Esok adalah hari ulangtahun dan tahun kebersamaan kita yang keempat dan akan kulalui denganmu, Rama (sosok yang sangat spesial dalam hidupku). Tiga tahun terakhir aku selalu berharap bahwa kamu akan mengungkapkan perasaanmu padaku, namun nyatanya tidak. Aku tau kamu memang sangat sulit mengungkap kata cinta, dan aku tau bahwa cuma aku yang kamu cintai, terlihat jelas dari sikap dan pengorbananmu selama tiga tahun ini. Tentu aku sangat yakin tahun ini kamu akan memperjelas kenangan dan kedekatan kita, aku juga yakin kamu akan menyatakan perasaanmu dan memintaku menjadi kekasihmu, karena kita sudah sangat cukup melihat kesungguhan masing-masing selama tiga tahun ini. Jelas aku sangat gembira dan ingin mempersiapkan semuanya dengan sangat sempurna. Sore itu aku pergi ke sebuah mall untuk membeli segala sesuatu untuk hari ulangtahunku ditemani adikku, tentu saja saat itu aku sangat ingin kamu bisa menemaniku, beberapakali aku coba menghubungimu, namun tak ada jawaban, ah sudahlah, mungkin kamupun sibuk mempersiapkan sesuatu yang spesial untukku. Hal itu membuatku mengingat lagi hari ultah dan anniv kita tahun lalu, dimana kamu membawaku ke sebuah taman dan berteriak akan selalu ada untukku di hadapan semua orang yang tidak kita kenal. Haha, hal itu membuatku tertawa dan merindukanmu.
Setelah semua beres, semua persiapan sudah kubeli dari mall itu. Dengan membawa banyak belanjaan, aku bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil mobil dan segera pulang dengan rasa bahagia. Namun, apa yang kulihat saat itu? Sebuah mobil jeep hitam dengan nomer polisi yang sangat tidak asing bagiku. Ya, itu adalah mobil milikmu yang parkir tidak jauh dari mobilku. Perasaan penasaran tiba-tiba menyelimutiku, mendorongku perlahan untuk menghampiri mobil itu dan memastikan apakah itu benar mobilmu. Langkah kecilku tertuju pada mobilmu dan tatapanku terkunci mengintrogasi semua sudut mobil jeep hitam milikmu, sesampainya langkah terakhirku persis di depan mobilmu, aku melihat kamu dan sahabatku berciuman, tangan kalian saling menyentuh pipi satu sama lain. Saat itu aku berharap ini hanyalah mimpi, tapi mataku seakan menyadarkanku bahwa ini adalah rasa sakit dan nyata. Inikah jawaban dari tiga tahun penantian dan kesetiaanku? Inikah balasan dari pengabdian hatiku padamu? Aku terdiam, sekejap dadaku terasa sangat sesak dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang membuat airmataku menetes dalam sekejap dan memperjelas lukaku, menatap pengkhianatan dua orang yang sangat kupercaya. Dengan rasa tak percaya, aku berlari ke mobilku dan pergi meninggalkan moment menyakitkan itu sambil terisak. Kamu menyadari aku melihat semuanya, namun kamu tidak mengejarku atau setidaknya memberikan penjelasan logis yang akan mengurangi rasa sakit ini. Kamu seakan lebih memilih bersama sahabatku (Nina).
Dalam perjalanan pulang, airmataku menetes tanpa henti, emosi yang tak terbalaskan, pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban membuat rasa sakit ini menjadi sangat nyata. Berkali-kali Rama mengirim pesan dan menelponku, namun tak ku balas.
Aku berdiri di atas puncak bukit, menunggu jam 12 malam sambil menangis dan mengingat apa yang kualami hari ini. Suasana hening, taburan bintang dan lampu-lampu rumah di hadapanku menemani malam gelapku. Saat jarum jam menunjukkan tepat pukul 12:00 malam, aku menerima banyak sekali pesan dan telpon, pesan pertama yang masuk ke handphoneku adalah pesan dari Rama, dan doa-doa indah darinya. Namun itu tak membuatku bahagia sedikitpun, malah membuatku merasa lebih terluka. Malam itu, kuputuskan untuk melupakanmu dan semua penghianatan yang kamu berikan untukku.
5tahun telah berlalu, masa-masa yang sangat sulit, namun tentu saja aku sudah sangat melupakan kejadian dulu, hidupku saat ini sangat tenang, walaupun terkadang sayatan luka itu masih terasa menyakitkan. Beberapakali sahabatku menghantuiku dan berusaha menjelaskan kejadian 5 tahun lalu. Namun, aku tak ingin mendengarkan, mengapa hanya sahabatku yg menjelaskan, tidak punya nyalikah kamu untuk menjelaskannya sendiri di hadapanku. Saat itu aku sudah sangat melupakannya dan fokus untuk kehidupan pribadiku.
Hari itu sangat cerah, dengan memakai celana jeans dan kaos, aku berjalan menuju gramedia di salahsatu mall. Setibanya di depan gerbang gramedia, aku bertemu Nina (sahabatku), ia menyapaku
"Dwi, apa kabar?"
Tanpa menjawab satu katapun, aku pergi meninggalkannya. Tapi, ia mengejarku, menarik tanganku seolah memaksa dan berkata
"Lo gak bisa ngehindar lagi, ini udah terlalu lama. Lo harus tau semuanya! Sekarang lo ikut gue!!"
Genggaman tangannya terasa sangat erat, terpaksa aku mengikuti langkah kakinya yang membawaku pada sebuah pemakaman. Tentu ini membuatku sangat bertanya-tanya, namun aku terus membungkam mulutku karena rasa benci yang masih sangat jelas tertanam. Setelah beberapa jam perjalanan, langkah kakinya terhenti di sebuah makam yang tertancap batu nissan bertuliskan namamu, nama seseorang yang telah menyakitiku 5tahun lalu, Rama. Aku masih bingung, mataku menyulut ke mata nina, seolah bertanya apa maksud semua ini. Tapi, Nina hanya menunduk,
"Nin, apaan nih maksudnya? Bercandaan lo gak lucu!" Dengan suara bergetar aku membentak sahabatku, berharap semua tidak seperti yang ada di pikiranku,
"Sorry Dwi, gue udah coba kasih tau lo dari 5tahun lalu. Tapi, lo selalu menghindar. Maafin gue, apa yang lo lihat di parkiran 5 tahun lalu itu cuma rekayasa, Rama maksa gue buat ngelakuin ini. Parkiran, letak mobil Rama yang gak jauh dari mobil lo, ciuman itu, semuanya rekayasa yg dikarang Rama, untuk surprise buat lo. Tapi, Tuhan gak izinin dia buat selesaikan surprisenya buat lo, sehari setelah hari itu, gue sama Rama janjian utk ke rumah lo, tapi ada tragedi yg terjadi, mobil yang dibawa Rama kecelakaan dan dia meninggal di tempat." Sambil menangis, Nina menjelaskan semuanya.
Mendengar semua itu, aku langsung tertawa dan meneteskan airmata, aku tak tau harus percaya atau tidak dengan ucapan Nina. Aku menyesali semua sifat dan pikiran jahatku karena hanya memercayai penglihatanku. Lidahku kelu, kaku, terasa bisu, hanya suara tangis dan segukan yang dapat keluar dari mulutku. Seketika awan menjadi gelap bergemuruh, angin dingin menyelimuti sore itu yg seakan ikut larut bersama kesedihanku.
"Ini dia titipin ke gue sebelum meninggal, Rama nulis ini saat detik terakhirnya, dia juga pesen suruh kasih ini ke elo di nafasnya yang terakhir, dia bener-bener minta maaf dan bilang kalo dia sayang banget sama lo." Ucap Nina di sela airmataku, sambil menyerahkan secarik kertas dan kotak kado yang terlihat sangat usang.
Aku segera mengambilnya dan membaca isi surat yang isinya;
"Dear Dwi, selamat ulangtahun ke 20 dan selamat anniv ke empat kedekatan kita. Maaf aku gak bisa ngomong langsung, karena saat ini aku lagi tidur dan rasanya males banget buat bangun dari tempat tidur yang nyaman ini, hehe. Aku juga mau bilang kalo aku sayang banget sama kamu, aku cinta sama kamu, empat tahun terakhir ini aku banyak habiskan waktu untuk melatih keberanianku menyatakan hal ini di hadapanmu langsung, namun keadaan memaksa dan menghalangiku. Aku mau kamu jadi pacar aku, kamu mau kan? Oh ya tragedi kemarin itu adalah rencanaku untuk ngerjain kamu tau. :p pasti kamu kaget ya? Hehehe, maafin aku ya, Nina itu saudara sepupu aku. Sekali lagi aku minta maaf, dan aku punya kado bagus untuk kamu dalem kotak ini. Semoga kamu suka, aku berharap kita bisa bertemu lagi. Jika ada satu kesempatan lagi, aku mau memperbaiki semuanya dan takkan membuatmu menunggu selama ini. Salam cinta, -Rama."
Airmata menghiasi tawaku saat membaca pesan terakhirmu itu. Aku menangis, merasa sangat bodoh karena tak menanyakan semua padamu saat itu, dan aku tertawa karena lega mendengar semua penjelasan darimu walau hanya lewat surat. Seandainya egoku tak terlalu besar, mungkin aku takkan kehilangan kamu. Lekas aku membuka kotak kado usang berwarna merah darimu, aku tersenyum melihat sebuah boneka mickey mouse, bertuliskan "press me" di dadanya, tanpa menunggu aku meremas boneka yang sangat lembut itu dengan tangan gemetar. Airmataku semakin menjadi-jadi mendengar suaramu dari dalam boneka itu berkata
"i love you Dwi, since first time we meet."
Suara itu seakaan membuatku terpental kembali ke masalalu, dimana senyummu masih sangat jelas dapat kulihat, dimana aku masih bisa menyentuhmu dan dimana aku masih ingat rasa bibir manismu. Teringat saat pertamakali jemari kita saling bersentuhan, dan tatapan kita saling mengunci satu sama lain. Segera aku memeluk boneka itu, aku menangis bahagia mengingat semuanya, menyesali kebodohanku yang membawaku pada rasa sakit. Aku mencium nissan makam Rama dan berkata dengan nada bergetar
"Makasih buat surprisenya, aku seneng banget. Kadonya juga bagus, oh ya, aku mau jadi pacar kamu. Aku sayang kamu Ram, aku sayang kamu. Maafin aku! Maafin aku! Semoga kamu tenang disana."
Sesaat kemudian hujan turun, seakan langit ikut menangis melihat rasa sakitku kehilanganmu. Selepas itu, kubalut bayangmu dan rasa penyesalanku yang selalu menemani hari-hariku dengan senyum, mungkin aku akan mampu melupakan kamu, namun tidak saat ini. Biarkan waktu yang mengaturnya, biarkan waktu yang menghapus kenangan indah dan rasa sakitku kehilangan Rama.
No comments:
Post a Comment