Kisah ini berawal dari tatapan kita di sebuah mall, aku masih ingat betul bagaimana wajah ketakutanmu saat menerima complain dari kakak lelakiku karena barang yang baru saja ia beli darimu rusak. Wajah pucat, gerak tubuh dan ucapanmu yang sangat hati-hati sungguh menarik perhatianku, itu cukup lucu. Aku hanya duduk bersandar, bersantai dengan gadgetku sambil tertawa kecil melihat ekspresi lucumu itu.
Yah, aku mengakui muncul hasrat "ingin memilikimu", namun itu hanyalah fantasi, tidak mungkin cinta muncul secepat ini. Namun tanpa ku sangka, kamu tiba-tiba duduk di sebelahku saat kakakku pergi ke toilet dan kita terlibat percakapan yang cukup nyambung. Saat itu dengan gaya PDKT yang norak dan biasa banget kamu meminta nomer handphoneku, beberapa hari kemudian aku menerima sebuah pesan darimu
"Hei, apakabar? Ini aku."
Aku langsung tau kalau itu kamu dan memang benar-benar menanyakan lowongan pekerjaan di tempatku bekerja, di salah satu department store,
"Oh ya, gimana nih ada lowker gak di tempat kamu kerja?"
"Emmmh nanti gue tanyain dulu ya?"
"Oke, kalo gt kapan kita bisa ketemu? Aku mau kasih lamarannya."
Aku mengiyakan ajakanmu untuk jalan bareng, aku masih ingat manisnya kamu yg sabar menungguku dalam cafe sampai 2 jam. Hahaha, maaf ya buat waktu itu. Jakarta itu macet, gak heran dong.. 😀
"Emh, lo bawa lamarannya gak?" Tanyaku disela-sela perbincangan kita di salah satu cafe di artha gading.
"Oh iya aku lupa, maaf ya. Soalnya buru-buru tadi, gak mau telat." Sahutmu enteng.
"What? Terus buat apa gue capek-capek kesini? Apa jangan-jangan ini cuma modusnya dia aja biar bisa jalan bareng gue?" Aku terus menerka-nerka dalam benakku.
Aku berusaha tetap tenang saat itu, jangan sampai menimbulkan kesan yang jelek di hadapanmu. Hari itu memang menyenangkan, dan ternyata kamu lebih menarik dari kelihatannya, namun tanpa kusadari saat itu aku terjatuh, kamu mendorongku hingga terjatuh dalam kamu dan dirimu.
Semenjak hari itu kita semakin dekat, kita lebih sering bertemu dengan alasan kamu ingin menyerahkan lamaranmu yang tak pernah kamu berikan sampai saat ini, hari demi hari kamu terus mengikatku dan menghipnotisku dengan pesonamu. Semua mulai berbeda, detik-detik hidupku mulai berarti, kamu seperti crayon yang mewarnai hidupku yang sebelumnya hampa seperti kertas putih. Percayalah, setiap hari Kuhabiskan 1/2 malamku untuk memikirkan kamu, dan langit-langit kamar seakan menjadi media yang memutar kembali kenangan kita, hingga akhirnya aku tersenyum dan tersadar untuk kesekian kali; kini aku telah jatuh padamu, lalu aku berdoa semoga kali ini aku tidak jatuh di hati yang salah.
Di setiap pertemuan, di hadapanmu, aku selalu berusaha menutupi perasaan ini, karena akan sangat terdengar konyol jika cinta datang secepat ini. Ya, aku memang benar-benar mahir dalam menyembunyikan perasaan, namun kamu membuat perasaan ini semakin kuat dengan sifat konyolmu, dengan sifatmu yang membuatku merasa spesial di matamu. Entah hanya aku yang Gede Rasa, atau memang kamu menganggapku seseorang yang spesial. Tak ada hari yang ku lewatkan tanpa satu pesanpun darimu, memang tak selalu dengan tema yang jelas, namun itu cukup membuatku bahagia.
Sampai ketika aku mengajakmu untuk liburan bersama kakakku di Kawah Putih, Bandung. Percayalah saat itu aku sangat bahagia dan berharap ini menjadi kenangan yang sangat indah untuk kita. Hahaha, ya itu memang benar, itu menjadi kenangan yang terindah untuk kita.
Masih ingat saat aku, kamu dan kakakku berdiri di pinggir jalan raya untuk mencari taksi kosong, masih ingat dimana kamu membelikan aku permen bertuliskan "kamu spesial" dan memberikannya padaku? Masih ingat ketika dalam perjalanan di taksi kamu terus membuatku tertawa dengat leluconmu, masih ingat canda tawa kita? Saat itu kita sampai ke bus travel jam 11 malam, dan jam 12 malam busnya baru berangkat menuju bandung. Perjalanan selama 3 jam itu sebenarnya sungguh sangat membosankan jika tanpa kamu, selama perjalanan kamu tidak pernah kehabisan cara untuk membuatku tertawa. Sampai akhirnya kita sampai di Patuha Resort, letaknya persis di depan kawah putih, paparan bintang di langit, hening dan dinginnya malam itu takkan terlupakan.
Esok harinya kita pergi menuju kawah putih, tempat ini begitu eksotis, begitu indah. Kita habiskan setengah hari untuk menikmati keindahan tempat itu, ah.. hari itu benar-benar menyenangkan, jika aku memiliki satu kesempatan lagi untuk mengulangnya. Kesenangan kita tidak hanya itu, selama 3 hari di bandung kita banyak bepergian; Trans studio, paris van java, dan lainnya. Hingga akhirnya sampai pada malam itu, malam terakhir perjalanan liburan kita, dengan lancang aku membuka isi pesan di handphonemu, tertera di layar utama handphonemu pesan masuk dari kontak bernama "sayang", aku semakin penasaran, aku ingin tau semuanya dan membaca seluruh pesanmu dengan kontak bernama "sayang". Yap, betul sekali kontak itu adalah kekasihmu, bahkan aku melihat beberapa foto mesra kalian, hahaha.. aku tidak percaya hal ini, mengetahui bahwa kamu telah memiliki hati lain dan bukan aku. Ini menyakitkan, aku seakan terpental jatuh ke dalam jurang, benar-benar sakit hingga tanpa kusadari airmata menetes, menemani perasaan sakit dan serbasalah ini.
"Apa maksud semua ini? Apa arti semua ini? Apa tujuanmu? Ini mau kamu? Atau apakah aku yang terlalu mudah jatuh cinta? Bodoh!" Tanpa henti aku terus mencaci diriku.
Aku tak ingin kamu dan kakakku melihat airmataku, aku tak ingin kamu menyadari bahwa aku telah membuka handphonemu, aku tak ingin kamu mengetahui ini semua. Kemudian aku berlari menghindari rasa sakit dan duduk sendirian di pinggir kolam renang yang persis berhadapan dengan sebuah gunung, suasananya tenang pegunungan, awan yang mendung, namun terlihat beberapa bintang bersinar di atas kepalaku, udara yang sangat dingin saat itu cukup membuatku semakin terluka mengetahui semua ini. Aku terus mencaci diriku yang memang sangat mudah memercayai kamu,
"Ada apa ini? Mengapa terlalu cepat?"
entah kenapa airmataku saat itu sulit sekali untuk terbendung, aku tak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Kamu berhasil membuatku terjatuh dan menghempaskanku dalam luka. Saat itu aku berjanji untuk melupakanmu, melupakan kamu dan semua harapan palsu yang kauberi. Seringkali kamu menanyakan, kenapa tiba-tiba aku berubah dan seakan menjauh darimu, aku samasekali tak memiliki alasan yang jelas untuk itu, karena aku tau ini bukan salahmu, ini salahku yang terlalu mudah mencintai.
Sejak saat itu aku putuskan untuk memendam semua sakit dan perasaanku untukmu, karena aku tak ingin menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dan kekasihmu. Sampai saat ini, kamu dan kenanganmu masih ada disini, tersimpan rapih dalam memoriku, walau menyakitkan, tapi aku selalu sudi untuk mengingatnya. Namun, setidaknya kita masih tetap berdekatan walau tak seperti dan seindah dulu. Tiada lagi kisah indah, karena kutau kamu bukan untukku, kita tak mungkin bersama seperti yang selama ini kumimpikan, namun percayalah aku masih selalu merindukanmu, menyayangimu, mencintaimu dalam diam. Biarlah kini kenangan dan serpihan hati ini yang menemani airmataku hingga habis dayaku untuk selalu mencintaimu. :')
No comments:
Post a Comment