CHOOSE YOUR LANGUAGE

Thursday, 18 December 2014

Melihat Dengan Kedua Matamu



Berawal dari kecelakaan 5 tahun lalu yang membekaskan luka dan trauma yang mendalam bagiku, ketika takdir mengharuskanku menerima kenyataan yang pahit, yaitu kehilangan penglihatan. Semua itu karena Andre, jika saja waktu itu ia bisa lebih berhati-hati, mungkin musibah ini takkan pernah menimpaku.

Seandainya malam itu aku tak menuruti permintaannya untuk pergi ke acara ulangtahunnya, mungkin saat ini aku masih bisa memandangi wajah orang-orang yang ku sayangi. Aku sudah bilang untuk jangan minum-minuman beralkohol terlalu banyak, namun dengan gaya sok jago, andre mengabaikan nasihatku. Hingga akhirnya motor yang kami tunggangi menghantam lubang,  kemudian menabrak sebuah mobil yang sedang melintas, hingga tubuhku terpental jauh dan menghantam aspal.

Saat itu dapat ku ingat tubuh andre terbaring tepat di samping motornya yang terlihat berantakan dengan bersimbah darah, kemudian pandanganku mulai rabun hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi selanjutnya di malam itu, aku tak tahu.

Tangisan keluarga membuatku sadar, dapat ku rasakan bahwa aku berada di rumah sakit dengan keadaan mata terbalut perban. Segera ku tanyakan keadaan andre kepada siapapun yang berada di dekatku, tanpa memerdulikan keadaanku sendiri. Dokter berkata andre akan segera pulih dan baik-baik saja dalam beberapa hari lagi. Mendengar itu aku merasa sangat lega.

Aku juga menanyakan keadaanku pada dokter tsb, namun tiba-tiba ia terdiam. Meski dengan mata terbalut perban, aku bisa menerka bahwa dokter saat itu sedang merengut, mencari celah untuk melontarkan kabar buruk dari mulutnya. Benar saja, dokter berkata bahwa aku terancam akan kehilangan penglihatanku.

Sontak suasana haru pekat memeluk ruangan saat itu, dapat ku dengar orangtua dan keluargaku menahan tangis, seolah tak ingin membuatku semakin merasa sedih.

Aku terdiam, semua suara dalam ruang UGD sekejap memudar dan hilang, hatiku seperti tersambar petir mendengar hal itu. Ini semua karena andre, karena tindakkan bodohnya. Kini sirnalah sudah semua impianku, karena kini aku cacat. Tak dapat lagi ku lihat wajah cantikku setiap pagi di cermin, tak dapat lagi ku lihat wajah orangtua dan keluargaku. Tak dapat lagi ku lihat indahnya mentari dan bulan purnama. 

Hilanglah semua warna dalam hidupku, andre merubahnya menjadi kegelapan.
Berjam-jam kulalui untuk memikirkan hal ini dan terus mencaci andre.

Satu minggu kulalui hidupku yang sangat berbeda, dengan rasa sakit dan rasa tidak percaya. Aku tau saat ini andre sudah diizinkan dokter untuk pulang ke rumah karena keadaannya sudah pulih 100%, akupun berharap andre datang menemuiku, memeluk dan membuatku merasa lebih tenang, seperti biasa yang ia lakukan saat aku berada dalam masalah.

Benar saja. Saat jam makan siangku, andre datang menemui aku yang sedang menikmati heningnya suasana danau di belakang rumah sakit tempat aku di rawat.

“Dwi...” Sapa andre lembut, memecah keheningan.

Aku tahu, itu adalah suara lembut andre. Namun, aku hanya terdiam.

“Aku tahu kamu marah dan belum siap menerima kenyataan ini. Maafin aku...” Ujarnya

“KAMU FIKIR DENGAN MINTA MAAF BISA KEMBALIIN PENGLIHATAN AKU!? SEKARANG AKU CACAT!!! AKU CACAT NDRE, KARENA KAMU, KARENA KECEROBOHAN KAMU!!!” Teriakku penuh emosi.

Andre hanya terdiam, aku tahu dia pergi setelah mendengar ucapanku tadi.  Menyadari hal itu, aku menangis sejadi-jadinya, menyesali semua pahit yang telah kualami.

Sejak saat itu andre tak lagi mau menemuiku, entah apa alasannya. Tapi, ia sering mengirimkan chocolate dan makanan kesukaanku. Dia memang tahu semua hal yang aku suka dan tidak sukai. Setiap menerima makanan darinya, aku selalu mencaci dirinya, menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpaku.

Beberapa bulan telah berlalu...

Aku sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani terapi di rumah. Meski tak sedikit dokter yang mengatakan bahwa aku tak memiliki kesempatan lagi untuk melihat, kecuali dengan mengoprasi dan mengganti bolamataku. Namun, aku dan keluarga tak pernah menyerah berusaha, terapi apapun ku jalani agar bisa mendapatkan lagi penglihatanku, karena untuk mencari donor mata itu sangatlah sulit dan jikapun ada, pasti aku harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal.

Bulan berganti tahun...

Kini genap satu tahun kulalui hidup dalam gelap, aku sudah sangat putus asa dan siap menerima jika harus selamanya hidup seperti ini. Setidaknya aku masih memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Meskipun andre menghilang begitu saja, sejak hari terakhir kami bertemu di danau waktu itu. Entahlah, mungkin kini ia telah bersama dengan wanita lain yang lebih sempurna dariku.

Namun, datang kabar gembira. Orangtuaku mengatakan bahwa telah ada seseorang yang rela mendonorkan kedua matanya untukku, meski saat ini orang itu sudah meninggal dunia, namun ia telah menyetujui jika kedua matanya di donorkan kepadaku. Mendengar itu aku merasa menjadi manusia yang paling bahagia. Tak hentinya ku ucapkan syukur kepada Tuhan.

Setelah menjalani pemeriksaan, dokter berkata bahwa aku bisa menjalani operasi bulan depan.

“Terimakasih Tuhan, atas kebahagiaan ini. Semoga ia yang mendonorkan kedua matanya untukku mendapatkan tempat yang terindah di sisimu ya Tuhan.” Ucap doa ku panjatkan kepada Tuhan yang maha baik.

Hari demi hari kulalui dengan perasaan senang, hidupku mulai berwarna lagi, semangatku mulai bangkit lagi. 

Takkan pernah ku lupa jasa orang yang rela mendonorkan kedua matanya untukku seumur hidup.
Sampai tiba saatnya aku menjalani operasi.

Perasaanku bercampur aduk, senang dan takut. 

Operasi berjalan selama 3 jam, mereka mungkin berhasil dan mungkin saja tidak. Dokter dan keluargaku siap untuk membuka perbanku dan melihat hasil operasiku. Kemudian mereka membawaku ke dalam ruangan yang hening dan sejuk.

Dokter berdiri di belakangku perlahan membuka balutan demi balutan perban yang membalut kedua mataku, saat sampai di balutan terakhir, mataku terpejam dan siap menunggu aba-aba dari dokter untuk membuka kedua mataku.

Dapat kurasakan ruangan ini di penuhi rasa penasaran.

“Dalam hitungan ketiga kamu buka mata kamu perlahan, jangan paksakan jika terasa sakit.” Ucap dokter di hadapanku sambil berjalan menjauh dan berkata lagi “oke dwi, 1...2...3... sekarang!”

Ku buka kedua kelopak mataku perlahan, satu demi satu lampu di dalam ruangan itu menyala seirama dengan kedua kelopak mataku yang terbuka. Gelap dan rabun berubah menjadi pemandangan yang mengharukan, aku bisa melihat seluruh keluargaku dan dokter berkumpul cemas menanti hasil operasi.

“Mah, pah, adek, kakak, om dan tante...” ujarku sambil menangis terharu karena keajaiban ini.
Keluargaku pun menangis bahagia.

“Ini surat dari pendonor mata kamu.” Ucap dokter lembut, sambil menyerahkan sepucuk surat untukku.
Segera aku membuka isi surat itu dengan penuh rasa ingin tahu.

“Dear Dwi tersayang...
Maaf karena malam itu aku gak dengerin kamu
Untuk gak minum terlalu banyak...
Maaf karena aku menyebabkan musibah yang menyedihkan untukmu.
Ini, ku berikan kedua mataku untukmu. mata yang biasa ku gunakan untuk melihat senyummu
Senyum yang memudar karenaku.
Aku harus pergi, karena masih ada penggumpalan darah dan luka dalam di tubuhku
Sebenarnya aku sangat ingin berada di sampingmu saat ini, tapi Tuhan nampaknya
Sudah sangat merindukanku.
Aku mungkin tak dapat bersama denganmu seumur hidupku yang singkat ini, tapi dengan
Kedua bola mataku yang kini kau gunakan untuk melihat. Setidaknya itu cukup mewakilkan
Rasa rinduku. Kini kamu dan aku sudah menyatu, sayang.”

Airmataku terjatuh deras, ku rasakan lagi, seakan hatiku tersambar petir mendengar kabar ini. Aku mendapatkan lagi penglihatanku dan bahagia. Namun, kehilangan andre yang selama ini selalu membuatku bahagia. Aku merasa sangat bersalah karena telah menghukumnya selama ini, rasanya ini tidak adil untuknya. Harusnya aku bisa menerima semua ini, agar tak kehilangan dia.

Perasaan berasalah terus menghantuiku sampai saat ini, aku menangis dengan kedua bola matamu, menyadari kehilanganmu, ku pandangi foto lama kita dengan kedua bola mata pemberianmu yang menyelamatkan hidupku. terimakasih andre...

No comments: