CHOOSE YOUR LANGUAGE

Saturday, 24 January 2015

Apalah arti Menunggu



Aku terenyuh. Menikmati suara lembut vokalis band yang melantunkan lagu I Surrender by Celine Dion, dalam cafe favouriteku di Mall La Piazza, lagu ini memang sangat pas dengan keadaanku saat ini. Suasana cafe yang bertema modern sailor ini sungguh nyaman dengan adanya live music yang cukup menghibur. Ah, ‘Dock 88’ memang selalu menjadi tempat yang asyik untuk nongkrong..

Tak lama. Aku menerima pesan darinya. Aku segera membacanya, “Sya, lo bisa ke rumah gue, sekarang?”

“Ada apa?” balasku singkat.

“Ada sesuatu yang mau gue tunjukin ke elo.”

Aku berpikir sebentar, “lo aja deh yang kesini, gue mager.”

“hm, biasa, lo emang gak peduli,” ucapnya dengan nada putus asa.

“Ya, terus?”

“Motor gue rusak, sya.”

“Oke. Tunggu sebentar,” tanpa pikir panjang, aku segera memutus sambungan telepon.

Aku meninggalkan cafe dan berjalan menuju tempat parkir dengan langkah tergesa-gesa. Mobilku segera melaju, memecah rintik hujan yang saling bergandengan. Kekhawatiranku untuknya sudah mencapai level tertinggi, hingga aku melupakan rasa lelahku demi untuk mengunjunginya.
Kalau kaupikir aku bodoh, aku memang sudah lama bodoh seperti ini. Sejak mengenal dia, mungkin aku tambah bodoh.

Aku mengetuk pintu kosnya. Di balik pintu, sosok yang selalu berantakan itu kini terlihat lebih berantakan dan murung. Biasanya, selalu tersisip senyum manis di wajah berantakan itu. Dan, mata yang biasanya selalu membuatku merasakan ada dunia yang menyenangkan di dalamnya, kini kosong.

Aku duduk di atas tempat tidurmu. Kamu masih berdiri di hadapanku—menunduk. Ada yang aneh, seperti ada kesedihan yang belum berani kamu ungkapkan. Kuraih jemari tanganmu yang semula saling memeluk dalam genggaman, kutatap matamu yang memerah, “Kamu kenapa? Ada apa?”

Tanpa menjawab, kamu segera meraih gitar kesayanganmu. Gitar yang selalu menemanimu saat gundah, “Aku mau nyanyiin lagu buat kamu,” Ujarmu

“Oh, ya? Oke, aku siap dengerin.” Sahutku sambil merapikan posisi dudukku agar berhadapan dengannya.

“I don't ever ask you where you've been
And I don't feel the need to know who you're with
I can't even think straight, but I can tell
That you were just with her
And I'll still be a fool
I'm a fool for you...


I don't ever tell you how I really feel
Cause I can't find the words to say what I mean
And nothing's ever easy, that's what they say
I know I'm not your only
But I'll still be a fool
Cause I'm a fool for you...

Just a little bit of your heart
Just a little bit of your heart
Just a little bit of your heart is all I want
Just a little bit of your heart
Just a little bit of your heart
Just a little bit is all I'm asking for

I know I'm not your only
But at least I'm one
I heard a little love
Is better than none...”

Suaramu terdengar begitu pilu. Menyayat. Meski suaramu tak semerdu Duta, vokalis Sheilla On7. Namun, aku bisa merasakan betul, ada arti di setiap kata dalam lirik lagu "Just A Lil Bit Of Your Heart' milik Ariana Grande yang kau lantunkan di hadapanku. Begitu lirih. Aku merasakan sesuatu yang berbeda, kali ini. Bolehkah aku beranggapan bahwa kamu memiliki perasaan yang lebih terhadapku? Kamu sudah merangkulku, menggandeng tanganku, memelukku, dan tak segan-segan memujiku.

Aku bertepuk tangan. Hatiku bertanya. Apa ini hanya sekedar sebuah lagu, atau terdapat makna dalam lagu ini? Sungguh, kamu memang sulit untuk ditebak.

Kamu terdiam. Tanpa sepatah katapun, kamu segera merengkuh tubuhku, menguncinya dengan pelukan hangat, “ Sya, besok gue harus pergi jauh. Gue dapet beasiswa ke eropa, mungkin sekitar tiga tahun.”

Mendengar hal itu, aku melepaskan pelukannya, “Maksud lo, ton?” tatapanku mulai mencari tahu arti ucapannya barusan di kedua bolamatanya yang memerah.

“Iya, sya,” jawabnya singkat, sambil menghindari tatapanku.

“Lo jahat, ton!” bentakku, sambil menghentakkan kedua tangannya yang masih menempel di bahuku. Aku berlari, berharap semoga dia mengerti maksud tindakanku, dan membatalkan kepergiannya.

Esoknya. Aku mendapat pesan darimu.

“Sya, sorry gue harus pergi. Ini demi mimpi gue, sya, gue harap lo ngerti. Oh, ya, sya. Lo percaya sama yang namanya kebetulan, gak? Kalo gue enggak, gue percaya di dunia ini gak ada yang kebetulan, termaksud pertemuan kita, dulu, di seminar. Gue yakin, Tuhan mempertemukan kita karena satu alasan. dan, kita pasti bertemu lagi, sya.”

Airmataku merayap perlahan di kedua pipiku. Membaca pesanmu, membuatku merasa seperti tersambar petir. Aku sudah terlalu banyak berharap dan bergantung padamu. Dan, entah kenapa, rongga hatiku seperti di penuhi sesuatu. Mungkin takut kehilangan. Iya, takut kehilangan sosok yang selama ini selalu kuharapkan menjadi imam dalam salatku. Aku menggenggam ponselku erat-erat, seakan ada kamu di dalamnya.

Dalam isak tangis yang lirih, aku mulai mengetik pesan balasan untukmu, “Gimana kalo kebetulan itu beneran nyata, dan ada? Gimana kalo kita gak ketemu lagi, ton?”

Tak ada balasan darinya. Mungkin, ponselnya telah offline.

Setelah hari itu, menjalani detik demi detik dalam penantian dan tanda tanya, sungguh tidak mudah. Mengingatmu adalah hal yang pasti kulakukan sebelum tidur dan seusai salatku. Hari-hariku mulai kosong, kamu pergi tanpa sepatah kata dan kepastian. Teringat saat kali pertama kulihat matanya, aku tahu dia akan membawa perubahan dalam hidupku. Sejak itu, aku mengukuhkan diri untuk menjadi sahabatnya, menjadi pendengar yang baik, menjadi segalanya untuk sosok yang sulit kutebak jalan pikirannya itu.

Aku selalu menyempatkan diri untuknya ketika dia mencariku. Aku berusaha sebisa mungkin ada di sampingnya, menepuk bahunya, mengucapkan berbagai macam nasihat. Kami sudah cukup lama dekat, tak banyak orang yang tahu mengenai persahabatan kami. Persahabatan? Aku bahkan tak tahu dia menganggapku apa. Mungkin teman, mungkin juga hanya pendengar dan penonton drama kehidupannya.

Tiga tahun kemudian, besok kamu kembali ke Jakarta. Kabar itu kamu beritahukan melalui pesan singkat yang kamu kirim beberapa menit lalu. Aku membaca pesan singkat itu dengan senang hati. Jujur saja, rasa rindu di dadaku sudah menggunung. Selama ini aku hanya bisa berkomunikasi denganmu via dunia maya. Selama tiga tahun belakangan ini, tanpa kehadiranmu, entah berapa banyak airmata yang terjatuh karena merindukanmu. Saat bertemu nanti, aku sudah bisa membayangkan tatapan teduh dan pelukan hangat itu akan menemaniku lagi.

“Sya, kalo gue udah sampe Jakarta. Gue mau kasih tau lo sesuatu, sebenernya ini udah mau gue omongin dari dulu.”

Pesan singkat darimu, benar-benar membuatku bahagia. Rindu di dadaku sudah benar-benar tak dapat dibendung, “Iya, gue juga kangen banget sama lo.”

“Besok dandan yang cantik ya, sya. Karena bakalan jadi hari penting.”

Aku tersipu membaca pesannya, aku melayang, membayangkan maksud dari ucapannya, “lihat aja besok, ya!”

Esoknya, aku sampai di tempat yang telah kami janjikan untuk bertemu. Pandanganku menyapu sekeliling, mencari sosoknya sambil menarik-narik pakaian dress yang kurasa terlalu memperlihatkan kakiku yang tak terlalu jenjang. Kurapikan langkahku dengan teratur, aku berjalan pelan, rapat dan tidak terburu-buru. Aku lihat sosoknya berdiri di meja dekat jendela yang menghadap langsung ke jalan. Aku berjalan menuju dirinya.


Ia menghampiriku, dan langsung merengkuh tubuhku erat, “sya, gue kangen banget sama lo.” Ia meregangkan pelukannya dan menatapku seksama, “lo makin cantik, ya?” ujarnya dengan penuh kemantapan.

Aku hanya tersenyum canggung. Ada rasa tak percaya, waktu terasa begitu cepat. Kini, aku bisa merasakan rengkuhan dan senyum hangat darimu—sosok yang kucintai.

Tak lama, datang seorang wanita cantik, memegang pundakmu. Kamu menyambut sentuhan tangannya dan membawanya dalam genggamanmu, “hai mah. Lama banget ke toiletnya? Oh, ya, sya. Kenalin, ini Alysa.”

Wanita itu mengulurkan tangan, “Ayah banyak sekali bercerita tentang kamu.”

“Maaf—Ayah?” aku mengangkat alis, tak mengerti.

Kalian saling menatap dengan wajah berseri-seri. Wanita dengan alis sulaman dan pipi berpoles merah muda itu menarik bibirnya yang tipis. “Saya memanggil dia Ayah dan dia memanggil saya Bunda.”

Aku terdiam. Tubuhku lemas seketika. Rasanya ingin kumuntahkan seluruh isi perutku ke wajah mereka yang terlihat bahagia itu. Aku tak tahu harus berbuat apa, seolah mati rasa. Mereka tersenyum senang. Laki-laki yang selalu menjadi sumber tangisku dan selalu kusebut-sebut namanya dalam setiap rapalan doa sesudah salatku kini terlihat begitu bahagia dengan kekasihnya.

Perasaanku bercampur aduk. Aku sudah sangat muak dan ingin secepatnya meninggalkan tempat ini. Namun, aku tetap berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan mereka.

“Gimana menurut lo, sya?” tanyamu sambil terus menggenggam tangan kekasihmu.

Senyumku mengembang “Selera lo emang bagus, ton.” Jawabku sambil terus menutupi sayatan luka darimu.

Laki-laki itu, laki-laki yang kucintai diam-diam, langsung meraih tubuhku, namun satu tangannya tetap menggenggam jemari Alysa, kekasihnya. Aku menyambut peluk itu dengan deras air mata. Air mata yang kuakui di depannya sebagai air mata bahagia.

Dia yang pernah membuatku tertawa kencang adalah dia yang kini membuatku menangis sejadi-jadinya. Penantianku tak berarti, kini butiran air mata yang menetes di setiap detik selama tiga tahun penantianku menanti orang yang paling kucintai, berakhir bersama deras air mata kebahagiaan palsu dalam pelukannya.













No comments: