CHOOSE YOUR LANGUAGE
Thursday, 27 November 2014
Mencintainya Sepanjang Umurku
Angel terbangun pukul 07:00 pagi, beranjak dari tempat tidur dan berdiri depan jendela kamarnya, memerhatikan sibuknya kota Jakarta. Tersadar bahwa hari ini adalah hari penting untuknya, hari pertamanya masuk kuliah, tentunya Angel harus terlihat cantik, karena akan bertemu banyak teman baru. Dia bergegas mandi dan mempersiapka diriku agar terlihat serapih mungkin, selesai mandi, Angel berdiri depan cermin, memandangi bayangannya dan terlihat masih ragu serta tidak percaya diri dengan penampilannya.
Angel adalah anak semata wayang, meski tak dapat berbicara, namun Angel sangat pintar dan cerdas dalam pendidikannya, banyak guru yang memuji prestasi Angel di sekolah karena selalu mendapatkan peringkat pertama. Angel juga memiliki banyak teman, karena ia sangat aktif di sekolah dan sangat mudah membaur dengar lingkungannya.
Saat langkah pertama Angel di kampus, semua nampak biasa saja dan menyenangkan. Ia sangat berharap bisa mendapatkan banyak teman dan pengalaman yang luar biasa di kampusnya. Saat langkahnya terhenti di pintu kelas barunya, ia terdiam, berdoa semoga tidak akan ada kesulitan yang akan ia hadapi selama menjalani pendidikan di sini. Setelah selesai bedoa, ia menuju mejanya, duduk dan melihat sekeliling, banyak sekali mahasiswa ataupun mahasiswi di kelas ini, membuat antusias Angel semakin menggebu.
Semester pertama ia lalui sesuai harapan, Angel mendapatkan nilai terbaik di kelasnya, ia juga cukup aktif dalam kegiatan sosial di kampusnya dan memiliki banyak sekali teman. Meskipun bisu, ia selalu menjadi sosok unggul dalam hal apapun di kampusnya, membuat hal itu tidak menjadi hal yang terlalu membebani psikisnya. Apalagi saat ini Angel sedang dekat dengan cowok dari fakultas teknologi, namanya Andre, anaknya baik, sangat memahami kekurangan Angel dan selalu ada ketika Angel membutuhkannya kapanpun. Tentu Angel sangat mensyukuri kebahagiaannya kala itu, walau tanpa sepatah katapun, tapi rasa syukur Angel kepada Tuhan sungguh sangat jelas terlihat.
Besok adalah hari wisuda untuk Angel dan Andre, mereka sama-sama lulus dengan nilai terbaik di fakultasnya, hal itu juga menandakan tiga tahun kebersamaan mereka yang penuh warna dan kebahagiaan. Mereka sudah sama-sama memiliki tujuan yang jelas untuk kehidupan mereka kedepannya.
Dengan baju toga lengkap, mereka berpegangan tangan, saling menatap penuh kebahagiaan. Angel memulai percakapan dengan mengucapkan selamat kepada Andre atas kelulusannya dengan nilai terbaik, meski tanpa suara, dan menggunakan bahasa isyarat, Andre mengerti dan sangat bahagia mendengarnya, lalu mengucapkan juga selamat untuk Angel.
Ketika acara berakhir, Angel menarik tangan Andre dan berkata
“Apa setelah ini, kita masih akan bertemu?” menggunakan bahasa isyarat dengan wajah murung dan cemas.
“Tentu saja, kita sangat memiliki banyak waktu setelah ini.” Sahut Andre sambil mencium kening Angel.
Memang benar, Andre sangat menepati janjinya. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama dan terlihat seperti sepasang kekasih yang bahagia setelah lulus kuliah. Seiring berjalannya waktu, Andre mengajak Angle untuk ke rumahnya dan akan memperkenalkan gadis spesialnya itu kepada sang Ibu. Mendengar hal tsb Angel terdiam dan menolak, ia berfikir bagaimana jika Ibunya Andre tak menyetujui hubungan mereka, karena Angle bisu. Kemudian Angel pergi meninggalkan Andre sendirian di taman dengan banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya dan bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan semuanya kepada Ibunya, meminta saran terbaik untuk dilakukannya agar hubungannya dengan Andre bisa terus berjalan sampai menikah dan tua. Tentu sang Ibu menyarankan Angle untuk berani menghadapi kenyataan, jangan pernah takut akan kekurangannya. Jikapun setelah bertemu Ibunya Andre, ia tak lagi diperbolehkan berbubungan lagi dengan Andre, berarti itu adalah keputusan Tuhan yang terbaik untuk Angel. Segera Angel mengirim sms untuk Andre dan menyiapkan waktu untuk bertemu dengan Ibunya Andre, meskipun berat, tapi Angel tetap menjalaninya dengan berani dan penuh harapan.
Sangat berat untuk Angel bila harus menjauh dari Andre yang selama ini telah menemaninya, menyayangi dan memperlakukannya dengan spesial, tanpa memandang kekurangan Angel yang sangat menonjol, berat untuknya jika harus pergi dari kenangan yang indah itu.
Angel tiba di rumah Andre dengan penampilan sederhana, duduk gemetar, cemas menunggu Ibu andre yang beberapa menit lagi akan menemuinya. ia terus menggigiti kuku jari tangannya ketika menunggu Ibu Andre menemuinya, kecemasan nampak sangat jelas dari raut wajahnya, melihat itu Andre tau, tersenyum dan mengelus rambutnya sambil berkata
“Hei, its oke. Gak usah cemas, semuanya pasti baik-baik aja, sayang.”
Angel tersenyum dan sedikit tenang.
Di tengah kegelisahannya, Angel di kejutkan dengan suara Ibu andre
“mana gadis yang mau kamu kenalin ke mamah ndre?” sambil menuju ruang tamu rumahnya.
Mendengar itu Andre dan Angel langsung berdiri menyambut ibunya, dengan sopan Angel menunduk dan meraih tangan Ibunya Andre kemudian menciumnya. Melihat hal itu Ibu andre tersenyum dan tau bahwa ini adalah Angel, sebelumnya Andre sudah memberitahu Ibunya bahwa Angel bisu, tidak dapat berbicara, dan memintanya untuk tidak membahas permasalahan ini di hadapan Angel. Beruntung, Ibu Andre adalah sosok yang pengertian, ia juga terlihat sangat menyukai Angel, karena terlihat lugu dan sangat sopan, meskipun memiliki kekurangan.
Malam itu sangat jelas terlihat bahwa Ibu Andre sangat menyetujui anaknya berhubungan dengan Angel, bahkan sempat menyinggung masalah hari pernikahan, karena Ibunya Andre sudah tidak sabar ingin memiliki cucu dari anak lelaki semata wayangnya itu, mendengar itu Angel sempat tak percaya dan merasa sangat bahagia, dapat terlihat dari airmatanya yang mengalir seolah menggambarkan kebahagiaan yang dirasakan oleh Angel.
Setibanya di rumah, ia segera menceritakan yang ia alami malam ini kepada Ibunya dengan sangat bahagia. Mendengar semua cerita Angel, sang ibu pun ikut merasa bahagia dan menyetujui bila kelak Angel akan menikah dengan Andre. Akhirnya Ibu Andre dan Angel bertemu untuk membicarakan pernikahan kedua anak mereka, dengan sangat bahagia mereka mempersiapkan segalanya dengan sempurna untuk pernikahan anak-anaknya.
Hingga tiba saatnya hari pernikahan mereka, dimana mereka sama-sama mengucap janji dan sumpah untuk saling setia, bersama selamanya dalam kondisi apapun. Tentu hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuk siapapun, apalagi angel yang sempat merasa tak akan pernah merasakan kebahagiaan pernikahaan, karena ia cacat, bisu, tidak akan ada lelaki yang ingin menikah dengan gadis sepertinya. Namun tidak dengan Andre, ialah satu-satunya lelaki yang menerima Angel apa adanya, menemani dalam senang ataupun susah dengan kehangatan cinta dan kasih sayang yang sangat tulus.
Namun, itu bukanlah satu-satunya kebahagiaan Angel. Selain memiliki keluarga dan suami yang sangat menyayanginya, Angel kini di karuniai jabang bayi di dalam kandungannya, hal itu membuat Andre sangat sangat bahagia, segera mereka memberitahu semua keluarga atas berita kehamilan Angel, itu menjadi kabar yang sangat menggembirakan untuk kedua keluarga mereka. Selama mengandung, Angel selalu mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sangat berlebih dari Andre, mulai dari pola makan, gaya hidup dan hal-hal terkecil dalam hidup Angel. Entah, harus bagaimana lagi Angel berterimakasih kepada Tuhan, karena memberikannya hidup yang sangat sempurna, setiap malam sebelum tidurnya, Angel selalu menyisipkan waktunya untuk berdoa dan mensyukuri semua kebahagiaan dalam hidupnya kepada Tuhan. Meski tanpa sepatah katapun, namun Angel tahu bahwa Tuhan lah yang paling mengerti dirinya dibanding siapapun.
Sembilan bulan kemudian...
Andre dan seluruh keluarga terlihat berkumpul dan cemas di lorong Rumah Sakit, menanti kelahiran anggota baru di keluarga mereka. Andre mondar-mandir di depan ruang persalinan Angel, kecemasan sangat jelas terlihat dari keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Setelah beberapa jam menunggu, sang Dokter keluar dari ruang persalinan Angel dengan senyum dan menyatakan bahwa Angel telah melahirkan anak perempuan yang sehat dan cantik. Mendengar itu, Andre dan keluarga serentak mengucap syukur dan berlinang airmata, kebahagiaan baru telah muncul di tengah-tengah mereka, melalui rahim Angel.
Segera Andre memasuki ruang persalinan untuk melihat keadaan Angel dan gadis kedua yang ia cintai setelah Angel, putri mereka. Angel terlihat sangat lemas, letih dan tak berdaya sambil memberikan asi pertama untuk putrinya, Angelina. Ya, mereka menamai anak pertama mereka persis dengan nama Ibunya, dan berencana jika anak kedua mereka adalah seorang laki-laki , maka mereka akan menamainya seperti nama Ayahnya.
Angelina tumbuh cepat, sama seperti anak lainnya. Namun, ketika usia Angelina menginjak 3tahun, kedua orangtuanya merasakan kejanggalan, merasakan ada yang aneh dengan anak mereka yang sampai saat ini sama sekali tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Angel terlihat sangat sedih dan takut jika anaknya juga bisu seperti dirinya, akhirnya Andre dan Angel membawa Angelina ke dokter untuk berkonsultasi. Ternyata, dugaan Angel benar, Angelina memiliki kesamaan dengan Ibunya, ia bisu dan tuli. Dokter mengatakan itu jelas, setelah Angelina menjalani beberapa test medikal. Mendengar itu, Andre dan Angel seperti tersambar petir, sangat terpukul. Andre mulai menyesali nama yang ia berikan kepada sang anak yang sama dengan Ibunya.
Sejak saat itu, sifat Andre kepada Angel sangat berbeda. Ia bukan lagi malaikat, ia bukan lagi pelindung, ia mengabaikan Angel begitu saja, menganggap kebisuan putri mereka adalah salah Angel. Merasakan itu, hati Angel sangat terpukul, menyadari malaikatnya kini telah menjauh dan menikam luka ke hatinya dengan sikap, sifat dan perkataannya. Sangat sering Andre mencaci Angel, perempuan bisu, cacat, dan menyalahkan Angel atas kecacatan putri mereka.
Angel tak dapat melakukan apapun selain bertahan, walau perih, setidaknya ia masih memiliki seorang putri yang di karuniai Tuhan untuk membuatnya bahagia, menukar kesedihannya. Sejak saat itu Angel tak lagi bisa melekukkan bibirnya untuk tersenyum karena Andre, surganya kini telah menjadi lubang neraka. Hanya Angelina lah satu-satunya kekuatan untuknya bertahan.
Kini, Andre sudah sangat tak memperhatikan Angel dan putrinya. Entah setan apa yang merasuki hati Andre hingga tega seperti itu. Sudah menjadi hal biasa jika tubuh mungil Angel menerima beberapa hantaman kasar dari tangan Andre yang keras, tak ada lagi yang bisa dilakukan perempuan bisu itu, selain menangis, meratapi semua perubahan suaminya yang begitu cepat dan seperti mimpi. Namun, Angle tetap menjalani kewajibannya sebagai istri dengan sangat baik, walau tanpa ada rasa terimakasih dari suaminya tercinta, Andre.
Neraka itu terus dirasakan Angel, bahkan ketika kehamilannya yang kedua. Tentu saja kehamilannya kali ini tidak seindah kemarin, kali ini Angel menghadapi semuanya sendirian, meski ada Andre, namun Andre sangat tidak memerdulikan kehamilan istrinya. Selama kehamilan keduanya ini, Angel banyak mengalami tekanan, terutama dari Andre, sosok yang sangat ia cintai. Setiap malam, ia habiskan sepertiga malamnya untuk memohon, merenungi, mencurahkan semuanya kepada Tuhan, sambil menangis.
Pagi itu, terdengar bunyi piring pecah yang memenuhi rumah dari ruang makan. Suara itu berasal dari Andre yang sangat murka, karena tak ada sarapan pagi yang disediakan Angel untuknya. Dengan keadaan hamil besar, ia berjalan menghampiri Andre sambil memegangi perutnya yang terlihat sangat bengkak. PLAAAK! Andre mendaratkan tamparannya ke wajah mungil Angel, sambil memaki. Angel terdiam, menangis sambil menuju dapur untuk memasak sesuatu untuk sarapan suami tercintanya. Setelah selesai, Angel ,menata rapih makanan untuk suaminya dan menemani suaminya sarapan hingga berangkat kerja.
Saat Andre hendak memasuki pintu mobil, Angel menarik tangan Andre dan mengisyaratkan bahwa ia merasa sangat mulas, sepertinya sudah saatnya untuk melahirkan. Waktu itu Angel sangat berharap suaminya akan merespon bahagia, seperti dulu. Namun nyata tidak, Andre malah menyuruh Angel untuk menelpon taksi jika sudah merasa ingin melahirkan, karena andre sangat sibuk. Angel merengut sedih sambil mengangguk, menuruti kata-kata suaminya.
Sore itu, Angel melakukan kegiatan seperti biasanya, mencuci piring, membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam keluarganya, namun di tengah kesibukannya, angel merasa sangat mulas dan sakit, ia panik ketika melihat darah kental mengalir di kedua pahanya. Ia meminta putrinya untuk mencarikan taksi untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat.
Sore itu keluarga berkumpul, kecuali Andre. Sudah berulang kali keluarga menelpon andre, mengirim pesan bahwa istrinya sedang sekarat, meregang nyawa untuk menebus nyawa kedua yang akan hadir ke dunia dari rahimnya, namun sama sekali tak ada jawaban. Kali itu tak seperti sebelumnya, Angel mengalami pendarahan hebat, karena depresi dan kekurangan asupan vitamin saat kehamilannya. Karena itu, dokter harus memilih menyelamatkan salah satu dari mereka; Angel atau Anak dalam kandungannya. Ketika dokter beranjak pergi untuk memberitahu keluarga tentang hal ini, tiba-tiba Angel menarik tangan dokter tsb dan memintanya untuk menyelamatkan nyawa anaknya.
Dua jam telah berlalu, dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah pucat. Seluruh keluarga cemas melihat itu, mereka fikir akan kehilangan nyawa bayi dalam kandungan Angel, namun dokter mengatakan hal yang sebaliknya, bahwa bayi lelaki dalam kandungan Angel telah hadir di dunia dengan keadaan selamat dan sehat, tapi tidak dengan Angel.
“Angel menukar nyawanya, ia meminta saya untuk menyelamatkan putranya saat operasi. Kami sudah sangat berusaha untuk menyelamatkan keduanya, namun Tuhan berkata lain.” –kata dokter.
Mendengar ucapan dokter, seketika ruang tunggu di penuhi tangisan dari keluarga Angel dan Andre. Tidak lama Andre datang, entah mengapa saat mendengar semua itu Andre sama sekali tak menangis, isak tangis keluarga dan putrinya, Angelina pun tak dapat menjatuhkan airmatanya saat itu. Aku hanya terdiam, tanpa bisa memikirkan apapun.
Ketika jenazah Angel tiba di rumah, Andre duduk di hadapannya, termangu menatap wajah itu. Ia sadari bahwa baru kali inilah ia benar-benar menatap wajah Angel yang tampak tertidur pulas. Ia dekati wajah Angel dan memandanginya dengan seksama. Saat itu dada Andre menjadi sangat sesak, mengingat apa yang telah Angel berikan padanya selama 10tahun pernikahannya. Andre menyentuh wajah Angel yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak di mata Andre, mengaburkan pandangannya, segera ia mengusap airmatanya agar tak menghalangi pandangan terakhir Andre pada Jenazah Angel, Ia ingin mengingat semua bagian wajah Angel agar kenangan manis tentang istri tercintanya tak berakhir begitu saja. Namun, airmata semakin deras membajiri kedua pipinya. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman Angel tak mampu membuatnya berhenti menangis. Ia berusaha menahan airmatanya, tapi dadanya semakin terasa sesak, mengingat apa yang telah ia perbuat kepada istri tercintanya saat terakhir kali mereka berbicara.
Andre teringat betapa ia tak pernah memperhatikan kesehatan Angel, ia tak pernah mengatur pola makannya. Padahal, Angel selalu mengatur dan memperhatikan apa yang Andre makan, memperhatikan vitamin dan obat yang harus Andre konsumsi agar tidak drop dalam aktivitas Andre yang padat. Angel tak pernah absen meningatkannya untuk makan, bahkan terkadang menyuapi Andre ketika sedang malas makan. Tapi Andre tidak pernah tahu apa yang Angel makan karena ia tak pernah bertanya. Bahkan ia tak tau apa yang disukai dan tidak di sukai Angel. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa istrinya adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dada Andre sesak mendengarnya, karena ia tahu mungkin Angel terpaksa makan mie instant karena ia hampir tak pernah memberikan uang belanja untuk istrinya.
Saat pemakaman, Andre tak mampu lagi menahan diri. Ia pingsan ketika melihat tubuh Angel hilang bersama onggokan tanah yang menimbun.
Hari-hari yang Andre jalani setelah kepergian Angel bukanlah sebuah kebebasan seperti yang selama ini ia inginkan, tetapi ia malah terjebak di dalam keinginan untuk kembali lagi ke masalalu, ketika ia masih dapat menyentuh wajah Angel dengan nyata. Ketika ia duduk terdiam memandangi piring kosong, Ayah dan Ibu mertua Andre membujuknya untuk makan, tetapi yang ia ingat hanyalah saat istrinya membujuknya untuk makan ketika ia sedang capek dengan pekerjaannya. Ketika Andre lupa membawa handuk saat mandi, ia berteriak memanggil nama Angel seperti biasa, tapi kali ini malah ibunya yang datang dan menepis harapannya bahwa Angel lah yang akan datang membawakannya handuk seperti biasanya. Sejak saat itu Andre tersadar bahwa ia telah menyianyiakan anugerah terindah dari Tuhan; Istri yang tak pernah mengeluh, Istri yang tak pernah ia dengar tangisannya, Istri yang tak pernah tidak mematuhi segala perintahnya. Ia menyesali telah ,menyakiti Angel, melukai Angel dan membiarkannya menahan perih sendirian tanpa suara.
Andre terus larut dalam lukanya selama bertahun-tahun, ia menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Angel dalam penyesalan. Namun, Andre tau ia harus bangkit untuk kedua anaknya satu-satunya yang dapat menyembuhkan luka rindu Andre kepada Angel adalah kedua anak mereka, Angelina dan Andre. Ya, sesuai janji, keluarga sepakat memberikan nama Andre (seperti nama ayahnya) kepada anak kedua Angel dan Andre.
Andre tumbuh besar dan persis sekali dengan ayahnya, ia pintar, tampan dan cerdas. Begitu juga dengan Angelina, ia tumbuh besar dan persis sekali dengan ibunya, meski bisu, namun ia sangat mampu menutupi kekurangannya dengan sempurna, sama seperti ibunya. Melihat hal itu, Andre sangat bahagia dan berjanji akan menjaga titipan dari Tuhan melalui rahim angel dengan sangat baik. Meski penyesalan masih terasa membekas di hati dan memorinya.
Ketika kedua anak-nya bertanya tentang sang Ibu, sang ayah hanya menjawab bahwa Ibu mereka adalah perempuan terhebat yang pernah ayah mereka temui, bahkan sampai saat ini sang ayah masih sangat mencintai dan merindukan pelukan ibu mereka; Angel.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment