Pandangan mataku terkunci pada pemandangan nyaman. Pepohonan
yang tidak terlalu tinggi setia berdiri di bahu jalan, cahaya lampu yang tidak
terlalu terang, denyut gelombang ombak kecil danau sunter yang terpapar cahaya
rembulan membuatku sulit mengantuk. Lagu Resentment
dari
Beyonce menemaniku menikmati
pemandangan jalan danau sunter yang selalu nampak indah pada malam hari.
Aku menghela nafas. Segera kehampaan menjajah perasaanku.
Di ujung jalan tampak sebuah plang besar dihiasi lampu yang
menerangi plang itu. Ya. Itu adalah tempat favourite yang selalu ku datangi
saat sedang unmood. Letaknya yang berhadapan dengan danau, membuat minimarket
dan lounge itu terlihat lebih menarik. Segera ku arahkan kendaraanku menuju
tempat parkir.
Dentingan bel pintu toko dan suara pegawai yang meneriaki semboyan
perusahaan mereka, menyambut langkah kaki pertamaku memasuki lounge ini. Ku ambil
sebuah keranjang belanjaan dan segera memburu cemilan yang akan menemaniku
menulis novel yang tak kunjung ku selesaikan. Aku memerhatikan setiap cemilan
yang berjejer di dalam supermarket dan lounge ini dengan seksama.
Setelah selesai
memilih beberapa cemilan, aku mundur beberapa langkah untuk berbalik badan,
namun tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
Tanpa pikir panjang aku segera menunduk “Sorry...sorry... enggak
sengaja,” ucapku tanpa melihat wajah orang yang ada di hadapanku.
Namun, orang yang ku tabrak tadi tak langsung merespon permintaan
maafku. Ia malah berdehem dua kali. “Iya gak apa-apa kok, Dwitama Sasia,” jawab
suaranya lembut, manis, dan memesona.
Mendengar nama lengkapku disebut, aku segera menatapnya. Aku tercengang.
Detak jantungku tiba-tiba melenceng dari ketukan normal. Melihat ‘Kamu’ ada di hadapanku, sosok yang
selalu menjadi inspirasi tulisan-tulisanku. “Eh, e..loo.”
Ia tertawa kecil. “Suka
kesini ya?”
“Iya. Kalo lagi unmood aja.” Jawabku sambil mencoba untuk tetap
tenang.
“Kalo lagi unmood?” kamu mundur
dua langkah dari posisi awalmu untuk memerhatikan wajahku yang masih ku tekuk. “Iya.
Muka lo keliatan murung banget.”
“Ah sok tau lo. Gue Cuma lagi nyari inspirasi aja buat nulis.”
“Hehehe, btw lo duduk dimana?”
“Belum tau sih, baru selesai milih cemilan.” Sahutku sambil
menunjukkan keranjang belanjaanku yang penuh dengan snack dan minuman ringan.
“Oh yaudah, bareng gue aja.”
Aku dan kamu langsung menuju kasir untuk membayar
cemilan yang ku beli, kemudian melangkah menuju tempat dudukmu yang letaknya di
lantai dua.
Malam ini kita habiskan untuk membicarakan banyak hal. Apapun yang
kamu ucapkan sangat menarik. Lekuk senyum yang terukir di bibir tipismu
membuatku terhipnotis. Sesekali ku rasakan kamu berusaha untuk menggenggam
tanganku, membuat suasana malam ini semakin hangat, hingga rasa kantuk enggan
mampir pada kelopak mataku. Sungguh, aku takkan pernah mau menukar moment ini
dengan berlian mahal ataupun benda berharga lainnya.
Tuhan, terimakasih telah memberikan kehangatan untukku malam ini
melalui dirinya. Terimakasih telah mengizinkanku untuk melihat ukiran senyum
indah dari bibirnya. Meski aku tahu, kebahagiaan ini akan sirna dan seakan
terhapus dari memori otaknya bersama terbitnya matahari esok. Meski ku tahu, setelah malam ini akan ku lalui lagi hari-hari panjang dan menyakitkan dengan perasaan rindu yang kuat terhadapnya, sosok yang bahkan tak memerdulikan rasa sakitku karena merindunya.
No comments:
Post a Comment