namaku arif, ini adl hari pertamaku di sekolah ini. sebelumnya aku sempat bersekolah di SMPN ternama di kota jakarta, krn ayah sedang ada tugas di luar kota utk beberapa tahun, aku dan ibu trpaksa pindah ke daerah pelosok seperti ini. pertama kali memasuki gerbang sekolah, aku di sambut oleh senyuman seorang gadis berwajah dingin yg sedang berdiri di depan ruang perpus, aku menghampiri gadis itu sambil tersenyum dan bertanya " Hey, aku arif.. mau tanya dong kelas 8-3 dimana ya?? " Kemudian Gadis itu menunjuk sebuah ruangan yg terletak di pojok sekolah.
Melihat itu aku segera bergegas menuju ruangan tsb dan setelah berada didepan ruangan tsb aku baru menyadari bahwa ini bukan sebuah kelas, hmm aku merasa tlah di bohongi oleh gadis tadi, ku lihat sekeliling, ternyata gadis itu sudah tidak ada di tempat tadi. "awas aja tuh perempuan" ujar ku geram di dalam hati.
setelah bertanya kpd seorang guru, akhirnya sampailah aku ke ruang kelas baru ku. " cukup menyebalkan!! " ujar ku dalam hati ketika sepulang sekolah, pukul 19:00, aku berniat untuk menyiapkan buku untuk MAPEL besok. aku duduk di meja belajar ku yg berada tepat di dpn jendela, entah mengapa saat itu pandangan ku seakan di tarik uk melihat keluar jendela, Di luar jendela aku melihat sosok gadis remaja berdiri membelakangi pandangan ku, " Itu kan seragam sekolah ku?" Ujar ku penuh Tanya.
di tengah rasa penasaran ku, gadis itu membalikkan dirinya dan ternyata gadis itu adl orang yg tadi pagi sempat menipu ku di sekolah. diriku seakan terpaku oleh raut wajahnya yang begitu dingin, tiba-tiba PRANGG! bunyi gelas keramik milik ku pecah karena terjatuh. sesaat ku menoleh ke arah gelas itu, dan ketika mlihat ke arah tadi, Gadis itu sudah lenyap seolah menghilang begitu saja.
kejadian malam td sungguh membuat ku bertanya-tanya siapa gadis itu?. jam istirahat, ku putus kan utk mencari gadis itu di kantin skolah dan ternyata upaya ku sia-sia, aku tak dapat menemukan gadis itu di kantin atau di ruangan mana pun yg berada di sekolahan tua ini. saking penasarannya, ku coba bertanya kepada ibu penjaga kantin yg sedang duduk merapihkan sisa dagangannya, ku coba mencari tau tentang gadis itu kpd ibu penjaga kantin, ku ceritakan dgn detail ciri-ciri gadis itu kepadanya.
setelah mendengar ciri-ciri anak itu. ibu kantin ( Bu tiun ) meninggalkan ku tanpa meninggalkan sebuah jawaban untuk pertanyaan ku tadi, seolah tidak senang dengan pertanyaan ku, bu tiun mengusir ku dan menyuruh diri ku untuk melupakan semua tentang gadis itu. hal itu membuat ku berfikir kalau bu tiun mengetahui siapa gadis itu, gadis yg setiap malam selalu ada di luar jendela kamar ku.
perjuangan ku untuk mengetahui siapa gadis itu tak terhenti sampai di situ, ku coba bertanya dengan semua teman-teman sekelas ku dan semua orang yg ada di sekolahku sampai ketika pertanyaan ku terhenti pada pak husni (tukang kebun sekolah), awalnya pak husni bungkam, tetapi karena terus ku paksa akhirnya beliau mau menjelaskan tentang siapa gadis itu.
namanya mira berusia 16 tahun, gadis ini dulu memang pernah bersekolah disini dan menjadi salah satu murid berprestasi di sekolah ini, tetapi menjelang kelulusan sekolah, banyak yg membenci mira karena hamil pada saat itu dan hal ini sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
setiap hari mira selalu mendengar cacian dan hinaan dari siswa maupun guru yang ada di sekolah itu, mereka seakan tak perduli dengan air mata mira, dan ternyata mira adalah anak kandung bu tiun (penjaga kantin di sekolah ini). semakin hari perut mira semakin membesar, Ia dan ibu-nya (bu tiun) tak bisa lagi menutupi tentang kehamilan mira di depan sang ayah, amarah sang ayah tidak bisa di hindari lagi ketika mengetahui putri satu-satunya hamil tanpa suami Ia sangat murka kepada Mira.
malam itu hujan seakan menjadi saksi bisu melihat ke murkaan sang ayah terhadap mira, Berkali-kali mira mendapatkan tamparan dari sang ayah, sang ayah yang teramat murka seakan tak ingat lagi bahwa yg sedang ia hakimi itu adalah ANAK-nya sendiri. mira hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan saat tubuh mungilnya menerima bertubi-tubi pukulan dari sang ayah, se-usai sang ayah meluapkan amarahnya kepada mira, ayahnya mengambil seutas tali untuk mengikat kaki dan tangan mira.
mira terlihat tak berdaya, tubuhnya babak belur, wajahnya di penuhi darah dan terlihat darah segar mengalir diantara kedua belah pahanya. saat melihat hal itu sang ayah berfikir kalau bayi yg ada didalam kandungan mira sudah meninggal, lantas ia mengurung mira di dalam gudang sekolah (karena sang ayah adl penjaga sekolah, maka mereka tinggal disekolah pada saat itu).
mira terlihat sangat sangat tak berdaya saat sang ayah meletakkan tubuhnya di tengah gudang sekolah, tetapi entah setan apa yg telah merasuki sang ayah sehingga sama sekali tak memiliki rasa iba ketika melihat hal itu. esoknya bu tiun coba menyelamatkan sang anak dan berniat untuk membawanya ke klinik.
ia membuka pintu gudang dan menghampri anaknya, saat membalikkan tubuh sang anak ia menangis dan menjerit histeris krn melihat anak gadisnya terbujur kaku tanpa nyawa, sejak kematian mira, banyak murid atau guru yang sering melihat mira di sekitar ruangan gudang itu. pak husni bilang kalau wajah saya ini mirip dengan kekasih mira yg dahulu menghamili mira, sampai saat ini nama Mira masih menjadi kenangan menakutkan di sekolah
No comments:
Post a Comment