada Tuhan yang maha esa.

Mereka—Sasya dan Panji—terluka. Setelah jutaan detik mereka lalui bersama, ini adalah titik dimana mereka benar-benar disadarkan oleh perbedaan yang selama ini selalu mereka hindari, bahkan dalam perbincangan. Mereka selalu tahu dan yakin bahwa Tuhan itu satu, namun perbedaan dalam hal keyakinan bukanlah hal tabu yang patut dihindari.

Hari itu, Sasya membasahi tubuhnya dengan air wudhu, dia mensucikan diri untuk menghadap sang Khalik dalam Sholat. Dia bentangkan sajadah ke arah Ka’Bah. Dia balut tubuhnya dengan mukena berwarna putih sebagai lambang kesucian. Bibirnya mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan fasih dan lirih.
Di tempat yang berbeda, Panji telah duduk diantara para jemaat di Gereja tempat biasa dia dan keluarga menjalankan ibadah. Bibirnya mulai melantunkan Pengakuan Iman Rasuli bersamaan dengan para jemaat lain. Matanya terpejam, pikirannya hanya tertuju pada Tuhan, sosok segalanya dalam hidup siapapun.
Sasya telah selesai menunaikan Sholatnya. Ia meraih tasbih yang terletak di ujung sajadahnya, bibirnya mulai melantunkan nafas, melantunkan Asma-ul Husna. Segala pujian bagi ALLAH. Ya, segala pujian memang hanya untuk ALLAH (Tuhan yang maha esa). Air matanya mengalir, merayap lembut menjajaki bekas air wudhu yang telah menyerap di wajah teduh Sasya. Dalam Sholatnya, Sasya menangisi kisah cintanya. Dalam sujudnya dia meminta kekuatan kepada ALLAH yang maha besar agar dapat menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada dan rasa sabar. Dalam rapalan kalimat sakral yang disebut doa, tersisip nama Panji. Ia memohon agar kelak lelaki yang pernah mengisi hidupnya itu bahagia setelah menikah dengan jodohnya—Angel—kekasih seagamanya. Begitupun Panji, seusai beribadah. Dia merunduk tenang, dia menggenggam Rosarionya begitu erat, ada banyak harapan di dalamnya. Dia memohon kepada Jesus, juru selamatnya, agar sosok tercintanya—Sasya—dapat berbahagia, meski tanpa dirinya. Ia memohon agar ALLAH mereka yang satu juga menjaga kebahagiaan Sasya. Ini memang sudah harus terjadi, perbedaan bukanlah hal sederhana yang dapat ditaklukan. Perbedaan bisa menjadi sumber air mata. 

Air mata Sasya terjatuh, membasahi Tasbih yang selalu tesisip Asma ALLAH S.W.T di dalamnya. Dia harus menerima kenyataan yang telah Tuhan atur dalam takdir. Begitu juga Panji, Rosarionya telah basah dengan air mata dalam genggamannya. Di tempat yang berbeda, mereka sama-sama mencintai dan mendoakan. Namun, tak dapat bersatu karena perbedaan keyakinan. Tak ada yang bisa disalahkan dalam kisah mereka, Tuhan selalu benar, dan setiap keyakinan selalu mengajarkan hal-hal baik untuk umatnya. Kisah ini terjadi begitu saja, terlalu cepat, dan menyakitkan. Tuhan selalu punya cara untuk menguji umatnya.

Lakum dinukum waliyadin.
Agamamu, Agamamu. Agamaku, Agamaku. :')






No comments: