CHOOSE YOUR LANGUAGE

Thursday, 25 December 2014

Sulastri

Namanya Sulastri, sosok wanita yang sangat mengagungkan cinta dan norma-norma di dalamnya, hingga akhirnya ia terjebak bersama cinta dan maut.

Kisah ini berawal karena cinta yang Sulastri rajut bersama mas Joko, sosok lelaki yang sangat sempurna dimatanya, tak pernah ia temukan sedikitpun kekurangan dalam diri mas Joko.

Hari demi hari mereka lalui bersama. Semakin lama hubungan mereka semakin dekat, bukan hanya sekedar teman, kini mas Joko telah menjanjikan Sulastri sebuah masa depan yang penuh dengan kebahagiaan. Ya, mas Joko berjanji akan menikahinya jika telah memiliki cukup uang. Saat itu Sulastri terlalu memercayainya, angin surga yang mas Joko hembuskan sungguh mampu membuat Sulastri terbuai dan hilang kesadaran.

Selayaknya seekor burung, mas Joko telah mampu menjadi sangkar yang nyaman bagi Sulastri, gadis desa yang belum pernah mengenal cinta. kebahagiaan ini terus berlangsung, hingga akhirnya Ia hamil. Ini adalah hasil hubungannya dengan mas Joko. Awalnya Ia sangat panik dan shock mengetahui kehamilannya, namun akhirnya kekhawatiran ini lenyap, karena ia tau pasti mas Joko akan bahagia jika mengetahui hal ini dan hal ini bisa menjadi alasan untuk mas Joko segera menikahinya.

Malam itu, dalam gulita malam yang pekat, di tengah heningnya perkampungan, Sulastri coba sampaikan berita bahagia ini.

" Mas Joko," Sulastri coba memulai percakapan ini dan berharap semuanya akan berjalan sesuai dengan yang ia inginkan.

" Iya sulastri, ada apa?" Jawab mas Joko singkat, 

Ia berjalan kecil menghampiri mas Joko yang sedang sibuk dengan peralatan bertani miliknya, ia ambil tangan kanan mas Joko dan meletakkannya di atas perutnya, "Mas, aku hamil." Ucap Sulastri dengan wajah penuh harapan.

Mendengar hal itu, mas Joko beranjak dari tempat duduk yang daritadi ia duduki, tangan yang tadi berada di perut Sulastri dengan cepat ia tarik, kedua matanya tersulut ke arah perut Sulastri. Dapat terlihat jelas rasa kaget yang begitu besar, seakan ia tak menginginkan janin ini, buah cinta antara mereka.

 "Kenapa bisa dek? Maaf aku gak bisa bertanggungjawab, karena aku sudah memiliki istri dan anak." Ucap mas Joko sambil memalingkan tubuhnya dari hadapan Sulastri.

Sulastri mematung, mendengar ucapan mas joko barusan yang mencabik-cabik perasaannya. Lenyap sudah semua harapannya untuk hidup bahagia bersama mas Joko dan anak dalam kandungannya, hilang bersama kebohongan yang mas Joko sembunyikan. Tanpa terasa airmata telah membanjir dan merayap di kedua pipi Sulastri, rasa sakit berubah menjadi ego. Bagaimanapun caranya, Sulastri tetap ingin mas Joko menikahinya.

Ia meledak!  “kalo mas joko tidak mau menikahi aku, maka aku akan beritahu semua orang kampung tentang kehamilanku ini, hal ini bisa mencoreng nama baik dan martabat mas joko sekeluarga di mata warga kampung!!”

Mendengar hal itu, mas Joko seperti kehilangan kendali, dia mulai mengepalkan tangannya dan mendaratkannya telak ke wajah Sulastri hingga ia terjatuh. Tak hanya itu, merasa belum puas melihat tubuh mungil Sulastri terjatuh, ia juga membenamkan wajah Sulastri ke kasur dan berkali-kali menghantam kepala gadis desa itu dengan benda keras. Sulastri hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan. Tapi, mas Joko seakan tak mendengarkan, ia seperti bukan mas Joko yang selama ini selalu menyayangi Sulastri.

Setelah melihat tubuh Sulastri tak berdaya bersimbah darah, mas Joko bergegas menuju dapur dan mengambil sebilah parang. Entah setan apa yang telah merasuk ke dalam dirinya, berkali-kali ia layangkan parang tajam itu ke tubuh Sulastri, Teriakan ampun Sulastri yang memohon sama sekali tak ia dengarkan. Penganiayaan itu terus terjadi hingga akhirnya bibir Sulastri berhenti meminta ampun. Hingga akhirnya tubuh mungil Sulastri tak lagi meronta.

Mata Sulastri terbelalak lebar melihat sendiri kematiannya. Detik-detik nafas terakhirnya ia lalui dengan kilas balik memori manis bersama mas Joko, pria pertama yang membuatnya merasa memiliki harapan baru untuk dicinta dan mencintai.
Perlahan nafas sulastri mulai melambat dan menghilang. Tubuhnya terkapar kaku tak berdaya, matanya masih terbelalak lebar, seakan menyimpan dendam dan kesedihan yang mendalam.


Melihat itu, mas Joko gemetar dan menangis sejadi-jadinya. Ia guncang tubuh Sulastri sekuat mungkin, berharap Sulastri bernafas lagi. 


Roh Sulastri melihat jelas Joko membuang jasad Sulastri yang telah ia mutilasi ke dalam sungai. Amarah Sulastri meluap, mengingat balasan mas Joko untuk semua yang telah ia lakukan untuk mas Joko.


Sulastri menjerit, melarang mas Joko yang siap membuang jasadnya ke dalam sungai. Namun, teriakannya tak lagi mampu terdengar oleh telinga manusia. Tersadar bahwa Sulastri kini telah berada di alam yang berbeda, ia murka dan berjanji akan membalas semua perlakuan mas Joko, bagaimanapun caranya.

Sejak saat itu, Roh Sulastri terus mengikuti kemanapun kaki mas Joko melangkah. Saat mas Joko sedang bersama istrinya yang sedang mengandung besar, Sulastri pun ada di tengah-tengah mereka, memandangi kebahagiaan mereka dengan penuh dendam dan amarah. Matanya memerah besar, tangisannya menggema memenuhi alam semesta. Namun tak satupun dapat mendengar atau merasakan kesakitan gadis malang itu.


Perlahan Ia rasuki otak istri mas Joko hingga membenci mas Joko dan membuat rumah tangga mereka berantakan. Istri mas Joko (Ayu) kini tak lagi waras, Sulastri telah merasuki otaknya dan membuat Ia seperti orang gila. Dendam telah merasuki Sulastri sehingga lupa diri.


Mas Joko pun mendapatkan pekerjaan di tempat yang sangat jauh dan mengharuskannya meninggalkan sang istri yang sedang hamil besar sendirian di rumah. Mengingat masa persalinannya sudah tidak lama lagi, Ayu pun mengizinkan suaminya untuk merantau dan mencari uang untuk biaya persalinannya.


Tiga bulan telah berlalu...


Ayu sudah memasuki masa persalinan, ia siap untuk melahirkan hasil buah hatinya tanpa sang suami, mas Joko. Dalam kondisi tubuh yang terus di gelayuti Sulastri, Ayu harus siap menghadapi kematian saat persalinan.  Malam sudah sangat larut, jam menunjukan jam duabelas malam tepat. Perut Ayu terasa sangat melilit, mulas, hingga gemetar dan memicu keringat dingin. Ia tahu ini adalah saatnya Ia melahirkan, namun mas Joko tak ada di rumah, ia masih dalam pekerjaannya di luar kota. Ayu coba berjalan perlahan untuk mencari pertolongan. Langkah kecilnya masih terus berusaha melangkah, ia menopangkan dirinya pada pohon-pohon yang berdiri kokoh, langkahnya semakin berat, seakan tak mampu lagi menahan rasa mulas.


Dalam keadaan perkampungan yang sepi, Ayu hanya dapat mendengar suara jangkrik dan katak yang bersimfoni memecah keheningan malam yang dingin dan mencekam. Sulastri memerhatikan, ia bertengger di atas pohon sambil cekikikan melihat kesengsaraan yang dialami ayu. Bibirnya terbuka lebar, menghiasi wajahnya yang pucat pasih. Sulastri merasa senang melihat kesengsaraan ayu.

Air ketuban bercampur darah telah mengalir mengukir jejak diantara kedua paha Ayu, akhirnya ia menyerah. Ayu merasa tak mampu lagi melangkah, karena rumah warga terdekat, letaknya masih sangat jauh. Ia pasrah. Berteriak dalam tangisan menahan sakit yang luar biasa.


Ditengah ketidakberdayaan Ayu, tiba-tiba Sulastri menampakkan dirinya.

Tubuhnya yang bersimbah darah. Matanya yang berwarna merah, terbelalak lebar, menggambarkan dendam yang telah menguasai hatinya.


“HI..HI..HI..” Teriakannya persis di hadapan ayu.


Melihat itu, Ayu tak henti mengucapkan doa-doa sakral, “kamu siapa?” ucapnya sambil memegangi perutnya.


“Aku Sulastri. Suamimu Joko telah membuatku seperti ini, mengubah hidupku yang seharusnya indah menjadi gelap.” Jawab Sulastri dengan nada menangis dan sesekali tertawa.


Ayu gemetar, menangis dan sangat ketakutan. “Mau apa kamu? Aku tidak punya salah apa-apa.”


“Aku mau nyawamu dan bayi dalam kandunganmu.”


“Tidak! Aku mohon jangan. Ambil saja nyawaku, tapi jangan anak dalam kandunganku. Tolong jangan! Apa salah kami.” Ayu memohon, tak henti menangis, sambil berusaha berdiri dan kabur.


“HAA...HAA...HAA...” Sulastri tiba-tiba menghilang. Hanya suara tawanya yang menggelegar masih terngiang di tempat itu.


Ayu masih gemetar. Pandangannya menyapu ke sekelilingnya. Tak lama, ia tak sadarkan diri. Beruntung saat itu ada seorang kakek yang sedang mencari kayu bakar melintas dan menolong Ayu. Kakek itu membawa Ayu ke rumah dukun beranak, setelah beberapa jam melalui masa persalinan, mas Joko hadir, datang untuk menemani sang istri dan menyambut keturunan mereka datang ke dunia.


Dengan perasaan gelisah mas Joko menunggu detik-detik itu sambil berdoa.


Adzan shubuh telah berkumandang. Ayu pun sudah melahirkan, mereka di karuniai anak perempuan. Mas Joko sangat bahagia melihat istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Lalu dimana Sulastri?


Ia masih ada, merasuk kedalam raga putri mas Joko dan Ayu. Ia bereinkarnasi sebagai anak mas Joko, lelaki yang ia cintai. Tetapi dendam dan amarah masih tergores pekat melukai hatinya.


“Lalu, anak kita mau dikasih nama apa mah?” Tanya mas Joko sambil merangkul istrinya.


Ayu tersenyum memandangi suaminya beberapa detik dan kemudian memalingkan wajahnya memandangi wajah putrinya, “Kita kasih nama SULASTRI, mas.”






 
“Aku Sulastri...

Gadis bodoh yang merasa pintar karenamu...

Gadis kampungan yang merasa spesial karena lembutmu...

Kita pernah saling mencintai, sebelum akhirnya kamu membunuhku. Mengakhiri kisah cinta kita dengan tragis.

Masih ingat saat jemarimu yang dulu hangat, mulai menyiksaku?

Masih ingat saat kedua bolamatamu yang dulu selalu menatapku dengan kasih sayang, berubah menjadi tatapan benci dan penuh amarah.

Masih ingat saat telingamu yang dulu selalu menjadi tempatku mengadu. Menjadi tuli dan mengabaikan jerit kesakitanku.

Aku mencintaimu mas Joko...Dan... kamu membunuhku. Mengakhiri cintaku dengan kematian...dan...dendam.
Aku akan selalu bersamamu, sayang. Sampai saatnya nanti, aku melihat juga kamu menderita...”

No comments: