CHOOSE YOUR LANGUAGE

Monday, 26 January 2015

25 Januari



25 Januari. Aku membuka mataku dan menghela napas. Udara dingin pagi ini, memaksaku agar tak beranjak dari tempat tidur. Namun, rasa malas harus dilawan, masih ada mimpi yang harus kuperjuangkan. Hari ini, aku harus pergi ke tiga lokasi yang berbeda untuk melakukan survey jual beli. Aku segera bersiap. 

Setelah dua jam lamanya, akhirnya aku sampai di tempat tujuan pertamaku. Bukit Pelangi. Air Terjun Bidadari. Jalan yang harus kulalui sangat ekstrim, karena harus melalui jalan pegunungan yang berliku dan dikelilingi jurang. Mobil yang aku dan abangku kendarai terpaksa harus berhenti dan parkir di sebuah mesjid di daerah Bojong Koneng. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Cukup melelahkan! Ini namanya perjuangan, semangat!

Untuk menuju lokasi, kami harus melewati jalan setapak yang di kelilingi pepohonan rimbun. Hanya suara desir air dan kicauan burung yang dapat kudengar. Lumayan, setelah 30 menit berjalan kaki, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan kami. Sang pemilik villa menyambut kami dengan sangat sopan. Villa yang berada di pucuk gunung ini memang memiliki nilai jual yang sangat tinggi.

Aku meraih kamera dari dalam tasku. Kemudian menjelajah ke setiap sudut rumah untuk mengambil gambar yang nantinya akan menjadi databaseku. Langkahku terhenti di balkon belakang rumah, aku terhipnotis dengan pemandangan takjub di hadapanku. Pandanganku menyapu sekeliling, kubiarkan diriku menikmati semesta—karya tangan Tuhan.  Pemandangan oranye atap rumah seakan menjadi pola abstrak diantara hijaunya pepohonan yang luas dan diselimuti kabut putih tebal.

Aku menghela napas. Kubiarkan tubuhku menikmati segarnya udara dingin pegunungan.

Perjalanan menuju tempat indah ini memang cukup ekstrim dan melelahkan. Aku berpikir. Medan terjal, menanjak, berlubang dan berlumpur ini seperti perjalanan hidupku, hidupmu atau hidup siapapun. Sangat sulit, terasa sangat berat untuk dijalani, hingga tak sedikit yang memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Sebenarnya, medan itu adalah media dari Tuhan untuk melihat keikhlasan dan kesabaranku berjuang untuk menghadapinya; dan jika berhasil, maka ketakjuban akan menghantamku dengan keindahan yang sulit untuk kuterjemahkan.

Aku tersenyum kecil. Semangatku membuncah, aku menongak kearah langit seakan melemparkan banyak terimakasih kepada Tuhan. Memang, dalam hidup kita harus menghadapi banyak pilihan. Dan, banyak yang harus kita korbankan untuk mencapai apa yang kita inginkan—kebahagiaan, salah satunya adalah waktu. Akan banyak waktumu yang terbuang untuk mencapai kebahagiaan, kamu harus rela dan memilih salah satunya: kebahagiaan kelak, atau kebahagiaan kini?

Got it?

No comments: