CHOOSE YOUR LANGUAGE

Thursday, 22 January 2015

Yang Terlewatkan



Sasya terdiam. Pandangannya masih tertuju pada rintik hujan di luar jendela yang tak kunjung menandakan reda. Kamarnya sungguh terasa sepi, desir suara air conditioner seakan bernyanyi fasih dalam keheningan kamar Sasya. Ia langkahkan kakinya dengan malas menuju meja belajar untuk mengambil iPod-nya, kemudian menuju tempat tidur dan membalut dirinya dengan selimut yang hangat. Jempolnya mulai merayap ke playlist mp3 mencari lagu kesukaannya untuk diputar dan menemaninya. Sekejap lantunan lagu Things Will Get Better by Agnezmo sudah merayap lembut di gendang telinga Sasya.

Suara lembut Agnezmo membuat tubuhnya semakin berat, sesekali ia gerakkan tubuhnya mencari posisi yang pas untuk menikmati hari itu. Keheningan membawanya pada memori lampau. Ketika ada sosok lelaki yang sangat mencintai dirinya, meski pengabaian Sasya telak menghantam dan melukai perasaan lelaki tersebut. Rico namanya. Sahabat yang sangat mencintai Sasya, Ia selalu tegar dan siaga. Selalu ada kapanpun ketika bibir Sasya tak mampu mengukir senyum dan hadir seperti pahlawan kesiangan yang tak gentar mengembalikan senyuman indah Sasya dengan tingkah konyolnya.

Sasya Tersenyum. Hatinya perih. Ia menghela nafas.

Senyumannya perlahan memudar, mengingat kini tiada lagi Rico di sisinya. Tak ada lagi sosok yang selalu rela terlihat bodoh, demi mengukir senyum di bibirnya. Tak ada lagi sosok yang mengagumi dirinya dan bertahan mencintai tanpa pengakuan; dan status yang jelas.

Kebodohan terbesar Sasya adalah pengabaiannya terhadap Rico. Setelah kepergiannya, Sasya baru sadar bahwa tidak ada lelaki yang mampu mencintainya dengan hormat seperti Rico.

Biasanya, setiap pagi. Rico sudah standby di depan rumah Sasya untuk menjemputnya berangkat ke sekolah. Tutur bahasanya selalu lembut, dapat jelas dirasakan kasih sayang dalam setiap perkataan yang ia lontarkan kepada Sasya. Namun, dulu bukan itu yang Sasya butuhkan. Kriteria untuk menjadi pacarnya adalah Tampan dan Populer.

Kriteria yang ia idam-idamkan ada pada Andre,  pria populer karena ketampanannya di sekolah. Ia juga cukup berprestasi, banyak piala yang telah di dapatinya. Hal itu membuat Sasya lupa dengan sosok Rico. Ia tersesat. Nama Rico seakan terhapus begitu saja, diganti dengan mudah karena pesona Andre. Namun, Rico mengerti. Ia sama sekali tak memiliki daya untuk melarang Sasya menjatuhkan hatinya kepada siapapun. Rasa sakit yang ia rasakan selalu terpendam, tersembunyi rapih di balik senyumannya. Lebih baik ia menahan semua sakit, daripada harus kehilangan Sasya. Sosok wanita kedua yang ia cintai di dunia, setelah Ibunya. Kebahagiaan Sasya adalah kebahagiaannya, meski perih.

Ketika Sasya sibuk mendekatkan diri dengan Andre. Ada sosok Rico, sahabat Sasya yang selalu mendukung hubungan mereka. Meski Sasya tau, bahwa Rico jelas mencintainya. Namun, ia tak mencintai Rico. Hanya ada Andre.

Beberapa bulan kemudian.

Sasya menelpon Rico untuk curhat bahwa dirinya dan Andre telah resmi berstatus pacaran. Mendengar itu, Rico terdiam. Pandangannya tiba-tiba kosong. Rongga hatinya sesak. Nada bicaranya mulai gemetar. Hal itu jelas meremukkan perasaan Rico, tapi ia harus tetap memasang senyum palsu untuk kebahagiaan Sasya yang jelas adalah sumber perih dalam hidupnya.

Andre membuat Sasya lupa dengan Rico, sosok yang sejak SMP selalu setia berada di sampingnya untuk melindungi dirinya dan menjadi obat dalam setiap kesedihannya.

Dengan sabar, Rico menerima dan masih setia mendampingi Sasya yang jelas sudah menjadi milik oranglain. Rico yakin, akan ada saatnya dimana ia akan memiliki Sasya seutuhnya. Semua itu hanya butuh kesabaran. Sifat dan perasaannya sama sekali tak berubah untuk Sasya. Cintanya tetap sama. Rasa sayangnya tetap sama.

Mencintai sosok populer seperti Andre tidaklah mudah. Mungkin tanpa ada kehadiran seorang Rico, Sasya tidak akan sekuat ini. Hubungannya dengan Andre takkan sepanjang ini. Setiap kali Andre membuat Sasya menangis. Disitulah sosok Rico muncul dengan ketenangan dan sikap konyolnya yang selalu punya cara untuk membuat Sasya tersenyum. Ia selalu menjadi pendengar yang baik dan menjadi pundak yang nyaman untuk Sasya bersandar.

Sampai akhirnya. Sasya mendapat kabar bahwa Andre memiliki penyakit leukimia. Ia menggila, tak satu haripun ia lewatkan tanpa bersama Andre. Ia selalu setia mendampingi Andre kemanapun dan dimanapun.

Bebulan-bulan mereka lalui bersama, Sasya adalah wanita yang paling setia mendampingi Andre, bahkan ketika Andre dalam keadaan sakit parah. Hal itu membuat Andre tersadar, bahwa Sasya adalah wanita yang selama ini ia cari. Masa depannya.

Andre semakin mencintai Sasya, begitu juga sebaliknya. Mereka bahagia, meski Andre dalam keadaan sakit parah dan terancam meninggal.

Setiap hari Rico setia mengantar dan menjemput Sasya ke rumah sakit tempat Andre di rawat. Tak jarang juga ia turut menjaga Andre. Pengorbanan Rico tulus, meski tak dapat memiliki Sasya. Namun, Setidaknya ia bisa menjadi sosok penting dalam hidup Sasya. Siapapun dapat merasakan hebatnya pengorbanan tulus Rico untuk Sasya, termaksud Andre.
Namun Sasya dengan sengaja membutakan hatinya untuk Rico, karena ia tak memiliki perasaan apapun kepada Rico, sahabatnya sejak SMP. Berkali-kali pengabaian Sasya telak menghantam perasaan Rico dengan nyata. Namun, Rico tak memerdulikan hal itu. Karena kebahagiaan Sasya adalah juga kebahagiaannya.

Waktu terus bergulir. Kondisi Andre semakin parah. Dokter mengatakan ia harus menjalani kemo, namun pihak keluarga pun menyerah. Keluarga sudah sangat ikhlas jika harus kehilangan Andre. Tapi, tidak dengan Sasya. Ia berusaha keras untuk mendapatkan pinjaman uang untuk biaya pengobatan orang yang ia cintai. Andre.

Di temani Rico, Sasya menjelajah ke segala tempat untuk mencari pinjaman. Semangatnya luar biasa. Ia sangat antusias, hingga tak memerdulikan kondisinya sendiri. Namun, upayanya gagal. Hal itu membuat Sasya terlihat sangat depresi. Ia mulai lupa diri, lepas kendali.

Tentu hal itu membuat Rico sangat terpukul, melihat kesedihan mendalam yang Sasya rasakan.

Hari itu. Rico bergegas mencarikan uang pinjaman untuk menolong Andre. Ia menjual segala yang ia miliki. Ia tak ingin melihat Sasya semakin sedih, ia harus mendapatkan uang untuk pengobatan Andre sesegera mungkin, dan mengembalikan senyuman indah Sasya.

Di tengah kesibukannya. Ia menerima SMS dari Sasya yang isinya adalah pesan bahwa Sasya akan bunuh diri. Rico panik, ia segera melajukan kendaraannya menuju rumah Sasya untuk menenangkan Sasya dan memberikan uang hasil jerih payahnya untuk Andre. Sosok yang dicintai oleh wanita yang ia cintai.

Dalam perjalanan ia sibuk menelpon Sasya, memberikan Sasya nasihat dan melarangnya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang konyol. Perkataannya yang lembut sedikit membuat Sasya tenang, namun percakapan mereka terhenti. Mobil yang dibawa Rico mengalami kecelakaan parah hingga hancur lebur.

Dari ujung telpon. Sasya bingung, mengapa tiba-tiba telpon mereka terputus. Namun, ia tak ingin memikirkan hal itu. Karena pikirannya kini hanya tertuju pada Andre, sosok yang sangat ia cintai.

Sementara dengan keadaan sekarat, tubuh Rico dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Andre untuk mendapatkan pertolongan.

Tak lama, handphone Sasya berdering. Itu adalah panggilan dari Rico. Ia segera mengangkatnya.

Di ujung telephone. Suara lelaki berat memberitahukan bahwa kendaraan Rico telah mengalami kecelakaan parah dan kini Rico dibawa ke rumah sakit PELITA dalam keadaan sekarat.

Sasya terdiam. Airmatanya menetes. Tubuhnya gemetar. Nafasnya sesak.
Hanphone dalam genggamannya terjatuh. Ia tak percaya, baru beberapa menit yang lalu Rico menelponnya dan menasihatinya. Kini Rico telah berada di rumah sakit dalam keadaan sekarat. 

Ia begegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan rico dengan perasaan pilu.

Ia tiba di rumah sakit dalam keadaan berantakan, tak lagi ia pikirkan keadaan dirinya. Kini, ia merasa sangat takut kehilangan Rico. Mataharinya.
Ketika sampai di ruang UGD, dokter memanggil Sasya untuk masuk dan menemui Rico.

Ia menangis sejadi-jadinya saat melihat kondisi Rico yang parah. Kata dokter, sudah tidak ada harapan lagi untuk Rico.

Melihat kehadiran Sasya. Rico mengulurkan tangannya untuk Sasya. 

Dengan segera Sasya menggenggam tangan Rico yang hangat dan berpeluh darah. Dulu, tangan ini selalu sedia merangkul Sasya dan membuat perasaannya membaik, ketika gundah. Ia meluapkan tangisannya. Ia memohon agar Rico bertahan untuk tetap hidup dan menemaninya. Ia memohon kepada dokter agar melakukan apapun untuk menyelamatkan Rico. Tangisannya menderu, memenuhi ruang UGD.

Namun, dokter telah mengupayakan sebaik mungkin. Tuhan punya kehendak lain. Nyawa Rico tak dapat di selamatkan.

Tangisan Sasya tak lagi berguna. Kini, takkan ada lagi sosok yang dengan siaga menjaga senyumannya. Ia tersadar, bahwa ternyata sesungguhnya ia lebih membutuhkan Rico dibanding Andre. Ia menyadari keegoisannya yang tak pernah mau melihat pengorbanan Rico. Ia terus menyalahkan kebodohannya, ia sangat terpukul. Hatinya seperti tersambar petir. Seketika ia tak sadarkan diri.

Kepergian Rico membuat Sasya sadar bahwa yang ia butuhkan adalah Rico yang selalu mencintainya. Yang selalu berkorban tulus untuk memperjuangkan senyumannya.

Melihat jasad Rico yang sudah tak bernyawa di hadapannya, ia tersenyum. Airmatanya tak mampu mengalir. Ia hampiri tubuh Rico dan memerhatikan wajah Rico dengan seksama untuk yang terakhir kalinya. Tersadar, ini adalah pertama kalinya Ia melihat tak ada senyuman di wajah Rico. Biasanya, senyuman selalu ada, mengukir bibir tipisnya setiap hari. Wajah yang dulu selalu ceria, kini memucat dan datar. Menghilang. Mata indah Rico yang dulu selalu memandang Sasya dengan penuh rasa sayang , kini tertutup. Terbalut kapas.
Sasya sangat terpukul. Kehilangan sosok Rico ternyata menjadi hal yang berat dan sulit dilupakan.

Ia mencoba bangkit. Masih ada Andre yang harus ia jaga. Ia tak ingin kehilangan  seseorang yang berharga lagi dalam hidupnya. 

Dalam bayangan perih kehilangan sosok Rico yang masih membekas. Sasya tegar dan berusaha memfokuskan perhatiannya hanya untuk kesembuhan Andre. Dengan menggunakan uang pemberian Rico, Andre pun dapat melanjutkan kemo-nya. 

Banyak hari yang telah Sasya habiskan untuk menemani Andre. Ia berusaha kuat. Meski bayangan Rico masih sangat pekat dan bathinnya masih belum sanggup mengikhlaskan kepergian Rico. 
Tapi, itu bukanlah satu-satunya ujian dari Tuhan. Melihat kondisi Andre yang semakin memburuk, membuat Sasya pasrah. Kanker ternyata lebih kuat dibanding Andre. Kemo hanya akan membuat tubuhnya semakin drop.

Ia tak ingin kehilangan Andre juga. Ia tak ingin kehilangan sosok penting dalam hidupnya lagi. Namun, tak ada yang dapat ia lakukan, selain pasrah dan menerima takdir Tuhan. 

Akhirnya, Tuhan menunjukkan Keinginannya. 
Setelah sekian lama menjalani kemo tanpa hasil. Tuhan mencabut nyawa Andre dan membebaskannya dari rasa sakit. 
Sebelum meninggal, Andre sempat berkata bahwa kehadirannya dan Rico adalah sebagai perantara dari Tuhan untuk membuatnya belajar untuk bersabar. Kelak mereka akan bertemu di akhir waktu.

Sasya terpukul. Sangat terpukul. Ia kehilangan dua sosok yang sangat ia cintai. Namun, entah mengapa kehilangan Andre rasanya tak seberat saat kehilangan Rico.

Setelah hari itu. Sasya tak lagi mampu membedakan lagi rasa bahagia dengan kesedihan. Semua sama. Tidak ada lagi kebahagiaan yang tersisa untuknya, yang ada hanya penyesalan dan torehan luka.

Sasya menangis. Mengingat musibah besar yang pernah ia alami. Kehilangan sosok yang ia cintai. Dan melewatkan cinta tulus dari sosok yang mencintainya.









No comments: