Berawal dari kecelakaan 5 tahun lalu yang membekaskan luka
dan trauma yang mendalam bagiku, ketika takdir mengharuskanku menerima
kenyataan yang pahit, yaitu kehilangan penglihatan. Semua itu karena Andre,
jika saja waktu itu ia bisa lebih berhati-hati, mungkin musibah ini takkan
pernah menimpaku.
Seandainya malam itu aku tak menuruti permintaannya untuk
pergi ke acara ulangtahunnya, mungkin saat ini aku masih bisa memandangi wajah
orang-orang yang ku sayangi. Aku sudah bilang untuk jangan minum-minuman beralkohol
terlalu banyak, namun dengan gaya sok jago, andre mengabaikan nasihatku. Hingga
akhirnya motor yang kami tunggangi menghantam lubang, kemudian menabrak sebuah mobil yang sedang
melintas, hingga tubuhku terpental jauh dan menghantam aspal.
Saat itu dapat ku ingat tubuh andre terbaring tepat di
samping motornya yang terlihat berantakan dengan bersimbah darah, kemudian
pandanganku mulai rabun hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Entah apa yang
terjadi selanjutnya di malam itu, aku tak tahu.
Tangisan keluarga membuatku sadar, dapat ku rasakan bahwa
aku berada di rumah sakit dengan keadaan mata terbalut perban. Segera ku
tanyakan keadaan andre kepada siapapun yang berada di dekatku, tanpa
memerdulikan keadaanku sendiri. Dokter berkata andre akan segera pulih dan
baik-baik saja dalam beberapa hari lagi. Mendengar itu aku merasa sangat lega.
Aku juga menanyakan keadaanku pada dokter tsb, namun
tiba-tiba ia terdiam. Meski dengan mata terbalut perban, aku bisa menerka bahwa
dokter saat itu sedang merengut, mencari celah untuk melontarkan kabar buruk
dari mulutnya. Benar saja, dokter berkata bahwa aku terancam akan kehilangan
penglihatanku.
Sontak suasana haru pekat memeluk ruangan saat itu, dapat ku
dengar orangtua dan keluargaku menahan tangis, seolah tak ingin membuatku
semakin merasa sedih.
Aku terdiam, semua suara dalam ruang UGD sekejap memudar dan
hilang, hatiku seperti tersambar petir mendengar hal itu. Ini semua karena
andre, karena tindakkan bodohnya. Kini sirnalah sudah semua impianku, karena kini
aku cacat. Tak dapat lagi ku lihat wajah cantikku setiap pagi di cermin, tak
dapat lagi ku lihat wajah orangtua dan keluargaku. Tak dapat lagi ku lihat
indahnya mentari dan bulan purnama.
Hilanglah semua warna dalam hidupku, andre
merubahnya menjadi kegelapan.
Berjam-jam kulalui untuk memikirkan hal ini dan terus
mencaci andre.
Satu minggu kulalui hidupku yang sangat berbeda, dengan rasa
sakit dan rasa tidak percaya. Aku tau saat ini andre sudah diizinkan dokter
untuk pulang ke rumah karena keadaannya sudah pulih 100%, akupun berharap andre
datang menemuiku, memeluk dan membuatku merasa lebih tenang, seperti biasa yang
ia lakukan saat aku berada dalam masalah.
Benar saja. Saat jam makan siangku, andre datang menemui aku
yang sedang menikmati heningnya suasana danau di belakang rumah sakit tempat
aku di rawat.
“Dwi...” Sapa andre lembut, memecah keheningan.
Aku tahu, itu adalah suara lembut andre. Namun, aku hanya
terdiam.
“Aku tahu kamu marah dan belum siap menerima kenyataan ini.
Maafin aku...” Ujarnya
“KAMU FIKIR DENGAN MINTA MAAF BISA KEMBALIIN PENGLIHATAN
AKU!? SEKARANG AKU CACAT!!! AKU CACAT NDRE, KARENA KAMU, KARENA KECEROBOHAN
KAMU!!!” Teriakku penuh emosi.
Andre hanya terdiam, aku tahu dia pergi setelah mendengar
ucapanku tadi. Menyadari hal itu, aku
menangis sejadi-jadinya, menyesali semua pahit yang telah kualami.
Sejak saat itu andre tak lagi mau menemuiku, entah apa
alasannya. Tapi, ia sering mengirimkan chocolate dan makanan kesukaanku. Dia
memang tahu semua hal yang aku suka dan tidak sukai. Setiap menerima makanan
darinya, aku selalu mencaci dirinya, menyalahkan dirinya atas musibah yang
menimpaku.
Beberapa bulan telah berlalu...
Aku sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani terapi di
rumah. Meski tak sedikit dokter yang mengatakan bahwa aku tak memiliki
kesempatan lagi untuk melihat, kecuali dengan mengoprasi dan mengganti
bolamataku. Namun, aku dan keluarga tak pernah menyerah berusaha, terapi apapun
ku jalani agar bisa mendapatkan lagi penglihatanku, karena untuk mencari donor
mata itu sangatlah sulit dan jikapun ada, pasti aku harus membayarnya dengan
harga yang sangat mahal.
Bulan berganti tahun...
Kini genap satu tahun kulalui hidup dalam gelap, aku sudah
sangat putus asa dan siap menerima jika harus selamanya hidup seperti ini. Setidaknya
aku masih memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Meskipun andre menghilang
begitu saja, sejak hari terakhir kami bertemu di danau waktu itu. Entahlah,
mungkin kini ia telah bersama dengan wanita lain yang lebih sempurna dariku.
Namun, datang kabar gembira. Orangtuaku mengatakan bahwa
telah ada seseorang yang rela mendonorkan kedua matanya untukku, meski saat ini
orang itu sudah meninggal dunia, namun ia telah menyetujui jika kedua matanya
di donorkan kepadaku. Mendengar itu aku merasa menjadi manusia yang paling
bahagia. Tak hentinya ku ucapkan syukur kepada Tuhan.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter berkata bahwa aku bisa
menjalani operasi bulan depan.
“Terimakasih Tuhan, atas kebahagiaan ini. Semoga ia yang
mendonorkan kedua matanya untukku mendapatkan tempat yang terindah di sisimu ya
Tuhan.” Ucap doa ku panjatkan kepada Tuhan yang maha baik.
Hari demi hari kulalui dengan perasaan senang, hidupku mulai
berwarna lagi, semangatku mulai bangkit lagi.
Takkan pernah ku lupa jasa orang
yang rela mendonorkan kedua matanya untukku seumur hidup.
Sampai tiba saatnya aku menjalani operasi.
Perasaanku bercampur aduk, senang dan takut.
Operasi berjalan selama 3 jam, mereka mungkin berhasil dan mungkin saja tidak. Dokter dan keluargaku siap untuk membuka perbanku dan melihat hasil operasiku. Kemudian mereka membawaku ke dalam ruangan yang hening dan sejuk.
Operasi berjalan selama 3 jam, mereka mungkin berhasil dan mungkin saja tidak. Dokter dan keluargaku siap untuk membuka perbanku dan melihat hasil operasiku. Kemudian mereka membawaku ke dalam ruangan yang hening dan sejuk.
Dokter berdiri di belakangku perlahan membuka balutan demi
balutan perban yang membalut kedua mataku, saat sampai di balutan terakhir,
mataku terpejam dan siap menunggu aba-aba dari dokter untuk membuka kedua
mataku.
Dapat kurasakan ruangan ini di penuhi rasa penasaran.
“Dalam hitungan ketiga kamu buka mata kamu perlahan, jangan
paksakan jika terasa sakit.” Ucap dokter di hadapanku sambil berjalan menjauh
dan berkata lagi “oke dwi, 1...2...3... sekarang!”
Ku buka kedua kelopak mataku perlahan, satu demi satu lampu
di dalam ruangan itu menyala seirama dengan kedua kelopak mataku yang terbuka.
Gelap dan rabun berubah menjadi pemandangan yang mengharukan, aku bisa melihat
seluruh keluargaku dan dokter berkumpul cemas menanti hasil operasi.
“Mah, pah, adek, kakak, om dan tante...” ujarku sambil
menangis terharu karena keajaiban ini.
Keluargaku pun menangis bahagia.
“Ini surat dari pendonor mata kamu.” Ucap dokter lembut,
sambil menyerahkan sepucuk surat untukku.
Segera aku membuka isi surat itu dengan penuh rasa ingin
tahu.
“Dear
Dwi tersayang...
Maaf karena malam itu aku gak dengerin
kamu
Untuk gak minum terlalu banyak...
Maaf karena aku menyebabkan musibah yang
menyedihkan untukmu.
Ini, ku berikan kedua mataku untukmu.
mata yang biasa ku gunakan untuk melihat senyummu
Senyum yang memudar karenaku.
Aku harus pergi, karena masih ada
penggumpalan darah dan luka dalam di tubuhku
Sebenarnya aku sangat ingin berada di
sampingmu saat ini, tapi Tuhan nampaknya
Sudah sangat merindukanku.
Aku mungkin tak dapat bersama denganmu
seumur hidupku yang singkat ini, tapi dengan
Kedua bola mataku yang kini kau gunakan
untuk melihat. Setidaknya itu cukup mewakilkan
Rasa rinduku. Kini kamu dan aku sudah
menyatu, sayang.”
Airmataku terjatuh deras, ku rasakan lagi, seakan hatiku tersambar
petir mendengar kabar ini. Aku mendapatkan lagi penglihatanku dan bahagia.
Namun, kehilangan andre yang selama ini selalu membuatku bahagia. Aku merasa
sangat bersalah karena telah menghukumnya selama ini, rasanya ini tidak adil
untuknya. Harusnya aku bisa menerima semua ini, agar tak kehilangan dia.
Perasaan berasalah terus menghantuiku sampai saat ini, aku menangis dengan kedua bola matamu, menyadari kehilanganmu, ku pandangi foto lama kita dengan kedua bola mata pemberianmu yang menyelamatkan hidupku. terimakasih andre...
No comments:
Post a Comment