CHOOSE YOUR LANGUAGE

Wednesday, 21 January 2015

Pendengar Setiamu



Sepulang bertemu dengan klien di daerah arum jeram citarik - sukabumi, ku rebahkan tubuhku sejenak di atas tempat tidurku dan membiarkan hening menyelimutiku dalam penat. Hari ini sudah tidak ada pekerjaan yang harus kukerjakan lagi. Maka, kuputuskan untuk menghabiskan sisa hari ini untuk menulis. Lantas aku bersiap untuk pergi ke lounge point favouriteku yang berhadapan persis dengan danau sunter, tempat ini memang selalu menjadi destinasi pertama saat suntuk melandaku. Motor merahku bergulir perlahan. Semilir angin dingin terasa berhembus di wajahku, hari ini memang cuaca cukup mendung dan rentan hujan. Tak lama. Aku sampai di lounge favouriteku, seperti biasa, langkah kaki pertamaku memasuki lounge itu disambut dengan suara lantang para karyawan yang meneriaki semboyan perusahaannya. Segera kuambil sebuah keranjang dan mulai memburu makanan ringan yang nanti akan menjadi teman setiaku saat menulis. 

Tiba-tiba hujan turun. Aku duduk persis di meja yang menghadap langsung ke arah danau sunter. Tanpa menunggu aku langsung membuka notebook mungilku dan mulai melayangkan jemari-jemariku ke keyboard. Kamu tau? Menulis itu sangat butuh perasaan tenang. Sesekali jemariku berhenti mengetik, kemudian pandanganku menyapu sekeliling, memberi jeda kepada otakku untuk berfikir. Pemandangan sibuknya lalu lintas di sekitar danau saat rintik hujan dan pepohonan yang seakan bergoyang tertiup angin, membuatku terenyuh. 

Kemudian ponselku berdering lantang dan tertera namamu di layarnya. Itu adalah panggilan masuk darimu, tidak biasanya kamu menelponku pada jam segini. Segera kuangkat.

“Halo... tama...” Sapamu dari ujung telpon dengan suara gemetar.

“Iya, ada apa? Tumben nelpon jam segini?” Sahutku.

"Lo bisa ke kost gue, tam?” kamu terdiam, “Nyokap gue meninggal.” Ucapmu lirih.

Aku cukup shock mendengar ucapanmu, namun kucoba untuk tidak terdengar kaget, “Iya, gue segera kesana.”

Aku segera merapikan peralatanku dan menuju tempat parkir. Selang beberapa menit, motorku sudah melaju cepat, membelah jalan yang licin karena hujan. Dalam perjalanan, kekhawatiran menyelimutiku. Bukankah kemarin kamu masih sakit? Keadaanmu bisa tambah parah dengan adanya kabar ini. Entah mengapa, aku selalu menjadi penikmat setia kisah hidupnya, walau dalam drama kehidupannya aku hanya dijadikan sebagai pendengar.

Setibanya di depan pintu kamar kostmu. Aku mengetuk pintu. Kamu membukakan pintu dengan keadaan berantakan, matamu merah, seperti biasa, hanya saja kali ini matamu lebih kosong. Kamu mengayunkan tanganmu tanpa berbicara sebagai tanda mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam kamarmu yang selalu sama dengan dirimu: berantakan.  Pemandangan baju-baju kotor yang berserakan dimana-mana dan kabut asap rokok milikmu itu sungguh sangat familiar dan pasti selalu tersuguh di kamarmu.

Kita duduk berhadapan. Kamu segera memantikkan korek api untuk membakar rokokmu.

“Udah, jangan kebanyakan ngerokok. Mata lo udah merah!” Bentakku jengkel.

Namun, kamu tak mendengarkan ucapanku. Kamu malah menghembuskan asap rokokmu tepat ke wajahku sambil tertawa seperti orang gila. 

Aku terbatuk-batuk. “Kalo lo ngerokok terus, lama-lama lo bisa menyusul ibu lo.” Candaku kesal.

“Ada masalah kalo gw mati duluan?” Dia tertawa, tawa yang dipaksakan, tawa yang bercampur dengan perasaan lain.

Kamu memang tak pandai menyembunyikan perasaan.

“Ya gak apa-apa, sih. Malah bagus, bisa jadi bahan tulisan gw.”

“Penulis sih jomblo. Tiap hari ngegalau di recent update BBM, twitter, blog, sampe pagi. Jago banget nasehatin orang lain, padahal sendirinya masih butuh bantalan curhat.”

Ucapan sialan! Demi Tuhan!

Aku kembali terbatuk-batuk karena asap rokokmu. “Biarin aja. Biarpun gini, banyak loh yang nungguin apdetan gw. Yaudah, mendingan skrg lo siap-siap pulang ke rumah nyokap. Pulang itu selalu menyenangkan, iya kan?”

“Kalo pulang untuk melihat seseorang yang udah pergi, apa masih menyenangkan?”

Aku menunduk. Tak bisa membayangkan rasa sakitnya karena kehilangan sang ibu.
Lagi-lagi kamu menghembuskan asap rokok ke wajahku secara sengaja, sambil tertawa seperti orang gila. Aku tahu kamu sedang berusaha keras untuk menutupi kesedihanmu, terlihat dari keadaanmu yang lebih berantakan dari biasanya.

Beberapa detik setelah itu, kamu mematikan rokok di asbak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, kamu merengkuh tubuhku yang kaku. Kamu memang sudah biasa memelukku di sela-sela ceritamu, tapi pelukan itu karena rasa bahagia,  bukan kesedihan. Pelukanmu kali ini berbeda, terasa pilu.

Tangismu meledak.

Tak pernah kudengar kamu menangis selantang ini. Napasmu tersengal-sengal. Aku tak bisa menghiburmu, hanya mengelus bahumu, berharap sentuhan itu bisa menghilangkan kesedihanmu.

“Gw gak tau harus cerita sama siapa, tam. Lo itu pendengar terbaik,” ucapnya. Kalimat itu kamu ucapkan di sela isak tangis, seperti wirid yang dibisikkan tengah malam, begitu lirih.

Aku memang selalu menjadi pendengar dan penonton yang tak pandai mengeluh. Kapanpun, ceritamu selalu menarik untuk kuketahui, selalu menarik untuk kudengar. Namun, baru kali ini aku mendengarkan kisah sepilu ini, kesedihan sedalam ini pada dirimu.

Meski kamu selalu membuta untukku, nyatanya disini ada sosok aku yang selalu kauandalkan. Sosok yang tak pernah memikirkan hal lain, selain mengejar cita-citanya. Sosok yang selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan kesah keluhmu setiap saat, walau sampai saat ini aku masih belum tau pasti arti diriku untukmu. Kamu adalah semoga yang selalu tersisip dalam setiap rapalan doa setelah salatku, kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu kuandai-andaikan.

Perhatian ini kamu tukar dengan sikap dingin, datar, penuh teka-teki. Aku tau, kamu pasti tau bahwa hanya dirikulah yang sedia mendengarkan tangisanmu dan menampung pilu dalam setiap pelukan hangatmu.
Isak tangismu semakin larut dalam pelukku.

Akupun tak sanggup jika harus membayangkan bila hal itu terjadi kepadaku. Namun, aku tak akan melarangmu menumpahkan kesedihan dalam pelukku. Aku hanya bisa menyuguhkan semangat melalui belaian tanganku, berharap ada magis di setiap belaianku yang mampu menghapus lukamu.

Aku berdoa, semoga amal, ibadah dan perbuatan baik Ibumu diterima oleh Allah SWT. Semoga Ibumu mendapatkan tempat di antara orang-orang yang beriman dan di kasihi Allah. Amin..

Aku akan selalu disini, seperti biasa-menyediakan waktu untuk menyemangatimu. Memopongmu keluar dari kesedihan ini. Meski pada akhirnya, namaku hanyalah berupa penggalan kata yang akan membuatmu tersenyum saat kamu mendengarnya.

No comments: