Sepulang bertemu dengan klien di daerah arum jeram citarik -
sukabumi, ku rebahkan tubuhku sejenak di atas tempat tidurku dan membiarkan
hening menyelimutiku dalam penat. Hari ini sudah tidak ada pekerjaan yang harus
kukerjakan lagi. Maka, kuputuskan untuk menghabiskan sisa hari ini untuk
menulis. Lantas aku bersiap untuk pergi ke lounge point favouriteku yang
berhadapan persis dengan danau sunter, tempat ini memang selalu menjadi
destinasi pertama saat suntuk melandaku. Motor merahku bergulir perlahan. Semilir
angin dingin terasa berhembus di wajahku, hari ini memang cuaca cukup mendung
dan rentan hujan. Tak lama. Aku sampai di lounge favouriteku, seperti biasa,
langkah kaki pertamaku memasuki lounge itu disambut dengan suara lantang para
karyawan yang meneriaki semboyan perusahaannya. Segera kuambil sebuah keranjang
dan mulai memburu makanan ringan yang nanti akan menjadi teman setiaku saat
menulis.
Tiba-tiba hujan turun. Aku duduk persis di meja yang
menghadap langsung ke arah danau sunter. Tanpa menunggu aku langsung membuka
notebook mungilku dan mulai melayangkan jemari-jemariku ke keyboard. Kamu tau?
Menulis itu sangat butuh perasaan tenang. Sesekali jemariku berhenti mengetik,
kemudian pandanganku menyapu sekeliling, memberi jeda kepada otakku untuk
berfikir. Pemandangan sibuknya lalu lintas di sekitar danau saat rintik hujan
dan pepohonan yang seakan bergoyang tertiup angin, membuatku terenyuh.
Kemudian ponselku berdering lantang dan tertera namamu di
layarnya. Itu adalah panggilan masuk darimu, tidak biasanya kamu menelponku
pada jam segini. Segera kuangkat.
“Halo... tama...” Sapamu dari ujung telpon dengan suara
gemetar.
“Iya, ada apa? Tumben nelpon jam segini?” Sahutku.
"Lo bisa ke kost gue, tam?” kamu terdiam, “Nyokap gue
meninggal.” Ucapmu lirih.
Aku cukup shock mendengar ucapanmu, namun kucoba untuk tidak
terdengar kaget, “Iya, gue segera kesana.”
Aku segera merapikan peralatanku dan menuju tempat parkir. Selang
beberapa menit, motorku sudah melaju cepat, membelah jalan yang licin karena
hujan. Dalam perjalanan, kekhawatiran menyelimutiku. Bukankah kemarin kamu
masih sakit? Keadaanmu bisa tambah parah dengan adanya kabar ini. Entah
mengapa, aku selalu menjadi penikmat setia kisah hidupnya, walau dalam drama
kehidupannya aku hanya dijadikan sebagai pendengar.
Setibanya di depan pintu kamar kostmu. Aku mengetuk pintu.
Kamu membukakan pintu dengan keadaan berantakan, matamu merah, seperti biasa,
hanya saja kali ini matamu lebih kosong. Kamu mengayunkan tanganmu tanpa
berbicara sebagai tanda mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam kamarmu yang
selalu sama dengan dirimu: berantakan. Pemandangan baju-baju kotor yang berserakan
dimana-mana dan kabut asap rokok milikmu itu sungguh sangat familiar dan pasti
selalu tersuguh di kamarmu.
Kita duduk berhadapan. Kamu segera memantikkan korek api
untuk membakar rokokmu.
“Udah, jangan kebanyakan ngerokok. Mata lo udah merah!”
Bentakku jengkel.
Namun, kamu tak mendengarkan ucapanku. Kamu malah
menghembuskan asap rokokmu tepat ke wajahku sambil tertawa seperti orang gila.
Aku terbatuk-batuk. “Kalo lo ngerokok terus, lama-lama lo bisa menyusul ibu lo.” Candaku kesal.
“Ada masalah kalo gw mati duluan?” Dia tertawa, tawa yang
dipaksakan, tawa yang bercampur dengan perasaan lain.
Kamu memang tak pandai menyembunyikan perasaan.
“Ya gak apa-apa, sih. Malah bagus, bisa jadi bahan tulisan
gw.”
“Penulis sih jomblo. Tiap hari ngegalau di recent update
BBM, twitter, blog, sampe pagi. Jago banget nasehatin orang lain, padahal
sendirinya masih butuh bantalan curhat.”
Ucapan sialan! Demi Tuhan!
Aku kembali terbatuk-batuk karena asap rokokmu. “Biarin aja.
Biarpun gini, banyak loh yang nungguin apdetan gw. Yaudah, mendingan skrg lo
siap-siap pulang ke rumah nyokap. Pulang itu selalu menyenangkan, iya kan?”
“Kalo pulang untuk melihat seseorang yang udah pergi, apa
masih menyenangkan?”
Aku menunduk. Tak bisa membayangkan rasa sakitnya karena
kehilangan sang ibu.
Lagi-lagi kamu menghembuskan asap rokok ke wajahku secara
sengaja, sambil tertawa seperti orang gila. Aku tahu kamu sedang berusaha keras
untuk menutupi kesedihanmu, terlihat dari keadaanmu yang lebih berantakan dari
biasanya.
Beberapa detik setelah itu, kamu mematikan rokok di asbak.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, kamu merengkuh tubuhku yang kaku. Kamu memang
sudah biasa memelukku di sela-sela ceritamu, tapi pelukan itu karena rasa
bahagia, bukan kesedihan. Pelukanmu kali
ini berbeda, terasa pilu.
Tangismu meledak.
Tak pernah kudengar kamu menangis selantang ini. Napasmu
tersengal-sengal. Aku tak bisa menghiburmu, hanya mengelus bahumu, berharap
sentuhan itu bisa menghilangkan kesedihanmu.
“Gw gak tau harus cerita sama siapa, tam. Lo itu pendengar
terbaik,” ucapnya. Kalimat itu kamu ucapkan di sela isak tangis, seperti wirid
yang dibisikkan tengah malam, begitu lirih.
Aku memang selalu menjadi pendengar dan penonton yang tak
pandai mengeluh. Kapanpun, ceritamu selalu menarik untuk kuketahui, selalu
menarik untuk kudengar. Namun, baru kali ini aku mendengarkan kisah sepilu ini,
kesedihan sedalam ini pada dirimu.
Meski kamu selalu membuta untukku, nyatanya disini ada sosok
aku yang selalu kauandalkan. Sosok yang tak pernah memikirkan hal lain, selain
mengejar cita-citanya. Sosok yang selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan
kesah keluhmu setiap saat, walau sampai saat ini aku masih belum tau pasti arti
diriku untukmu. Kamu adalah semoga yang selalu tersisip dalam setiap rapalan
doa setelah salatku, kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu kuandai-andaikan.
Perhatian ini kamu tukar dengan sikap dingin, datar, penuh
teka-teki. Aku tau, kamu pasti tau bahwa hanya dirikulah yang sedia
mendengarkan tangisanmu dan menampung pilu dalam setiap pelukan hangatmu.
Isak tangismu semakin larut dalam pelukku.
Akupun tak sanggup jika harus membayangkan bila hal itu
terjadi kepadaku. Namun, aku tak akan melarangmu menumpahkan kesedihan dalam
pelukku. Aku hanya bisa menyuguhkan semangat melalui belaian tanganku, berharap
ada magis di setiap belaianku yang mampu menghapus lukamu.
Aku berdoa, semoga amal, ibadah dan perbuatan baik Ibumu
diterima oleh Allah SWT. Semoga Ibumu mendapatkan tempat di antara orang-orang
yang beriman dan di kasihi Allah. Amin..
Aku akan selalu disini, seperti biasa-menyediakan waktu
untuk menyemangatimu. Memopongmu keluar dari kesedihan ini. Meski pada
akhirnya, namaku hanyalah berupa penggalan kata yang akan membuatmu tersenyum
saat kamu mendengarnya.
No comments:
Post a Comment