Tempat ini memaksaku untuk kembali mengingatmu, melemparku
kembali ke masalalu, saat kamu dan aku sempat bahagia. Merahnya matahari yang
hampir tenggelam di ujung pandanganku menghiasi ribuan denyut ombak, semilir
angin yang menerpa wajahku lembut membuatku mengingat lagi saat dulu, kala kita
berjalan menyusuri jembatan ini sambil membicarakan kehidupan masing-masing,
saling curhat dan berpendapat.
Bodohnya aku karena menganggap semua itu berarti, menganggap
semua itu adalah peristiwa penting yang sangat membahagiakanku, menganggap
canda tawa kita adalah bentuk lain dari kasih sayang antara kita. Namun nyatanya
itu semua hanyalah anggapan dari sudut pandang kebodohanku, seseorang yang
benar-benar buta soal perasaan ataupun cinta.
Perasaan ini hinggap pada hati yang salah, perasaan ini datang
di kisah yang salah. Ini semua salahku, karena terlalu mudah jatuh di hati yang
salah, terlalu mudah menyerahkan tempat untukmu di hatiku. Hingga semuanya
hilang setelah sekian lama ku yakini bahwa kamulah cinta, mengapa kamu pergi
dan menghancurkan harapan ini?
Tahukah kamu? sampai saat ini nadiku menjerit kesakitan, menunggu dan berharap kamu mengembalikan hati yang kamu bawa pergi jauh bersama janjimu yang tak akan pernah kembali. Rasa sakit dan airmata ini akan terus terbelenggu dalam hatiku, memecah senyumku bersama desir ombak di pantai ini yang menyeret airmataku hingga menetes dan terjatuh di sini, tempat kita memulai kisah tanpa akhir.
Seandainya kamu tau, disini aku berdiri di tempat terakhir kali kita bertemu, menatap jauh kebelakang. Menangisi kebodohanku karena tak mampu menaklukkan waktu dan membuatmu merasakan cintaku.
Dan jika suatu saat kamu kembali dengan cinta yang lebih baik. Maka ingatlah aku, ingatlah puisi tentang diriku yang pernah sangat mencintai kamu dalam gugup. Ingatlah aku yang pernah menjadi pundak saat kamu menangis. Ingatlah aku yang masih terus mencintai kamu, walau dalam mimpi panjang yang menyakitkan.
No comments:
Post a Comment