Ku tuliskan puisi ini di atas tetesan airmataku, untukmu sahabat yang selalu di hati.
Selamat jalan sahabatku, semoga kamu mendapatkan tempat terindah disisi-NYA.
Jujur sungguh aku tak percaya kamu pergi secepat ini,
Beraninya kamu meninggalkanku dengan rasa sakit, tanpa pamit.
Semilir angin menerpaku, saat menatap wajahmu untuk yang terakhir kalinya,
Terputar kembali dalam benakku memori indah yang terekam saat kita melangkah bersama.
Namun, langkah kita terhenti, kamu memutuskan untuk berjalan kearah lain dan melepas semua beban di dunia, kearah yang sesungguhnya lebih indah.
Saat ini airmataku tak mampu lagi terbendung ketika menatap tubuhmu yang terbujur kaku tak bergeming, dengan mata tertutup rapat, serta bibir yang tersenyum penuh kemenangan.
Masih sangat jelas terdengar takbir dan doa menggema mengiringi jasadmu memasuki tempat tidur terakhir, menuju tempat awal manusia berasal.
Saat ini terbayang wajahmu di benakku, terdengar suaramu di telingaku yang seakan memburuku dan membuatku percaya bahwa kamu ada disini dengan senyumanmu.
Namun, aku tau tak ada gunanya aku menangisi kamu yang sudah tenang dan bahagia disana,
Aku tau airmata takkan membawa kamu kembali kesini, di sisiku, dalam pelukku.
Dengan berakhirnya puisi ini, aku relakan kamu melangkah ke tujuanmu yang sesungguhnya,
Ku berikan doa-doa terbaik untuk bekal yang akan menemani kamu dalam perjalananmu.
Degan berakhirnya puisi ini, ku akhiri juga kesedihanku akan kehilanganmu.
Semoga kamu tenang di sana, di kehidupan yang sesungguhnya.
Aku menyayangimu, sahabat dan kakak terbaikku.
No comments:
Post a Comment