Sasya terdiam. Pandangannya masih tertuju pada rintik hujan
di luar jendela yang tak kunjung menandakan reda. Kamarnya sungguh terasa sepi,
desir suara air conditioner seakan bernyanyi fasih dalam keheningan kamar Sasya.
Ia langkahkan kakinya dengan malas menuju meja belajar untuk mengambil
iPod-nya, kemudian menuju tempat tidur dan membalut dirinya dengan selimut yang
hangat. Jempolnya mulai merayap ke playlist mp3 mencari lagu kesukaannya untuk
diputar dan menemaninya. Sekejap lantunan lagu Things Will Get Better by
Agnezmo sudah merayap lembut di gendang telinga Sasya.
Suara lembut Agnezmo membuat tubuhnya semakin berat,
sesekali ia gerakkan tubuhnya mencari posisi yang pas untuk menikmati hari itu.
Keheningan membawanya pada memori lampau. Ketika ada sosok lelaki yang sangat
mencintai dirinya, meski pengabaian Sasya telak menghantam dan melukai perasaan
lelaki tersebut. Rico namanya. Sahabat yang sangat mencintai Sasya, Ia selalu
tegar dan siaga. Selalu ada kapanpun ketika bibir Sasya tak mampu mengukir
senyum dan hadir seperti pahlawan kesiangan yang tak gentar mengembalikan
senyuman indah Sasya dengan tingkah konyolnya.
Sasya Tersenyum. Hatinya perih. Ia menghela nafas.
Senyumannya perlahan memudar, mengingat kini tiada lagi Rico
di sisinya. Tak ada lagi sosok yang selalu rela terlihat bodoh, demi mengukir
senyum di bibirnya. Tak ada lagi sosok yang mengagumi dirinya dan bertahan
mencintai tanpa pengakuan; dan status yang jelas.
Kebodohan terbesar Sasya adalah pengabaiannya terhadap Rico.
Setelah kepergiannya, Sasya baru sadar bahwa tidak ada lelaki yang mampu
mencintainya dengan hormat seperti Rico.
Biasanya, setiap pagi. Rico sudah standby di depan rumah
Sasya untuk menjemputnya berangkat ke sekolah. Tutur bahasanya selalu lembut,
dapat jelas dirasakan kasih sayang dalam setiap perkataan yang ia lontarkan
kepada Sasya. Namun, dulu bukan itu yang Sasya butuhkan. Kriteria untuk menjadi
pacarnya adalah Tampan dan Populer.
Kriteria yang ia idam-idamkan ada pada Andre, pria populer karena ketampanannya di sekolah.
Ia juga cukup berprestasi, banyak piala yang telah di dapatinya. Hal itu
membuat Sasya lupa dengan sosok Rico. Ia tersesat. Nama Rico seakan terhapus
begitu saja, diganti dengan mudah karena pesona Andre. Namun, Rico mengerti. Ia sama sekali tak memiliki daya untuk
melarang Sasya menjatuhkan hatinya kepada siapapun. Rasa sakit yang ia
rasakan selalu terpendam, tersembunyi rapih di balik senyumannya. Lebih baik ia
menahan semua sakit, daripada harus kehilangan Sasya. Sosok wanita kedua yang
ia cintai di dunia, setelah Ibunya. Kebahagiaan Sasya adalah kebahagiaannya,
meski perih.
Ketika Sasya sibuk mendekatkan diri dengan Andre. Ada sosok
Rico, sahabat Sasya yang selalu mendukung hubungan mereka. Meski Sasya tau, bahwa
Rico jelas mencintainya. Namun, ia tak mencintai Rico. Hanya ada Andre.
Beberapa bulan kemudian.
Sasya menelpon Rico untuk curhat bahwa dirinya dan Andre
telah resmi berstatus pacaran. Mendengar itu, Rico terdiam. Pandangannya
tiba-tiba kosong. Rongga hatinya sesak. Nada bicaranya mulai gemetar. Hal itu
jelas meremukkan perasaan Rico, tapi ia harus tetap memasang senyum palsu untuk
kebahagiaan Sasya yang jelas adalah sumber perih dalam hidupnya.
Andre membuat Sasya lupa dengan Rico, sosok yang sejak SMP
selalu setia berada di sampingnya untuk melindungi dirinya dan menjadi obat
dalam setiap kesedihannya.
Dengan sabar, Rico menerima dan masih setia mendampingi
Sasya yang jelas sudah menjadi milik oranglain. Rico yakin, akan ada saatnya
dimana ia akan memiliki Sasya seutuhnya. Semua itu hanya butuh kesabaran. Sifat
dan perasaannya sama sekali tak berubah untuk Sasya. Cintanya tetap sama. Rasa
sayangnya tetap sama.
Mencintai sosok populer seperti Andre tidaklah mudah.
Mungkin tanpa ada kehadiran seorang Rico, Sasya tidak akan sekuat ini.
Hubungannya dengan Andre takkan sepanjang ini. Setiap kali Andre membuat Sasya
menangis. Disitulah sosok Rico muncul dengan ketenangan dan sikap konyolnya
yang selalu punya cara untuk membuat Sasya tersenyum. Ia selalu menjadi
pendengar yang baik dan menjadi pundak yang nyaman untuk Sasya bersandar.
Sampai akhirnya. Sasya mendapat kabar bahwa Andre memiliki
penyakit leukimia. Ia menggila, tak satu haripun ia lewatkan tanpa bersama
Andre. Ia selalu setia mendampingi Andre kemanapun dan dimanapun.
Bebulan-bulan mereka lalui bersama, Sasya adalah wanita yang
paling setia mendampingi Andre, bahkan ketika Andre dalam keadaan sakit parah.
Hal itu membuat Andre tersadar, bahwa Sasya adalah wanita yang selama ini ia
cari. Masa depannya.
Andre semakin mencintai Sasya, begitu juga sebaliknya.
Mereka bahagia, meski Andre dalam keadaan sakit parah dan terancam meninggal.
Setiap hari Rico setia mengantar dan menjemput Sasya ke
rumah sakit tempat Andre di rawat. Tak jarang juga ia turut menjaga Andre.
Pengorbanan Rico tulus, meski tak dapat memiliki Sasya. Namun, Setidaknya ia
bisa menjadi sosok penting dalam hidup Sasya. Siapapun dapat merasakan hebatnya
pengorbanan tulus Rico untuk Sasya, termaksud Andre.
Namun Sasya dengan sengaja membutakan hatinya untuk Rico,
karena ia tak memiliki perasaan apapun kepada Rico, sahabatnya sejak SMP.
Berkali-kali pengabaian Sasya telak menghantam perasaan Rico dengan nyata.
Namun, Rico tak memerdulikan hal itu. Karena kebahagiaan Sasya adalah juga kebahagiaannya.
Waktu terus bergulir. Kondisi Andre semakin parah. Dokter
mengatakan ia harus menjalani kemo, namun pihak keluarga pun menyerah. Keluarga
sudah sangat ikhlas jika harus kehilangan Andre. Tapi, tidak dengan Sasya. Ia
berusaha keras untuk mendapatkan pinjaman uang untuk biaya pengobatan orang
yang ia cintai. Andre.
Di temani Rico, Sasya menjelajah ke segala tempat untuk
mencari pinjaman. Semangatnya luar biasa. Ia sangat antusias, hingga tak
memerdulikan kondisinya sendiri. Namun, upayanya gagal. Hal itu membuat Sasya terlihat
sangat depresi. Ia mulai lupa diri, lepas kendali.
Tentu hal itu membuat Rico sangat terpukul, melihat
kesedihan mendalam yang Sasya rasakan.
Hari itu. Rico bergegas mencarikan uang pinjaman untuk
menolong Andre. Ia menjual segala yang ia miliki. Ia tak ingin melihat Sasya
semakin sedih, ia harus mendapatkan uang untuk pengobatan Andre sesegera
mungkin, dan mengembalikan senyuman indah Sasya.
Di tengah kesibukannya. Ia menerima SMS dari Sasya yang
isinya adalah pesan bahwa Sasya akan bunuh diri. Rico panik, ia segera
melajukan kendaraannya menuju rumah Sasya untuk menenangkan Sasya dan memberikan uang hasil jerih payahnya untuk Andre. Sosok yang dicintai oleh wanita yang ia cintai.
Dalam perjalanan ia sibuk menelpon
Sasya, memberikan Sasya nasihat dan melarangnya untuk mengakhiri hidupnya
dengan cara yang konyol. Perkataannya yang lembut sedikit membuat Sasya tenang,
namun percakapan mereka terhenti. Mobil yang dibawa Rico mengalami kecelakaan
parah hingga hancur lebur.
Dari ujung telpon. Sasya bingung, mengapa tiba-tiba telpon
mereka terputus. Namun, ia tak ingin memikirkan hal itu. Karena pikirannya kini
hanya tertuju pada Andre, sosok yang sangat ia cintai.
Sementara dengan keadaan sekarat, tubuh Rico dibawa ke rumah
sakit yang sama dengan Andre untuk mendapatkan pertolongan.
Tak lama, handphone Sasya berdering. Itu adalah panggilan
dari Rico. Ia segera mengangkatnya.
Di ujung telephone. Suara lelaki berat memberitahukan bahwa
kendaraan Rico telah mengalami kecelakaan parah dan kini Rico dibawa ke rumah
sakit PELITA dalam keadaan sekarat.
Sasya terdiam. Airmatanya menetes. Tubuhnya gemetar.
Nafasnya sesak.
Hanphone dalam genggamannya terjatuh. Ia tak percaya, baru
beberapa menit yang lalu Rico menelponnya dan menasihatinya. Kini Rico telah
berada di rumah sakit dalam keadaan sekarat.
Ia begegas menuju rumah sakit untuk
melihat keadaan rico dengan perasaan pilu.
Ia tiba di rumah sakit dalam keadaan berantakan, tak lagi ia
pikirkan keadaan dirinya. Kini, ia merasa sangat takut kehilangan Rico.
Mataharinya.
Ketika sampai di ruang UGD, dokter memanggil Sasya untuk
masuk dan menemui Rico.
Ia menangis sejadi-jadinya saat melihat kondisi Rico yang
parah. Kata dokter, sudah tidak ada harapan lagi untuk Rico.
Melihat kehadiran Sasya. Rico mengulurkan tangannya untuk
Sasya.
Dengan segera Sasya menggenggam tangan Rico yang hangat dan berpeluh
darah. Dulu, tangan ini selalu sedia merangkul Sasya dan membuat perasaannya
membaik, ketika gundah. Ia meluapkan tangisannya. Ia memohon agar Rico bertahan
untuk tetap hidup dan menemaninya. Ia memohon kepada dokter agar melakukan
apapun untuk menyelamatkan Rico. Tangisannya menderu, memenuhi ruang UGD.
Namun, dokter telah mengupayakan sebaik mungkin. Tuhan punya
kehendak lain. Nyawa Rico tak dapat di selamatkan.
Tangisan Sasya tak lagi berguna. Kini, takkan ada lagi sosok
yang dengan siaga menjaga senyumannya. Ia tersadar, bahwa ternyata sesungguhnya
ia lebih membutuhkan Rico dibanding Andre. Ia menyadari keegoisannya yang tak
pernah mau melihat pengorbanan Rico. Ia terus menyalahkan kebodohannya, ia
sangat terpukul. Hatinya seperti tersambar petir. Seketika ia tak sadarkan
diri.
Kepergian Rico membuat Sasya sadar bahwa yang ia butuhkan adalah
Rico yang selalu mencintainya. Yang selalu berkorban tulus untuk memperjuangkan
senyumannya.
Melihat jasad Rico yang sudah tak bernyawa di hadapannya, ia
tersenyum. Airmatanya tak mampu mengalir. Ia hampiri tubuh Rico dan
memerhatikan wajah Rico dengan seksama untuk yang terakhir kalinya. Tersadar, ini adalah pertama
kalinya Ia melihat tak ada senyuman di wajah Rico. Biasanya, senyuman selalu
ada, mengukir bibir tipisnya setiap hari. Wajah yang dulu selalu ceria, kini
memucat dan datar. Menghilang. Mata indah Rico yang dulu selalu memandang Sasya
dengan penuh rasa sayang , kini tertutup. Terbalut kapas.
Sasya sangat terpukul. Kehilangan sosok Rico ternyata menjadi hal yang berat dan sulit dilupakan.
Ia mencoba bangkit. Masih ada Andre yang harus ia jaga. Ia tak ingin kehilangan seseorang yang berharga lagi dalam hidupnya.
Dalam bayangan perih kehilangan sosok Rico yang masih membekas. Sasya tegar dan berusaha memfokuskan perhatiannya hanya untuk kesembuhan Andre. Dengan menggunakan uang pemberian Rico, Andre pun dapat melanjutkan kemo-nya.
Banyak hari yang telah Sasya habiskan untuk menemani Andre. Ia berusaha kuat. Meski bayangan Rico masih sangat pekat dan bathinnya masih belum sanggup mengikhlaskan kepergian Rico.
Tapi, itu bukanlah satu-satunya ujian dari Tuhan. Melihat kondisi Andre yang semakin memburuk, membuat Sasya pasrah. Kanker ternyata lebih kuat dibanding Andre. Kemo hanya akan membuat tubuhnya semakin drop.
Ia tak ingin kehilangan Andre juga. Ia tak ingin kehilangan sosok penting dalam hidupnya lagi. Namun, tak ada yang dapat ia lakukan, selain pasrah dan menerima takdir Tuhan.
Akhirnya, Tuhan menunjukkan Keinginannya.
Setelah sekian lama menjalani kemo tanpa hasil. Tuhan mencabut nyawa Andre dan membebaskannya dari rasa sakit.
Sebelum meninggal, Andre sempat berkata bahwa kehadirannya dan Rico adalah sebagai perantara dari Tuhan untuk membuatnya belajar untuk bersabar. Kelak mereka akan bertemu di akhir waktu.
Sasya terpukul. Sangat terpukul. Ia kehilangan dua sosok yang sangat ia cintai. Namun, entah mengapa kehilangan Andre rasanya tak seberat saat kehilangan Rico.
Setelah hari itu. Sasya tak lagi mampu membedakan lagi rasa bahagia dengan kesedihan. Semua sama. Tidak ada lagi kebahagiaan yang tersisa untuknya, yang ada hanya penyesalan dan torehan luka.
Sasya menangis. Mengingat musibah besar yang pernah ia alami. Kehilangan sosok yang ia cintai. Dan melewatkan cinta tulus dari sosok yang mencintainya.
No comments:
Post a Comment