25 Januari. Aku membuka mataku dan menghela napas. Udara dingin pagi
ini, memaksaku agar tak beranjak dari tempat tidur. Namun, rasa malas harus
dilawan, masih ada mimpi yang harus kuperjuangkan. Hari ini, aku harus pergi ke
tiga lokasi yang berbeda untuk melakukan survey jual beli. Aku segera bersiap.
Setelah dua jam lamanya, akhirnya aku sampai di tempat
tujuan pertamaku. Bukit Pelangi. Air Terjun Bidadari. Jalan yang harus kulalui
sangat ekstrim, karena harus melalui jalan pegunungan yang berliku dan
dikelilingi jurang. Mobil yang aku dan abangku kendarai terpaksa harus berhenti
dan parkir di sebuah mesjid di daerah Bojong Koneng. Kami melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki.
Cukup melelahkan! Ini namanya perjuangan, semangat!
Untuk menuju lokasi, kami harus melewati jalan setapak yang
di kelilingi pepohonan rimbun. Hanya suara desir air dan kicauan burung yang
dapat kudengar. Lumayan, setelah 30 menit berjalan kaki, akhirnya kami sampai ke
tempat tujuan kami. Sang pemilik villa menyambut kami dengan sangat sopan.
Villa yang berada di pucuk gunung ini memang memiliki nilai jual yang sangat
tinggi.
Aku meraih kamera dari dalam tasku. Kemudian menjelajah ke
setiap sudut rumah untuk mengambil gambar yang nantinya akan menjadi
databaseku. Langkahku terhenti di balkon belakang rumah, aku terhipnotis dengan
pemandangan takjub di hadapanku. Pandanganku menyapu sekeliling, kubiarkan
diriku menikmati semesta—karya tangan Tuhan.
Pemandangan oranye atap rumah seakan menjadi pola abstrak diantara
hijaunya pepohonan yang luas dan diselimuti kabut putih tebal.
Aku menghela napas. Kubiarkan tubuhku menikmati segarnya
udara dingin pegunungan.
Perjalanan menuju tempat indah ini memang cukup ekstrim dan
melelahkan. Aku berpikir. Medan terjal, menanjak, berlubang dan berlumpur ini
seperti perjalanan hidupku, hidupmu atau hidup siapapun. Sangat sulit, terasa
sangat berat untuk dijalani, hingga tak sedikit yang memutuskan untuk berhenti
di tengah jalan. Sebenarnya, medan itu adalah media dari Tuhan untuk melihat
keikhlasan dan kesabaranku berjuang untuk menghadapinya; dan jika berhasil, maka
ketakjuban akan menghantamku dengan keindahan yang sulit untuk kuterjemahkan.
Aku tersenyum kecil. Semangatku membuncah, aku menongak
kearah langit seakan melemparkan banyak terimakasih kepada Tuhan. Memang, dalam
hidup kita harus menghadapi banyak pilihan. Dan, banyak yang harus kita
korbankan untuk mencapai apa yang kita inginkan—kebahagiaan, salah satunya
adalah waktu. Akan banyak waktumu yang terbuang untuk mencapai kebahagiaan,
kamu harus rela dan memilih salah satunya: kebahagiaan kelak, atau kebahagiaan
kini?
Got it?
No comments:
Post a Comment