Kita sama-sama saling setia dan yakin kita akan bersama sampai tua nanti, aku merasa sangat beruntung saat itu, aku merasa beruntung dan sangat beruntung memiliki sosok Andri dalam hidupku. Namun, pada tahun ke enam hubungan kami, sesuatu yang tak pernah terfikir dalam benakku sekalipun terjadi, hal buruk meremukkan kisah indah ini.
Awal Desember, tepatnya satu hari sebelum hari pernikahan aku dan Andri, dia menelfonku dan bilang sangat merindukan aku. Aku sangat heran, bagaimana bisa? Kita baru berpisah satu minggu untuk persiapan pernikahan kita, tapi Andri tetap ingin bertemu denganku. Baiklah aku mengizinkannya, walau di adat keluargaku sang pengantin tidak boleh bertemu selama satu minggu sebelum hari pernikahan.
Akhirnya Andri datang dan aku bertemu dengannya, berulang kali dia mengatakan bahwa dia rindu padaku, dia mencintai aku, dia takut kehilangan diriku. Akupun meyakinkannya bahwa aku hanyalah miliknya dan takkan pernah meninggalkannya karena esok adalah hari pernikahan kita. Hari sudah larut, aku segera menyuruh Andri pulang, karena besok persepsi pernikahan akan di mulai jam 8 pagi, aku takut Andri kurang fit esok hari, akhirnya ia pun pulang dengan wajah sedih dan murung.
Entah mengapa perasaanku mulai berkata lain, aku takut terjadi apa-apa padanya. Lalu, aku putuskan untuk menemaninya sampai kerumah, Andri pun nampak senang dan sepanjang jalan kita terus bersenda gurau sambil membicarakan hari besar kami besok. Tanpa sadar Andri telah terlalu cepat mengendarai motornya itu, aku segera memintanya untuk memelankan lahu kendaraannya agar semua baik-baik saja.
Namun Andi mengejekku, dia malah berkata
"Apa kamu benar2 mencintai aku?"
Aku menjawab " iya, sangat!!"
"Oke, aku bakal pelanin motor ini, asal kamu peluk aku dan teriak kalo kamu cinta aku dan gak akan pernah ngelupain aku selamanya!!!" Sahut Andri
Mendengar hal itu aku segera menuruti permintaan konyol-nya itu, tapi motor ini masih saja melaju sangat kencang, aku kembali meminta Andri untuk memelankan kendaraannya, dan kali ini ia menyuruhku untuk mengenakan helm yg sedang ia kenakan, sementara ia sendiri tak mengenakan helm.
Aku semakin geram dan emosi tak ter tahankan, aku mulai memaki Andri bahwa sifatnya ini sangatlah tidak lucu, tapi terlihat dr kaca spion kalau ia hanya tersenyum menanggapi emosiku dan cacianku. Akhirnya ia mulai mendekatkan motornya ke trotoar jalan dan entah apa yg terjadi, Andri mendorongku ke rerumputan dan ia menabrakan diri dan motornya ke pembatas jalan.
Aku tak tau apa yang barusan terjadi, aku melihat tubuh Andri telah tergeletak di jalan dan sama sekali tak bergerak lagi. Aku bergegas menghampiri tubuh Andri yg bersimbah darah, dan berkata;
"Maafin aku sayang, ini bukan mau-ku. Rem motorku blong."
tak ia lepaskan genggamanku, itu membuatku semakin sedih dan tak mampu berbuat apalagi, aku hanya bisa menangis dan berusaha menganggap semua ini hanya mimpi buruk, semua akan baik-baik saja ketika aku bangun nanti.
Namun, polisi mulai berdatangan dan menyadarkan lamunanku bahwa ini bukanlah mimpi, ini adalah akhir dari mimpi yang selama ini telah ku rajut indah bersama Andri, lenyap bersama desember ini. :')
No comments:
Post a Comment